Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Sedikit gugup


__ADS_3

Gane yang merasakan sakit pada bagian pinggangnya, ia menyetujui jika sang istri yang akan memijat nya.


Nanney yang tersadar jika yang sedang dihadapinya itu adalah suaminya sendiri, sebisa mungkin agar dirinya untuk tetap tenang. Meski ada rasa gugup sekalipun.


Gane yang begitu cuek, ia langsung melepaskan bajunya tanpa ada rasa malu sekalipun pada istrinya.


"Katanya mau jadi tukang urut, hem."


"Eh ya, maaf." Kata Nanney, kemudian ia meringis.


"Kenapa? malu? tuh, ada kaca mata."


"Dih, siapa juga yang malu."


"Siapa tahu aja." Kata Gane.


"Kak Gane diamlah, mau diurut atau tidak? aku sudah sangat mengantuk, buruan Kakak tiduran sambil tengkurap." Pinta Nanney, sedangkan Gane segera mengganti posisinya seperti yang diminta istrinya.


"Ya ya ya, bawel."


Nanney yang tidak ingin membuang buang waktunya karena rasa kantuk yang sudah tidak dapat ditahan lagi, segera ia memulai untuk memijat pinggang milik suaminya.


Sebelum untuk memulai pemijatan, Nanney menarik napasnya dalm dan membuangnya dengan pelan. Setelah itu, ia mencoba melakukan pemijatan pada bagian pinggang milik suaminya itu.


"Aw!" pekik Gane dengan reflek saat merasakan sakit saat sang istri tengah memijat nya.


"Apa kau sudah gila, ha! benar benar menyiksa ku, kau ini." Ucapnya sambil meringis menahan rasa sakit yang tengah dirasakannya.


"Diamlah, aku sedang mengurut pinggang mu, Kak Gane."


"Kau, berani membentak ku rupanya." Ucapnya Gane dengan geram, tentunya masih menahan rasa sakit yang sedang dirasakannya.


"Aw! sialan, bukannya sembuh, yang ada tambah remuk pinggangku." Pekiknya sambil menggerutu.

__ADS_1


Nanney yang tidak peduli dengan bentakan dari sang suami, ia lebih memilih untuk diam dan terus mengurut pinggang milik suaminya.


'Kalau bukan karena kesalahanku, aku tidak akan pernah sudi untuk memijat nya.' Batinnya sambil mengurut dan tentunya dengan perasaan penuh kesal.


Dengan telaten, Nanney terus memijatnya sampai menurutnya sudah cukup. Sedangkan Gane yang merasa keenakan saat mendapatkan pijatan dari istrinya, entah sejak kapan jika dirinya sudah terlelap dari tidurnya.


Nanney yang merasa sudah cukup untuk memijat pinggang suaminya yang dirasa sakit, ia menyudahinya.


"Kak Gane, bangun. Pemijatan nya sudah selesai, aku mau tidur." Panggil Nanney, namun tidak mendapatkan respon apapun dari suaminya.


"Kak, bangun." Panggil Nanney yang kedua kalinya, tetap saja tidak mendapatkan sahutan dari suaminya hingga lebih dari dua kali memanggil sang suami.


Karena penasaran, akhirnya Nanney membalikkan badan suaminya.


"Dih, tidur. Enak banget ini orang. Dari tadi aku mengurut dia, eee dianya enakan tidur." Gerutu Nanney sambil mengarahkan pandangannya pada sang suami.


Nanney yang merasa dikerjain, akhirnya ia segera ikutan tidur. Namun sebelumnya, Nanney mencuci tangan serta mencuci mukanya agar terasa segar saat hendak tidur.


Gane yang berpura-pura tidur, ia pun membuka sepasang matanya dan tersenyum saat istrinua masuk ke kamar mandi.


Gane yang mendapati sang istri sudah keluar dari kamar mandi, ia kembali berpura-pura untuk memejamkan kedua matanya.


Karena tidak ingin menambahkan masalah, Nanney memilih untuk tidur di sofa. Namun niatnya diurungkan, baginya lebih aman adalah tidur di ruangan yang terpisah.


Saat itu juga, Nanney teringat jika di dalam rumah ada dua kamar. Yakni, kamar suaminya dan Ciko, pikirnya. Pelan pelan, Nanney berjalan untuk keluar dari kamar suaminya.


Gane yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik istrinya yang diam-diam mau keluar dari kamar, ia langsung duduk dan bersandar di kepala ranjang.


"Kau mau kemana?"


Seketika, Nanney mendadak berhenti di dekat pintu. Kemudian, ia menoleh ke belakang.


"Aku mau mengambil air minum, Kak. Aku serius, dan aku tidak berbohong. Tenggorokan ku sangat kering dan terasa sakit, aku takut kena radang tenggorokan." Jawabnya dengan alasan.

__ADS_1


"Jangan lama-lama, cepetan." Ucapnya, Nanney pun menganggukkan kepalanya.


"Ya, Kak Gane ...." Jawabnya dengan suara yang dibuat buat dan segera keluar dari ruangan tersebut.


Sambil berjalan menuju dapur, Nanney menggerutu sepanjang langkah kakinya itu.


"Apa sih maunya itu orang, benar benar membuatku kesal saja. Tinggal tidur juga, apa susahnya. Pakai terbangun dari tidurnya segala, apa maksudnya." Gerutunya sambil membuka kran untuk mengambil air minum.


Setelah mengambil air minum, Nanney terasa malas jika dirinya harus kembali ke kamar suaminya.


Alih-alih Nanney menoleh pada sebuah jam dinding yang menunjukkan waktu yang kini cahaya Matahari telah mulai meredup.


"Tidak seperti yang aku bayangkan tentang hidupku, benar-benar sangat sulit untukku pahami, bahkan aku merasa hidupku ini sangat membosankan. Mau sampai kapan aku akan terus-terusan seperti ini." Ucapnya lirih sambil kembali mengisi gelasnya hingga penuh dah meminumnya lagi.


Pikirannya yang mulai kacau, terkadang membuatnya ingin menjadi wanita yang kuat dan terkadang membuatnya menjadi wanita yang lemah.


"Aku sudah sangat lelah, sungguh benar-benar lelah." Batin Nanney yang berulang kali dirinya meneguk air minumnya hingga tandas entah berapa gelas yang sudah ia minum hingga perutnya terasa kembung.


Gane yang memperhatikan istrinya lewat CCTV melalui ponselnya, ia pun merasakan hal yang sama. Sama-sama yang terkadang sangat membencinya dan terkadang juga merasa kasihan ketika melihat sang istri tengah bersedih. Bimbang, antara benci dan kasihan. Satu sisi, ia merasa begitu berat kehilangan seorang adik yang benar-benar ia sayangi setelah kepergian kedua orang tuanya.


Nanney yang merasa sudah tidak kuat untuk meneguk air minum, ia memilih untuk tidur di sembarang tempat dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya di atas meja makan.


Gane yang sedari tadi memperhatikan sang istri lewat ponselnya, ia segera keluar dari kamar dan mengajak istrinya masuk ke kamar untuk beristirahat.


"Mau sampai kapan kamu akan tidur di ruang makan? ayo masuk ke kamar."


"Tidak perlu, aku lebih nyaman tidur disini. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang ketiga kalinya karena kecerobohan ku. Pergilah dari hadapanku, aku sendiri ingin tidur nyenyak." Jawabnya dengan posisi yang sama, yakni menyandarkan kepalanya di meja makan.


Gane yang tidak dapat membujuk istrinya, ia duduk disebelah nya.


"Baiklah, sebagai gantinya karena kamu sudah memijat pinggangku hingga terasa mendingan, maka aku akan menemanimu tidur disini." Kata Gane yang tetap bersikukuh.


Nanney yang mendengarnya pun, ia seperti tengah diajak bercanda oleh suaminya.

__ADS_1


"Jangan mengada ngada, lebih baik Kak Gane kembali ke kamar. Kesehatan Kak Gane jauh lebih utama dari apapun." Ucap Nanney yang teringat saat dirinya membaca selembaran kertas di atas meja yang mengenai hasil kesehatan suaminya.


__ADS_2