
"Kamu serius?" tanya Nenek Aruma memastikan, yang ditakutkan telah lupa menyimpan barang berharganya.
Ciko masih dengan posisinya, mendengarkan dengan seksama apa yang diobrolkan oleh Nenek Aruma dan Nanney.
"Ah ya Nek, sekarang baru ingat."
"Dimana, dimana kamu menyimpannya."
"Di rumah suami Nanney, didalam laci. Tapi ... rumah itu ...." Ucap Nanney menggantungkan kalimatnya.
"Nona tidak perlu khawatir, rumah yang Nona tempati bersama suami Nona tidak ada yang kurang apapun. Bahkan, sekarang masih tetap utuh. Saya akan membantu Nona untuk mencarikan barang berharga milik Nona. Percayalah sama saya, tidak akan ada kebohongan pada diri saya terhadap Nona." Timpal Ciko ikut berbicara.
"Kak Ciko serius, mau bantuin aku?"
"Ya, serius. Katakan pada saya, seperti apa ciri-cirinya. Nanti, akan saya bantu untuk mencarikan nya." Jawab Ciko meyakinkan.
"Sebuah kotak kecil seperti wadah cincin, tapi ukurannya lebih besar lagi. Didalamnya ada gelang, terus ada namanya."
"Ok, ok. Saya akan mengingatnya. Setelah sampai di Kota, saya akan langsung menuju rumah Bos Gane. Nona tidak perlu khawatir, barang berharga milik Nona baik-baik saja jika memang berada di rumah Bos Gane."
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya, Kak Ciko. Aku percaya kok, sama Kakak. Soalnya gelang itu sangat berharga untukku, satu-satunya milikku." Ucap Nanney penuh harap, jika gelang kepunyaannya masih bisa ditemukan.
Doin yang baru saja selesai membersihkan diri, merasa bingung ketika melihat Ciko, Nanney, dan Nenek Aruma tengah kedengaran membicarakan sesuatu.
"Kok pada bediri, ada apa ya?"
"Tidak ada apa-apa, hanya obrolan biasa saja. Kamu sudah selesai mandinya? kalau begitu, aku mau mandi." Jawab Ciko dan bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
Nanney yang merasa sedikit lega, kembali masuk ke kamar untuk membereskan kamarnya. Sedangkan Nenek Aruma sedang disibukkan dengan ternaknya di belakang rumah.
Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Ciko segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pulang ke Kota.
Sambil mengemasi barang bawaannya alias baju ganti, Ciko menandai sebuah pengingat di ponselnya mengenai pesan dari istri Bosnya.
Nanney yang juga sudah membersihkan diri, kini tengah menunggu kedua anak buah suaminya di ruang tamu bersama Nenek Aruma.
Ciko dan Doin duduk berhadapan Nenek Aruma. Keduanya memberanikan diri untuk berpamitan.
"Nenek, saya dan Doin mau pamitan pulang." Ucap Ciko yang kini sudah siap untuk kembali ke Kota.
__ADS_1
"Serius nih, kalian berdua beneran mau pulang? pikir Nenek kalian akan menginap ada satu minggu." Jawab Nenek Aruma.
"Sebenarnya sih, kita berdua masih betah untuk tinggal di rumah ini, Nek. Tapi, kami berdua masih ada pekerjaan yang lebih penting." Ucap Doin ikut menimpali.
"Ya sudah kalau begitu, Nenek hanya bisa mendoakan, semoga kalian berdua selamat sampai tujuan. Jangan lupa juga, pesan dari Nak Nanney mengenai barang berharganya untuk di cek kembali di tempat yang sudah diberitahu olehnya."
"Ya, Nek. Nenek tidak usah khawatir, saya akan menemukannya. Kalau begitu, kami berdua pamit pulang ya Nek. Sampai ketemu lagi di lain waktu ya, Nek." Timpal Ciko ikut berbicara.
"Jangan lupa juga, sampaikan salam dari Nenek untuk suaminya Nanney. Katakan padanya, cepat datang kemari."
"Tentu saja, Nek. Pokoknya, setelah pekerjaannya beres, suaminya Nona Nanney akan segera menyusul ke Kampungnya Nenek."
"Ya Nek, jangan khawatir pokoknya." Kata Doin ikut menimpali.
"Ya sudah ya Nek, Nona, kita berdua pamit pulang. Minta aneh-anehnya nanti kalau Bos Gane sudah pulang kesini, ok. Jangan panggil saya, nanti bisa-bisa telinga saya ini berdengung tak ada hentinya."
"Nona, jangan percaya. Ciko ini memang suka ngada ngada, jangan percaya, Nona." Kata Doin ikut bicara.
Sudah gak sabar ya, Hennyta dan suaminya pulang. Besok pagi ya readers setia, tentunya juga dengan rencana si Ciko untuk menemukan gelang milik Nanney.
__ADS_1
Sabar sabar sabar ya...
😅😅