Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Menerima ajakan


__ADS_3

Nanney yang masih berada dalam pelukan Nenek Aruma, ia melepaskannya dan menatap wajah Beliau yang tidak lagi muda.


"Nenek, bolehkah Nanney meminta satu permintaan?" tanya Nanney penuh harap, jika permintaannya akan dipenuhi oleh Beliau.


"Memangnya kamu mau meminta permintaan apa pada Nenek, Nak?" kata Beliau ikut balik bertanya.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Nenek Aruma, justru Nanney memeluk Beliau walau dengan keadaan tengah hamil.


"Nanney tidak ingin jauh dari Nenek." Jawab Nanney dan diam sejenak.


Nenek Aruma yang mendengarkannya pun, langsung melepaskan pelukan dari Nanney dan balik menatapnya dengan senyuman.


"Kamu sudah punya keluarga bersama suami kamu, jangan egois dan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Jarak dari Kota ke Kampung tidak begitu jauh, kamu bisa pulang dan mengajak anak dan suami kamu ke Kampung jika kamu merindukan Nenek." Ucap Nenek Aruma dengan berat hati bila harus berpisah dengan sosok Nanney yang sudah dianggapnya anak kandung sendiri.


"Nek, Nanney itu ingin mengajak Nenek untuk tinggal bersama di Kota. Nanney tidak ingin jauh dari Nenek dan juga Henny." Jawab Nanney dengan lesu dan tidak bersemangat.


"Tidak, Nak. Nenek akan tetap tinggal di Kampung, karena sudah nyaman dengan kehidupan yang sederhana." Ucap Nenek Aruma yang berusaha untuk menolaknya.


"Tidak, Nek. Nanney tidak akan membiarkan Nenek tinggal sendirian di Kampung, pokoknya Nenek harus ikut Nanney apapun alasannya." Ucap Nanney yang terus merayu dan tidak mengenal kata lelah untuk membujuk Nenek Aruma.


"Tenang saja, Nenek tidak sendirian. Kamu tidak perlu khawatir, karena Nenek ada Henny yang akan menemani Nenek." Ucap Nenek Aruma yang terus memberi alasan agar Beliau dapat menolak ajakan dari Nanney.


Sedangkan Henny yang berdiri tidak jauh dari Nenek Aruma, hanya memilih untuk diam tanpa harus bersuara.


"Henny akan ikut saya Nek, ikut pulang ke Kota dan juga Nenek." Ucap Regar yang tiba-tiba ikut menimpali dan dengan berani untuk membujuk Nenek Aruma.

__ADS_1


Meski awalnya menolak atas permintaan dari sang kakak, akhirnya mengabulkannya demi kesehatan Nanney yang tidak ingin kehamilannya terganggu dengan hal yang sepele.


Sepele bagi Gane, tapi tidak untuk Regar yang tentunya menyimpan rasa cemburu. Tidak munafik bagi Regar jika dirinya memang merasa cemburu. Tapi, karena tidak ingin melukai hati seseorang, mau tidak mau menuruti permintaan dari sang kakak.


Henny yang mendengarnya pun, benar-benar diluar dugaannya sendiri yang merasa seperti tidak percaya dengan ucapan dari suaminya sendiri.


Nenek yang ada rasa keraguan dengan apa yang diucapkan oleh Regar, Beliau akhirnya mencoba untuk menanyakannya.


"Kamu serius, jika mau mengajak Henny pulang ke Kota?" tanya Nenek Aruma dengan segala keraguannya.


Regar yang mendapatkan pertanyaan dari Nenek Aruma yang kelihatannya meragukan atas ajakan yang dijadikan topik utama, Regar mengangguk pelan pada Beliau dan memperhatikan sosok istrinya yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Nenek Aruma.


Henny yang mendengarkannya pun, merasa diperhatikan. Tapi, tiba-tiba ia merasa jika suaminya tengah sandiwara lantaran untuk menuruti permintaan kakak perempuannya, pikir Henny dengan tidak percaya diri.


"Benar, Nek. Saya mau mengajak Henny dan Nenek untuk tinggal di Kota. Saya minta kepada Nenek untuk menerima ajakan kami." Jawab Regar meyakinkan.


"Karena kami semua tidak ingin Nenek tinggal sendirian di Kampung, Nenek sudah menjadi bagian keluarga kami." Ucap Gane ikut angkat bicara sambil menggandeng tangan istrinya.


"Mau ya Nek, tinggal bersama Bos Gane atau Tuan Regar, atau sahabat saya ini Ciko, bila perlu sama saya juga tidak apa-apa kok Nek." Ucap Doin ikut nimbrung.


Nenek Aruma tersenyum bahagia mendengarkannya. Lagi-lagi Nanney kembali memeluk Nenek Aruma.


"Nenek ikut Nanney ya? Nanney tidak ingin jauh dari Nenek."


Nenek Aruma yang mendapatkan rengekan dari Nanney, hatinya begitu terasa berat untuk menolaknya.

__ADS_1


"Ya, Nenek akan ikut kalian." Jawab Nenek Aruma yang akhirnya memberi keputusan yang sangat dinantikan oleh semuanya termasuk Nanney yang begitu menginginkan untuk tinggal bersama.


Sedangkan Henny sendiri bercampur aduk rasanya, antara ikut atau tidak. Dirinya hanya merasa takut jika kehadirannya di Kota akan menambah masalah pada suaminya. Sejenak Henny menunduk karena sedih.


.


.


Nanney yang melihat adik perempuannya seperti ada sesuatu yang dipendam, Nanney langsung melepaskan pelukannya dan mendekati Henny.


"Kamu kenapa, Henny? apakah ada masalah?" tanya Nanney yang penuh khawatir jika adik perempuannya ada sesuatu yang pikirkan nya.


Henny menggelengkan kepalanya. Kemudian mendongakkan pandangannya pada sang kakak.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Aku hanya merasa sangat bahagia ketika melihat Kak Nanney bertemu kembali dengan masa lalu Kakak, termasuk keluarga Kakak sendiri." Jawab Henny beralasan.


"Kamu jangan bohongi Kakak, pasti ada sesuatu yang kamu pikirkan, 'kan? jawab saja dengan jujur sama Kakak." Ucap Nanney yang merasa tidak percaya dengan alasan yang diberikan oleh adiknya.


"Serius Kak, aku tidak berbohong. Andai saja aku masih punya keluarga, aku akan bahagia seperti Kakak." Jawab Henny yang tetap beralasan. Dirinya tidak mungkin juga untuk berkata jujur di hadapan yang lain, terlebih lagi ada suaminya.


"Kamu ragu dengan ajakan aku, 'kan? aku serius mengajakmu untuk pulang ke Kota. Kamu istriku, kamu tanggung jawabku. Kemanapun aku pergi, kamu akan ikut denganku." Ucap Regar yang tiba-tiba mendekati istrinya untuk meyakinkan nya agar mau ikut pulang ke Kota, pikirnya.


Henny tersenyum tipis saat mendengar ucapan dari suaminya.


"Ya, terimakasih. Tapi bukan itu yang aku maksud, aku hanya berandai jika diriku masih mempunyai keluarga. Mungkin saja aku akan sebahagia seperti Kak Nanney, begitu." Jawab Henny yang lagi-lagi tidak berani berkata jujur.

__ADS_1


Regar yang mengetahui jika istrinya berbohong, hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat jika dirinya percaya dengan ucapan istrinya.


__ADS_2