
Ketika sudah menerima pesanan yang dipesan, Gane kembali mengunci pintunya dan membawa barang pesanannya menuju dapur.
"Nih, baju ganti selama kau berada di rumah ini." Ucap Gane dan menyodorkannya dengan cukup kasar hingga beberapa paper bag ada yang jatuh ke lantai.
"Ya Kak, terimakasih." Jawabnya serasa berat hati untuk menerima pemberian dari kakak iparnya yang cukup kasar dengan cara memberinya beberapa paper bag yang isinya pakaian lengkapnya.
Saat itu juga, lagi lagi Ciko mendapati Nanney yang diperlakukan tidak baik oleh Bos nya sendiri. Sikap yang terlihat begitu kasar cara memperlakukan kepada seorang perempuan yang ia ketahui memiliki hati yang lembut.
Setelah itu, Gane segera pergi dari hadapan Nanney. Sedangkan Nanney memilih untuk segera membereskan dapur.
Gane yang baru saja keluar dari dapur, ia mendapati Ciko yang tengah sibuk dengan laptopnya sambil duduk santai di ruang tamu. Bahkan sedikitpun tidak menoleh pada Bosnya, seolah olah ia tidak melihat adanya seseorang yang tidak jauh darinya.
"Cik," panggil Gane sambil berjalan mendekat. Dengan sengaja Ciko tidak menghiraukan dengan suara yang memanggil namanya.
"Hei! apakah kau sedang sibuk?"
Ciko menoleh ke samping, ditatap nya sosok Gane yang sudah duduk di sebelahnya.
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu, Bos?" tanya Ciko sambil menatap lurus pada laptopnya.
"Tanyakan saja, memangnya kau ini siapa? masih saja bertanya terus."
"Kita mau tinggal dimana setelah ini, Bos?" tanya Ciko yang tetap tidak menoleh ke arah Gane.
"Kita ke rumah kosong yang kita beli beberapa bulan yang lalu, tempat ini aku biarkan perempuan sial itu yang akan menempatinya selama belum genap empat puluh hari. Setelah itu lewat empat puluh hari, maka aku akan menempatinya rumah ini kembali. Sedangkan kamu, tetap di rumah kosong itu selama balas dendam ku belum usai." Jawab Gane menjelaskan segala sesuatu dari perencanaan atas dendamnya itu.
Ciko sangat menyayangkan atas keputusan yang diambil oleh Bosnya itu. Bukan tidak mendukung, tapi caranya yang salah karena semena semena memperlakukan perempuan yang tidak tahu apa apa atas meninggalnya sang adik laki-laki.
"Baik lah, terserah Bos Gane saja." Kata Ciko yang tidak tahu harus bicara apa untuk mencegah perbuatan yang tidak baik itu ulah Bosnya yang akan membalaskan dendamnya.
__ADS_1
Sedangkan Nanney yang sudah selesai membereskan dapur serta sudah menyiapkan sarapan pagi, ia segera keluar dapur untuk membersihkan diri.
"Kak Ciko," panggil Nanney sambil berjalan dan juga sambil membawa paper bag menuju ruang tamu. Ciko mendongak.
"Ya Nona, ada apa?" tanya Ciko. Gane melirik ke arah Ciko, kemudian sepasang matanya mengarahkan ke Nanney.
"Aku mau pinjam kamar Kakak, boleh 'kan?" jawab Nanney dan meminta izin.
"Tentu saja boleh, Nona. Silakan jika mau membersihkan badan, jangan lupa untuk mengunci pintunya." Kata Ciko yang tidak lupa untuk mengingatkan, Gane sendiri hanya diam tanpa bersuara sepatah katapun.
"Ya Kak, terimakasih." Ucap Nanney dan bergegas masuk ke kamar milik Ciko.
"Kau naksir dengan perempuan sialan itu kah?" tanya Gane menyelidik. Saat itu juga, Ciko menoleh pada Gane.
"Bersikap baik bukan berarti menyukainya, Bos. Ah sudaah Bos, masih ada yang lebih penting dari Nona Nanney. Lebih kita fokus dengan pekerjaan kita yang sangat membahayakan ini, Bos. Bukankah Bos Gane juga akan melakukan penyelidikan tentang pengacara Elyam? lebih ikutin saja saranku ini, Bos." Jawab Ciko dan tidak lupa untuk mengingatkan.
"Nah gitu dong, Bos. Bukankah Bos Gane sudah lepas tangan atas pembagian dari keluarga Huttama? jadi, lebih baik Bos Gane fokus dengan kepunyaan Bos sendiri."
"Tumben otakmu encer."
"Bos pikir otakku ini bagaikan minyak makan, yang bisa tidur ketika musim dingin." Ucap Ciko dibarengi tawanya. Mau bagaimanapun, Ciko tidak bisa untuk menyimpan kekesalan terhadap orang lain asalkan tidak menyangkut tentang hidupnya maupun anggota keluarganya.
"Siapa tahu aja, otakmu tiba-tiba membeku. Kau urus segala pesan masuk mengenai pengiriman barang, termasuk pengiriman uang, kau mengerti? lakukan tugasmu."
"Baik, Bos." Jawabnya.
"Bagus, kalau begitu aku mandi dulu." Ucap Gane dan pergi menuju kamarnya.
Sedangkan Nanney yang sudah berada di dalam kamar, ia merasa sedikit takut jika di dalam kamar tersebut ada CCTV yang kapan saja siap mengintainya. Beberapa kali Nanney memeriksa pada setiap sudut ruangan kamar tersebut. Berharap apa yang ditakutkan nya tidak akan terjadi, pikirnya.
__ADS_1
"Semoga saja kamar ini aman dan tidak ada rekaman CCTV nya. Jika memang ada, benar-benar sangat memalukan." Gumam Nanney ketika dirinya hendak masuk kedalam kamar mandi.
Setelah membuang pikiran buruknya, Nanney akhirnya segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak memakan waktu lama untuk melakukan ritual mandinya, kini dirinya telah selesai. Karena merasa bingung dan takut jika ia mengganti pakaiannya di dalam kamar, Nanney terpaksa menggantinya di dalam kamar mandi.
Setelah selesai berpakaian, Nanney segera keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. Kemudian ia menuju tempat untuk bercermin. Karena rambut yang masih basah, Nanney mengeringkan rambutnya terlebih dahulu dan mengucirnya setelah kering.
Selesai semuanya dan tidak ada lagi yang kurang, Nanney keluar dari kamar. Sampainya didepan kamar, dilihatnya sosok Ciko yang masih berkutik dengan bendanya yang sangat berharga.
"Kak, bolehkah aku ikut duduk?"
Seketika, Ciko dibuatnya kaget oleh Nanney yang sudah berdiri di hadapannya.
"Boleh, silakan. Maaf sebelumnya, aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Jika Nona merasa diabaikan, lebih baik Nona menonton televisi yang jauh lebih baik daripada duduk di hadapan saya." Ucap Ciko sambil berkutik dengan leptop nya.
"Tidak ah, aku mau menemani Kak Ciko saja. Dari pada nonton televisi, nanti ujung-ujungnya aku kena marah sama ABG tua itu." Jawab Nanney dengan sebutan baru untuk kakak iparnya.
Ciko yang rasanya ingin tertawa atas sebutan untuk Bosnya itu, sebisa mungkin untuk menahan tawanya.
"Jangan bilang begitu, Nona. Sebentar lagi Bos Gane akan melepas masa bujangnya, tidak baok bicara seperti itu."
Seketika, Nanney terkejut mendengarnya dan juga tanpa sadar ia tertawa senang.
"Serius nih, Kak?" tanya Nanney yang mendadak lupa.
"Ya, Nona. Sebentar lagi Bos Gane mau menikah." Jawab Ciko dengan ekspresi yang bingung saat mendapati Nanney yang terlihat seperti orang yang lepas dari beban beratnya.
"Jadi Kak Gane mau menikah, begitu kah maksudnya?"
"Ya, Nona." Jawab Ciko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena heran deng ekspresi dari Nanney yang terlihat seperti menang lotre.
__ADS_1