
"Aku sudah mengatakannya padamu dengan jujur, bahwa aku bukan istrimu. Henny lah istrimu, bukan aku." Jawab Nanney dengan menunduk.
"Terserah kamu mau berkata apa padaku, aku tetap bersikukuh bahwa kamu itu istriku. Aku bisa melihat dari tatapanmu, bahwa kamu sengaja membohongi ku." Ucapnya yang tetap pada pendiriannya.
Karena tidak ingin membuang-buang waktunya, ia meraih tangan Nanney dan menggandeng nya untuk melakukan pemeriksaan kandungan.
Nanney yang merasa risih, sebisa mungkin untuk bisa melepaskan tangannya. Tetap saja, tenaganya jauh lebih kuat dari Nanney.
Sampainya didalam ruang pemeriksaan, Nanney merasa risih karena ia sadar lelaki yang ada di dekatnya bukanlah suaminya dan juga bukan ayah dari anak yang ia kandung.
"Aku mohon, keluarlah." Pinta Nanney dengan memohon.
"Ya, aku akan keluar." Jawabnya dengan terpaksa.
Selama didalam ruang pemeriksaan, Nanney terus kepikiran dengan apa yang akan terjadi selajutnya.
"Mbak nya kenapa? sepertinya sedang banyak pikiran. Tidak baik untuk perempuan hamil dengan banyak pikiran, nanti kesehatan Mbak dan kesehatan calon bayi bisa terganggu, kasihan." Ucap Ibu Dokter mengingatkan.
"Ya Dok, saya mengerti. Terimakasih sudah mengingatkan." Jawab Nanney berusaha untuk tersenyum.
Setelah itu dilakukan pemeriksaan dengan USG, Nanney melihatnya dengan penuh rasa bahagia ketika mengetaui sebesar apa calon bayinya itu telah tumbuh di rahimnya.
Saat itu juga, tiba-tiba Nanney teringat dengan sosok Gane suaminya. Tentu saja ingin rasanya bertemu dan menunjukkan kondisi calon anaknya yang berada dalam kandungannya itu. Tapi, apa daya yang tak sampai dan masih ada masalah yang harus di selesaikan.
Ketika merasa sudah cukup untuk dilakukan pemeriksaan serta mendapatkan nasehat
nasehat kecil, Nanney segera keluar untuk menebus beberapa vitamin dan lainnya bersama sosok Danu yang diduga suaminya yang pertama.
"Sekarang giliran kamu untuk menemaniku periksa, baru kita pulang." Ucapnya, Nanney tetap diam dan hanya mengangguk.
Saat didalam ruangan seorang Dokter, dengan terpaksa Nanney ikut masuk dan menemaninya bak suaminya sendiri.
__ADS_1
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Nanney duduk termenung sambil memperhatikan sosok Danu yang sedang dilakukan pemeriksaan.
Tidak hanya sebuah nasehat yang diberikan untuknya, tetapi juga yang lainnya seperti pola makan, tidur yang teratur, dan juga sering yoga di pagi hari dan belajar mengingat kenangan atau yang bisa mengingatkan kembali di masa lalu sedikit demi sedikit. Tentu saja dengan orang yang sudah mengenalinya dan mengingatkan sebuah kejadian yang sudah dilewatinya.
"Ingat ya, dijaga kesehatan dan pola makanannya. Hindari makanan yang serba instan dan olahraga yang cukup." Ucap seorang Dokter yang tak lupa memberi pesan baik untuk pasiennya.
'Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku yang akan membantunya untuk mengingat kembali ingatannya. Ah ya, aku harus berterus terang dengan Kak Ciko. Tidak mungkin juga aku menyembunyikan kebenaran ini, apapun yang terjadi pada diriku, aku harus siap menerimanya. Semoga saja, Kak Gane segera bebas dan mengungkapkan semuanya." Batin Nanney yang semakin dilema untuk memikirkannya.
Karena sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, sosok Danu segera keluar dari ruangan tersebut bersama Nanney untuk menebus obatnya.
"Sudah siang, waktunya untuk makan. Kamu mau makan apa? bagaimana kalau kita cari warung makan yang kiranya tidak begitu ramai, agar kita bisa leluasa untuk mengobrol. Aku tahu, kamu pasti merindukanku." Ucapnya dengan percaya diri.
Nanney yang mendengarnya pun, hatinya seakan teriris perih. Tak dapat dipungkiri, rasa cinta yang pernah ada pun masih tertinggal dihatinya walaupun tak tahu apakah itu cinta apa hanya mengingat masa lalunya bersama suaminya yang pertama. Tetapi dilain sisi, Nanney tak mungkin berpaling dari suaminya yang sekarang, lebih-lebih sedang mengandung anaknya. Tidak mungkin juga untuknya untuk menyakiti, walaupun ia tak mendapatkan cinta dari suami, yakni Gane.
"Kenapa kamu terus-terusan melamun? kamu jangan takut, karena aku akan memperjuangkan kamu." Ucapnya yang semakin bersemangat dan percaya diri.
"Tidak apa-apa, aku hanya belum siap saja. Ah ya, ayo kita cari warung makan. Aku sudah sangat lapar, dan juga ingin segera pulang." Jawab Nanney beralasan.
"Kamu mau pesan apa?" tanyanya.
"Cumi-cumi bakar, sambalnya tidak terlalu pedas. Untuk minumnya, air putih yang hangat." Jawab Nanney yang sengaja memesan cumi-cumi bakar yang tidak disukai oleh suaminya dulu, Regar.
'Apakah dia tetap fobia, atau ... segala ingatannya akan sulit untuk kembali.' Batin Nanney yang penasaran dan ingin tahu kebenarannya.
Tak peduli dengan permintaan Nanney, ia langsung memesan sesuai yang dimintanya.
"Mau pesan apa ya Mas?" tanya pemilik warung makan.
"Saya mau pesan cumi-cumi bakar dan ayam bakar, untuk sambal tidak terlalu pedas, minuman juga sama, air putih hangat." Jawabnya.
"Baik, silakan duduk dan tunggu sebentar." Ucapnya.
__ADS_1
Karena penasaran, sosok Danu akhirnya memikirkan menu makanan yang dipesan oleh Nanney, yakni cumi-cumi bakar.
'Dia sedang tidak mengerjai ku, 'kan? kenapa aku tiba-tiba merasa mual memikirkan cumi-cumi itu.' Batinnya yang kini mulai bingung, antara jebakan atau yang lainnya mengenai pesanan yang diinginkan oleh Nanney.
Tidak lama kemudian, pesanannya pun telah datang dan sudah berada dihadapannya.
Nanney yang penasaran, ia terus memperhatikan lelaki yang sama persis dengan suaminya dulu.
Sosok Danu mulai merasa pusing ketika melihat menu makanan milik Nanney, yaitu cumi-cumi yang cukup besar ukurannya membuat kepalanya terasa pusing dan tentunya ingin muntah.
Saat itu juga, Nanney dapat memastikan siapa sebenarnya lelaki yang ada dihadapannya itu.
'Regar Huttama, benarkah? tidak mungkin. Ini semua pasti hanya sebuah kebetulan, tidak lebih.' Batinnya seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Singkirkan cumi-cumi kamu itu, kepalaku terasa pusing melihatnya. Cepat, kamu singkirkan." Pintanya yang semakin pusing untuk melihat cumi-cumi yang berada dalam piring.
Nanney yang tidak ingin masalah semakin berlanjut, ia langsung menyingkirkan cumi-cumi itu ke meja belakang dan meraih ayam bakar yang ada dihadapan sosok Danu. Kemudian, ia langsung menikmati ayam bakarnya.
"Maaf, aku makan ayam bakar milikmu." Ucap Nanney.
"Tidak apa-apa, yang penting perut kamu terisi makanan. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit, apa lagi kamu sedang hamil."
Nanney tidak berucap, ia langsung menikmatinya sendiri tanpa membagi dua.
Danu yang ingin memesan makanan lagi, selera makannya pun langsung hilang. Bahkan, dirinya merasa curiga dengan Nanney yang telah memesan cumi-cumi bakar.
'Aku yakin jika dia memang sengaja melakukannya padaku, berarti benar kalau kamu itu adakah istriku.' Batinnya sambil menahan rasa mual yang sudah menjalar di perutnya.
Tanpa sadar, keduanya tengah diperhatikan oleh dua orang yang duduk disudut ruangan warung makan tersebut.
Nanney tidak peduli, ia terus menikmati makan siangnya.
__ADS_1