Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Tidak dapat dihubungi


__ADS_3

Mencoba untuk menepis pikiran buruknya, Gane meyakinkan diri sendiri dan juga Ciko untuk kembali fokus dengan pekerjaannya yang sedang dijalaninya.


Saat itu juga, sebuah pesan tengah masuk di ponsel milik Gane. Cepat kilat, Gane segera merogoh ponselnya serta membuka pesan masuk.


Dengan teliti, Gane membacanya dan mencernanya pada setiap kalimatnya.


"Siapa, Bos?" tanya Ciko penasaran. Sedangkan Gane membuang napasnya dengan kasar dan meremat ponselnya itu.


"Bos, ada apa sebenarnya?" Ciko kembali bertanya karena tidak mendapatkan respon dari Gane.


"Markas kita sudah dikepung polisi gabungan, Cik." Jawab Gane dengan hati yang teramat dongkol.


"Apa! kita sudah di kepung? tidak, aku tidak percaya. Ini hanya sebuah lelucon, 'kan? maksudku, kamu mengerjai ku. Jangan mengada-ngada, Bos." Lagi-lagi Ciko seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan dari Gane.


Baru saja dirinya memberi peringatan untuknya, dan kini dirinya yang dikejutkan sendiri dengan kabar yang benar-benar seakan menghentikan detak jantungnya untuk terus berdetak.


Gane yang tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, ia langsung menunjukkan sebuah pesan dari anak buahnya yang menjadi penjagaan ketat untuk dirinya maupun Ciko.


"Apa! jadi, kita benar-benar sudah dikepung?"


"Ya, gunakan strategi kamu. Ingat, kamu harus bisa mengalihkan mereka yang sedang menunggu kita."


"Tapi Bos, ini sangat sulit. Bagaimana kita bisa kabur dan melawan mereka semua? ini sangat mustahil." Kata Ciko yang sudah mulai ketakutan jika dirinya akan masuk dalam sel tahanan.


"Jangan banyak bicara, sekarang kita pikirkan bagaimana caranya untuk melabuhi mereka."


"Bicara memanglah sangat mudah, tapi tidak untuk menjalaninya, Bos. Kita mau lewat pintu mana? pasti semua pintu sudah ada yang mengawasi." Kata Ciko yang benar-benar merasa sulit untuk berpikir jernih.


"Bawah tanah, hanya itu jalan satu satunya." Jawab Gane yang akhirnya menemukan ide yang cukup cemerlang, pikirnya.


"Sembunyikan pistolnya sepintar kamu. Ingat, cara yang sudah pernah aku praktikkan ke kamu, jangan lupa untuk menyelamatkan diri." Ucap Gane memberi sebuah saran untuk Ciko, kemudian memberi arahan untuk beberapa anak buahnya yang ikut berada di dalam gedung.


"Baik, Bos." Jawab Ciko dan dibarengi dengan anak buah yang lainnya.

__ADS_1


"Ingat, aku tidak menjamin kalau kalian semua akan selamat. Yang jelas, aku akan menjamin akan aku bebaskan kalian dari dalam sel tahanan jika kalian tertangkap." Ucap Gane pada beberapa anak buahnya.


"Ya, Bos." Jawab semua dengan serempak.


BRAK!!


Terdengar sangat jelas dobrakan pintunya. Rupanya beberapa pintu masuk tengah didobrak oleh banyaknya anggota Polisi dengan siap siaga dengan alat senjata apinya masing-masing.


Kemudian, beberapa anggota Polisi ada yang mengepung anak buahnya Gane, ada juga yang memeriksa isi didalam gedung tersebut.


Ditemukannya begitu banyak perdagangan jual beli illegal, Polisi pun mengamankan banyaknya barang yang ada didalam gudang persembunyian.


Gane dan Ciko memasang badan dengan saling membelakangi dan memutarkan badannya bak kincir angin untuk memperhatikan banyaknya polisi yang sudah mengepung dirinya.


Ingin berlari sekencang mungkin, itu juga tidak akan bisa untuk dilakukan. Meminta bantuan, itupun mustahil baginya.


"Jangan bergerak!" ucap salah satu anggota Polisi untuk menghentikan gerak gerik dari Gane maupun Ciko yang mencurigakan itu.


"Angkat kedua tangan kalian." Perintah oleh seorang Polisi, keduanya nurut dan mengikuti perintah.


"Bos, ini adalah pilihan yang sangat sulit. Bagaimana ini, Bos? tidak mungkin kita akan lari begitu saja tanpa otak yang bekerja."


"Kau, diam lah. Aku sedang berpikir untuk mencari jalan keluar." Kata Gane yang justru tengah kesal mendengar celotehan dari Ciko, sedangkan dirinya itu tengah sibuk memikirkan sebuah cara untuk lepas dan dapat melarikan diri dengan selamat.


"Ya Bos, ya." Jawab Ciko yang juga berusaha untuk tetap tenang, meski nyawa sudah berada di ujung tanduk.


"Jangan takut, jikalau kita tertangkap, kita masih ada yang bisa untuk dijadikan jembatan kita." Ucap Gane mulai mengecilkan volume suaranya.


"Baiklah, Bos. Setidaknya diantara kita ada yang bisa meloloskan diri jika kita tertangkap." Kata Ciko sambil mencuri posisi yang tepat untuk mengeluarkan sebuah pistol yang sudah disembunyikan entah dibagian mananya.


Pelan-pelan beberapa polisi tengah berjalan mendekati Gane dan Ciko, keduanya tetap nampak tenang dan tidak menunjukkan rasa ketakutannya sama sekali.


DOR!

__ADS_1


Suara hempasan peluru tengah melayang ke atas hingga tembus langit-langit ruangan tersebut karena kekuatan peluru.


Bagaimana jika mengenai bagian tubuh manusia? bahkan bisa masuk kedalam tubuhnya dan tembus kebelakang.


Gane dan Ciko tak gentar ketika mendengar sebuah peluru tengah menembus langit-langit ruangan tersebut. Meski dengan santai ketika menghadapi banyaknya polisi, kedua matanya tetap terus bekerja dan mengamati isi dalam sekitarnya.


"Cepat lepas jaket kalian, sekarang juga." Perintah seorang polisi sambil menodongkan pistolnya, begitu juga dengan anggota yang lainnya ikut menodongkan pistolnya tepat pada kedua tersangka dan melangkah beberapa langkah untuk mendekati Gane dan Ciko.


"Bos, bagaimana ini?" tanya Ciko dengan gelisah.


"Ikutin saja perintahnya, kita tidak perlu takut." Jawab Gane tetap bersikap tenang, seolah bukan dirinya yang melakukan kesalahan tersebut.


Sedangkan di dalam rumah, Nanney mendadak gelisah dan terbangun dari tidurnya secara reflek.


Dengan napasnya yang seperti tengah berlari kencang, Nanney mencoba untuk mengatur pernapasan nya akan kembali stabil.


Diraihnya satu gelas air minum, kemudian ia meminumnya hingga tandas tak tersisa.


"Kenapa aku tiba-tiba menjadi gelisah seperti ini? mungkinkah akan terjadi sesuatu dengan Kak Gane? semoga saja baik-baik saja. Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan nya." Gumam Nanney dengan pikirannya yang mendadak gelisah dan ketakutan.


Dilihatnya jarum jam pada angka jam satu malam, membuat Nanney bingung harus bagaimana. Diraihnya ponsel yang ada di atas nakas, kemudian ia mencari nama kontak suaminya.


"Aku harus menelponnya, aku harus mengetahui keadaannya yang sekarang. Aku benar-benar sangat khawatir jika terjadi sesuatu padanya." Gumamnya dengan gemetaran saat ingin menelpon suaminya.


Karena merasa gusar, Nanney berpindah tempat untuk menghubungi suaminya.


Tut tut tut


Tiba tiba panggilannya terputus, Nanney semakin cemas untuk memikirkannya dan kembali untuk menghubungi nya lagi. Berharap, kali ini mendapatkan jawaban dari suaminya.


"Tidak mungkin, Kak Gane tidak mungkin selingkuh." Gumamnya lagi dengan segala pikirannya yang ada hubungannya dengan suaminya. Bahkan, pikiran yang tidak seharusnya ia pikirkan, kini menghantui pikirannya dan semakin kacau untuk berpikir.


Rasa penasaran yang masih bersemayam di kepalanya, Nanney kembali menghubungi nomor suaminya.

__ADS_1


"Tidak aktif? kenapa tiba-tiba nomornya tidak aktif? oh, tidak. Mungkin sinyalnya, aku harus menjauhi prasangka buruk ku ini."


__ADS_2