
Selesai membereskan kamar dan ruang kerja milik kaka iparnya, Nanney kembali ke kamar untuk membersihkan diri karena merasa gerah dan juga badan yang terasa lengket.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Nanney teringat pada sebuah ponsel miliknya. "Hampir saja aku lupa, ponselku kan waktu itu tidak aku bawa." Gumam Nanney sambil mengingat ketika dirinya menyimpan ponselnya.
Alih-alih dirinya mencoba untuk mengeceknya di dalam lemari. Senyum merekah menghiasi sudut bibirnya, segera ia mengambilnya.
"Baterainya habis, aku harus memberi data untuk ponselku." Ucapnya lirih sambil mengisi daya baterai. Setelah itu, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dengan rasa yang tidak bersemangat, Nanney buru-buru mandi. Takut, jika sewaktu waktu kamar iparnya pulang dan meminta ini dan itu, pikirnya.
Sedangkan di ruang keluarga ada Tuan Hardika bersama putranya yang bernama Vandu yang sedari tadi tengah disibukkan dengan benda pipih nya. Bunda Sere sendiri sedang keluar rumah ditemani Tuan Pras entah kemana perginya.
"Pa, kapan kita pulang?" tanya Vandu yang sudah mulai terasa bosan. Liburan yang disangkanya akan menyenangkan, kenyataannya justru membuatnya bosan. Pasalnya semuanya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, sedangkan Tuan Hardika dan putranya hanya bersantai.
"Bersabarlah, kita tidak lama disini. Papa lakukan semua ini demi masa depan kamu, paham."
"Ya, Pa." Kata Vandu, kemudian ia segera bergegas untuk pindah ke kamarnya karena tidak ada kegiatan untuk menghilangkan kejenuhannya. Cukup lama berada di dalam kamar, tidak terasa waktu pun sudah hampir sore.
Gane yang sedang dalam perjalanan untuk pulang, sedari tadi ia memikirkan sesuatu yang sudah membuat kepalanya semakin terasa pusing. Pelan-pelan, Gane memijat pelipisnya. Berharap tidak ada masalah besar yang akan menambah pikiran untuknya.
"Tuan, kita sudah sampai." Ucap pak Sopir.
Gane tidak menjawab apapun, ia langsung melepaskan sabuk pengamanannya dan turun dari mobil.
Sampainya di dalam kamar, Gane mengamati isi ruangan dari sudut ke sudut yang satunya. Ruangan terlihat rapi dan juga bersih, Gane tersenyum dan melepaskan pakaian kerjanya dan menyisakan celana kolor dan kaos oblong berwarna putih.
__ADS_1
Gane kembali teringat pada sebuah bingkai kecil yang sempat diperhatikan sama Nanney diwaktu tengah membersihkan ruang kamarnya. Gane mendekatinya, kemudian diambil bingkai tersebut. Bingkai kecil yang terdapat foto di masa lalunya bersama perempuan yang menjadi harapannya.
Saat itu juga, Gane merasa sedih serta merasa kehilangan perempuan yang dijadikan dambatan hatinya. Mesti terasa konyol, namun itulah kenyataan atas perasaannya sendiri.
Gane mengusap foto tersebut, kemudian ia menciumnya. "Clara, perempuan sepertimu tidak akan tergantikan. Percayalah, perasaanku tidak akan pernah berubah." Gumam Gane setelah mencium foto yang terbingkai itu, kemudian ia meletakkannya kembali di atas nakas.
Kepala yang sudah terasa penat, Gane memilih untuk berbaring di atas tempat tidurnya. Dilihatnya langit-langit kamarnya sambil mengingat kembali di masa lalunya bersama perempuan yang menjadi dambaan hatinya.
Lambat laun karena terasa ngantuk, akhirnya Gane tertidur pulas. Sedangkan dilain sisi, Nanney tengah sibuk dengan alat dapur bersama beberapa pelayan rumah.
"Nona, biarkan saya saja yang melakukannya. Lebih baik Nona kembali ke kamar, saya takut Nona akan kecapekan." Ucapnya yang merasa tidak enak hati ketika Nanney ikut membantunya untuk meyiapkan malam.
"Kak Nanney," panggil Vandu yang kini sudah berada di dapur. Nanney sendiri kaget dibuatnya.
"Vandu, ada apa?" tanya Nanney sedikit ada rasa takut jika ketahuan kakak iparnya.
"Aku sedang membantu menyiapkan makan malam, memangnya kamu ada perlu apa? katakan saja."
"Aku hanya butuh teman untuk pergi keluar, biasalah Kak, jalan jalan." Kata Vandu dibarengi dengan senyum manisnya.
"Maaf, aku tidak bisa." Jawab Nanney yang tidak berani untuk menerima ajakan dari siapapun. Meski sebenarnya ingin bisa kabur dari rumah milik keluarga suaminya. Namun, Nanney sendiri masih bingung untuk melakukan aksinya.
"Kak Nanney tidak perlu takut, aku yang akan bertanggung jawab semuanya. Lagian juga kita kan, saudara." Ucap Vandu yang terus membujuk, berharap bujukan nya akan diterima oleh Nanney.
"Ya sih, tapi sepertinya aku benar-benar tidak bisa. Lain kali saja ya, nanggung juga sudah sore. Lagi pula sebentar lagi makan malam."
__ADS_1
"Baiklah, besok aku akan mengajak Kak Nanney jalan jalan. Memangnya Kak Nanney tidak bosan, setiap hari di rumah terus."
Nanney yang mendengarkannya pun, hanya bisa tersenyum pada Vandu.
"Sudahlah, aku mau menyelesaikan pekerjaanku di dapur. Lebih baik kamu temani ayah kamu, kasihan sendirian." Kata Nanney, Vandu pun tersenyum serta menganggukkan kepalanya dan pergi dari hadapan Nanney.
Setelah tidak ada Vandu, tiba-tiba Nanney mendapat sikutan dari mbak Lina.
"Nona harus hati hati, Putra Tuan Hardika sangat playboy. Pacarnya saja tidak hanya satu, orangnya pandai menggoda." Ucap mbak Lina setengah berbisik, Nanney hanya tersenyum mendengarkannya.
"Mbak Lina, ada-ada saja. Tenang saja, aku tidak akan berpaling dari suamiku, Mbak." Jawab Nanney.
"Nona, jangan begitu. Kita tidak akan pernah tahu jodoh kita yang selanjutnya. Cinta tetap lah cinta, tapi bukan berarti kita terjebak didalamnya. Nona masih memiliki masa depan yang panjang, tentunya masih punya harapan untuk berumah tangga lagi." Ucap mbak Lina keceplosan, Nanney sendiri hanya bisa diam dan memilih untuk menata beberapa masakan yang siap untuk di tata di atas meja makan.
Mbak Lina yang merasa bersalah atas ucapannya itu, ia segera mendekati Nanney yang sedang menata piring di meja makan.
"Nona, aku minta maaf. Bukan maksud saya untuk menggurui, saya hanya tidak ingin melihat Nona berlarut dalam kesedihan." Ucap mbak Lina merasa sangat bersalah.
Nanney yang juga tidak ingin membuat orang lain salah paham, ia berhenti sejenak saat melakukan pekerjaannya.
"Tidak apa-apa kok, Mbak Lina. Aku hanya belum siap saja, percayalah sama aku. Dan aku minta sama Mbak Lina untuk tidak diambil hati atas sikapku yang tadi." Ucap Nanney menjelaskan.
"Terimakasih banyak, Nona. Saya janji untuk tidak mengulanginya lagi, cukup ini yang terakhir." Kata mbak Lina yang benar-benar sangat bersalah, bahkan penuh penyesalan, pikirnya.
"Sudahlah Mbak, jangan dipikirkan lagi. Disini aku itu hanya sebatang kara, tidak mempunyai siapa siapa selain Mbak Lina dan yang lainnya. Tidak ada perbedaan apapun antara kita, Mbak. Mungkin juga sebentar lagi aku tidak akan tinggal disini, karena aku bukan lagi bagian dari keluarga Huttama. Sekarang ini aku sudah menjadi janda, tidak ada hak atasku untuk tinggal di rumah ini." Ucap Nanney yang sadar akan statusnya yang baru, yakni seorang janda.
__ADS_1
Mbak Lina yang mendengarnya pun, hatinya ikut bersedih ketika Nanney mengatakan statusnya yang baru.
"Nona yang sabar, ya. Saya doakan, semoga Nona Nanney segera ditemukan dengan kebahagiaan." Ucap mbak Lina yang tidak tega melihat nasib buruk yang menimpa pada diri Nanney.