Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kebenaran kembali terungkap


__ADS_3

Di rumah sakit, Nanney dan Regar tengah dirawat. Sedari tadi, Gane menunggu istrinya yang tidak juga sadarkan diri. Sedangkan Henny dan Nenek Aruma, tengah menunggu Regar.


Gane yang merasa bingung dan bersalah besar atas semuanya, benar-benar membuatnya dilema. Satu sisi, sang adik begitu mencintai istrinya. Selanjutnya, dirinya sendiri tidak mungkin juga untuk meninggalkan istrinya dengan kondisinya yang tengah hamil anaknya.


Meski kenyataan berkata bahwa suaminya masih hidup, keputusan hakim mengatakan bahwa Regar dinyatakan meninggal dengan alasan yang cukup akurat dan sudah melewati batas waktu yang ditentukan oleh hakim dan Gane diperbolehkan untuk menikahinya karena bukti akurat tentang Regar berada dalam insiden kecelakaan itu dan istrinya menjadi saksi bahwa suaminya tenggelam, dan juga bukan pergi untuk merantau atau ke suatu tempat yang jauh dan lainnya karena sebuah alasan.


Gane masih berpikir keras mengenai hubungannya bersama sang istri antara lanjut atau berpisah, pikirnya sambil mengusap punggung tangan milik istrinya.


Nanney masih juga belum sadarkan diri, entah kenapa dirinya tiba-tiba jatuh pingsan begitu saja. Tentu saja, semua berpikiran bahwa Nanney masih ada rasa pada suaminya yang pertama dan mencoba untuk menutupi perasaannya karena sebuah alasan saja, pikir Gene dan yang lainnya, termasuk Henny adiknya sendiri.


Sedangkan di ruang tunggu, Ciko dan Doin semakin gusar memikirkan masalah yang tengah dihadapi oleh kedua majikannya.


Begitu juga di ruang rawat pasien, Regar memilih untuk duduk bersandar karena luka yang ada padanya hanya luka pada bagian kakinya.


"Mas, makan ya?"


Regar tidak menjawabnya sama sekali, justru dirinya mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan tidak pada istrinya.


Henny yang tidak mendapatkan respon dari suaminya, ia meletakkan piringnya. Saat itu juga, Nenek Aruma mendekati Henny dan Regar.


"Nak Danu, maksud Nenek, Nak Regar. Bagaimana dengan kaki kamu?" tanya Nenek Aruma.


"Sakit, tapi tidak begitu sakit." Jawab Regar dengan malas.


"Syukurlah, semoga segera pulih kakinya. Kalau begitu, Nenek mau keluar. Nenek mau melihat kondisi Nanney, takut terjadi sesuatu pada kehamilannya." Ucap Nenek sekaligus pamit.


Saat itu juga, Regar kaget mendengarkannya.


"Ada apa dengan Nanney, Nek? tolong katakan pada saya, kenapa dia?" tanya Regar dengan perasaan cemas dan juga khawatir.


"Nak Nanney jatuh pingsan saat melihatmu kecelakaan, sampai sekarang belum juga sadarkan diri." Jawab Nenek Aruma.


Regar yang benar-benar merasa penasaran, ia langsung berusaha untuk turun dari ranjang pasien dan tidak peduli dengan rasa sakit pada kedua kakinya itu. Henny yang melihatnya pun, ia segera bangkit dari posisi duduknya.


"Mas Danu mau kemana?" tanya Henny.


"Ya Nak, kamu mau kemana? kakimu baru saja diobati lukanya. Jangan buat gerak yang berlebihan, nanti bisa bertambah sakit." Timpal. Nenek Aruma ikut bicara.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nek, saya hanya ingin mengetahui keadaan Nanney." Jawab Regar penuh khawatir.


Sedangkan di ruang rawat yang tidak jauh jaraknya dengan ruangan yang ditempati Regar, kini Nanney tengah menggerakkan jari telunjuknya.


Gane yang ditemani Ciko dan Doin, tiba-tiba Gane merasakan ada sesuatu yang mengagetkan dirinya lewat gerakan jari telunjuk milik istrinya, ia segera membuka kedua matanya dengan sempurna.


Begitu juga dengan Doin dan Ciko yang sedari tadi tidak lepas dari pandangannya untuk melihat istri Bosnya hingga sadarkan diri dari pingsannya.


Alangkah bahagianya ketika Gane tengah mendapati istrinya telah sadarkan diri dari pingsannya.


Nanney yang mulai tersadar, pelan-pelan membuka kedua matanya. Kemudian mengarahkan pandangannya di sekitar dan mengamati isi ruangan yang ia tempati.


"Kakak, Kak Iko. Papa, Mama, Kak Iko." Racau Nanney yang terus memanggil kedua orang tuanya dan saudara laki-lakinya berulangkali.


Gane yang mendengarnya pun, tidak disadari jika dirinya meneteskan air matanya saat istrinya memanggil bagian keluarganya. Ciko yang merasa namanya disebutkan, dirinya ikut meneteskan air matanya karena bahagia.


Tanpa disadarinya juga, ada sosok laki-laki yang sedari tadi tengah berdiri diambang pintu ditemani sang istri.


"Kak Enta, Kakak, Kak Enta!" Teriak Nanney yang langsung bangkit dari posisinya dan duduk bersandar sambil meringkuk seperti orang ketakutan.


Gane langsung mendekati istrinya dan memeluknya, agar ketakutannya itu mereda.


Nanney masih dengan posisinya yang meringkuk, bibirnya ikutan gemetaran seperti mengingat sesuatu yang sangat menakutkan.


"Jangan takut, tidak ada orang yang akan menyakiti kamu. Aku akan selalu menjagamu, sampai kapanpun." Ucap Gane sambil mengusap punggungnya.


"Kak Iko, dimana Kak Iko? Papa dan Mama ada dimana?" tanya Nanney yang terus mencari keberadaan kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya.


"Apakah kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Gane masih memeluk istrinya, Nanney mengangguk pelan dengan kesadarannya.


Ciko yang sedari tadi memperhatikan, dirinya tak kuasa untuk menyampaikan kebenaran pada sosok Nanney yang terlihat seperti orang ketakutan.


Doin segera memeluk Ciko, ia pun tahu sehancur apa perasaannya ketika harus dihadapkan dengan kenyataan dan kebenaran didepan matanya.


"Kamu pasti bisa, karena kamu adalah seorang Kakak yang bijaksana." Ucap Doin menyemangati.


Sedangkan sosok yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, ingatannya pun kembali dimasa lalu yang begitu lamanya. Tentunya, insiden kecelakaan dimasa kecilnya dulu.

__ADS_1


"Jad-jad-jadi Nanney adalah Clara gadis kecilnya Kak Gane? benarkah itu semua?" gumamnya yang terus berpikir untuk mencari titik temunya.


Setelah dirasa cukup tenang, Gane melepaskan pelukannya. Kemudian, dirinya memilih duduk disebelah istrinya yang sama-sama diatas ranjang pasien dengan posisi merangkulnya. Sedangkan Ciko masih berdiri dengan jarak yang tidak begitu jauh dengan sosok perempuan yang diduga adik perempuannya.


"Kamu masih ingat dengan Kak Iko?" tanya Gane mencoba untuk memastikan bahwa ingatan masa lalu istrinya benar-benar pulih.


"Ya, aku ingat semuanya. Tapi, aku tidak tahu antara selamat dan tidaknya." Jawab Nanney masih dalam sandaran dada bidang suaminya.


"Kak Iko masih hidup. Bahkan, pangeran kamu sendiri masih hidup." Ucap Gane sekaligus mengingatkan kembali masa lalunya bersama sang istri dengan sebutan yang selalu digunakan oleh keduanya, gadis kecil dan Pangeran.


Mendengar kata Pangeran, Nanney langsung mendongak dan menatap wajah suaminya. Gane tersenyum saat istrinya menatap dirinya.


"Pangeran ku?"


Lagi-lagi Nanney penasaran dan ingin tahu.


Gane yang tidak lepas dengan sebuah bukti dan kenangannya, langsung merogoh saku celananya dan memperlihatkan nya pada istrinya. Dua buah gelang yang sama persis bentuk serta warnanya.


Nanney yang melihatnya seperti tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya itu. Kemudian, diambilnya dua buah gelang miliknya dan milik seseorang yang selalu dianggap Pangerannya.


NB:


Maaf sebelumnya jika status pernikahannya membingungkan.


Saya menulisnya pun mencari informasi lewat sumber terlebih dahulu. Ada yang mengatakan ceritanya tidak masuk akal, dan mempunyai suami dua.


Maaf nih ya, jadi membahas tentang agama. Jika salah, saya minta maaf. Mungkin saya salah mengambil jawaban dari sumbernya, kalau menurut saya sih tidak salah ya. Terkadang setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda. Sekali lagi saya minta maaf jika pendapat yang saya gunakan ini salah.


Untuk yang beragama Muslim, bukankah jika bukti akurat suaminya dikatakan meninggal dan lebih dari masa iddah empat bulan sepuluh hari diperbolehkan untuk menikah? dan itupun harus mendapatkan keputusan dari hakim. Ada yang mengatakan empat tahun lamanya baru bisa menikah, itu untuk yang pergi jauh tanpa ada kabar. Sedangkan ini, yang mana terjadi insiden kecelakaan dan sang istri menjadi saksi tenggelamnya sang suami. Bahkan keputusan sudah ditutup dan dinyatakan meninggal dunia. Jadi, besar kemungkinan, hakim mengatakan bahwa pernikahannya berakhir karena dianggapnya cerai mati.


Jika ada salah, saya minta maaf, saya hanya melalui sumber yang saya tahu. Jika ada yang mau memberi jawaban, saya sangat berterima kasih karena mau membenarkan dari pernyataan saya yang salah ini.


Sekali lagi saya minta maaf jika membahas tentang agama, karena ini sebuah pernikahan, jadi saya membahasnya.


Untuk yang beragama lain, maaf, saya tidak tahu.


Sekali lagi saya minta maaf jika statusnya membingungkan.

__ADS_1


__ADS_2