
Waktu telah dilewati hingga datangnya pagi menyapa bersamaan dengan sinar matahari yang hangat dan masuk ke cela-cela ventilasi rumah.
Nanney yang tengah sibuk di dapur bersama sang adik, keduanya nampak ceria dan seperti hari-hari biasanya ketika berkumpul bersama.
Sosok Danu yang belum mendapatkan jadwal kerja di perkebunan milik Nenek Aruma, dirinya memilih menyibukkan diri untuk menyembuhkan ingatannya. Dengan sebuah ponsel, mampu mendapatkan informasi yang menurutnya sangat akurat.
Ketika nama dirinya muncul dalam berita di media sosial, kini ada nama yang hampir mirip dengannya.
"Ganenta Huttama dipenjarakan karena perdagangan ilegal? apakah orang ini bagian dari keluarga Regar Huttama?" gumamnya kembali berpikir.
Berharap, apa yang ia dapatkan informasinya, secepatnya akan segera terbongkar, pikir sosok Danu penuh harap.
Rasa penasaran masih terus menghantui dirinya. Tentu saja, ia ingin secepatnya mengetahui kebenaran tentang dirinya.
Sedangkan di tempat lain, Ciko mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan. Bahkan, dirinya itu masih terasa mimpi ketika menerima panggilan dari Lapas, tempat dimana Gane tengah ditahan.
"Senyam-senyum sendiri, menang lotre?"
Doin yang mendapati Ciko seperti orang yang ketiban durian runtuh, ia langsung menyenggolnya.
"Bukan hanya menang lotre, Doin. Ini lebih dari lotre, bahkan harta karun sekalipun." Jawab Ciko sambil mencubit kedua pipi milik Doin.
"Lepasin ini, lepasin. Ada apa memangnya? ayo ceritakan padaku. Bahagia tidak bagi-bagi, awas saja kamu itu."
"Bos Gane, Bos Gane."
"Ya, aku tahu Bos Gane. Memangnya ada apa dengan Bos Gane, Cik? cepat katakan sekarang juga."
"Bos Gane hari ini dibebaskan, finalti." Jawab Ciko dan kembali mencubit kuat kedua pipi milik Doin.
"Aw! sakit tau, Cik."
"Kamu serius? awas ya, kalau kamu hanya mengerjai ku."
__ADS_1
"Aku serius, tau. Bos Gane pagi ini bebas, dan kita diminta untuk menjemputnya."
"Ada apa ini? sepertinya rame." Tanya Tuan Hardika memergoki Ciko dan Doin.
"Palingan juga sedang jatuh cinta, Pa." Sahut David ikut menimpali.
"Diam lah Tuan David, kita berdua ini masih bertahan pada kejombloan." Jawab Ciko ikut angkat bicara, Doin yang mendengarkan nya pun, ia tertawa.
"Sudah, sudah, ada apa sebenarnya?" tanya Tuan Hardika yang merasa penasaran.
"Begini Tuan, barusan saya mendapatkan telpon dari Lapas. Pagi ini, Bos Gane sudah resmi dibebaskan." Jawab Ciko dengan serius.
Tuan Hardika dan putranya, serta Pak Elyam yang ikut mendengarkannya pun, benar-benar sangat terkejut ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Ciko.
"Serius?"
Ketiganya bertanya dengan serempak, tentu saja ingin memastikan kebenarannya.
"Serius, tidak ada kebohongan apapun tentang Bos Gane dibebaskan." Jawab Ciko dengan tegas.
"Kak Ciko benar-benar hebat, semuanya telah diselesaikan dengan sangat baik. Aku sangat salut dengan Kakak, pantas saja Kak Gane begitu percaya dengan Kak Ciko." Timpal David ikut bicara.
"Tuan David tidak perlu memuji saya yang berlebihan, ini sudah menjadi tanggung jawab saya." Ucap Ciko.
"Dari dulu Bapak memang sudah percaya denganmu, Nak Ciko. Kenyataan nya, kamulah yang menyelesaikan semua ini." Kata Pak Elyam ikut memuji.
"Tidak, Pak. Saya hanya melaksanakan tugas saya sebagaimana yang sudah dipesankan oleh Tuan Riko Huttama, Pak." Jawab Ciko sedikit menunduk.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita siap-siap untuk berangkat menjemput Gane. Tapi sebelumnya, kita sarapan pagi terlebih dahulu." Ucap Tuan Hardika.
"Ya, kita sarapan pagi dulu." Timpal Pak Elyam selalu pengacara dan orang kepercayaan keluarga Huttama.
Karena sudah tidak sabar ingin bertemu dan menjemput Gane, Tuan Hardika dan yang lainnya segera sarapan pagi.
__ADS_1
Sedangkan Ciko tiba-tiba teringat pesan dari Nanney, yakni untuk segera ke Kampung untuk menjemputnya, serta menjelaskan kebenaran.
"Nak Ciko, ayo kita sarapan. Kamu kenapa melamun? ayo." Ajak Pak Elyam membuyarkan lamunan Ciko.
"Ya Pak, maaf." Jawab Ciko dan bergegas ikut ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama.
Sedangkan di tempat Lapas, Gane tengah siap-siap untuk menunggu jemputan dari pihak keluarga dan kedua sahabatnya, juga orang kepercayaan keluarganya, Pak Elyam.
Entah perasaan bahagia atau bersedih, Gane masih sulit untuk mengartikan apa yang sedang dirasakannya.
"Kenapa kamu tidak bersemangat, Bro? seharusnya kamu itu bersemangat, sebentar lagi kamu akan bebas dan menghirup udara segar di luaran sana. Tidak hanya itu saja, kamu akan berkumpul bersama istrimu dan juga keluarga mu. Bahkan, kamu akan menikmati hari-harimu dengan bahagia bersama istrimu. Ditambah lagi, kamu akan menjadi seorang ayah. Pastinya, kamu harus lebih bersemangat lagi." Ucap Iswan, tak lupa menepuk punggung milik Gane pertanda menyemangati.
"Ya Bro, kamu harus semangat. Sebentar lagi kamu akan bebas, tentu saja akan bertemu dengan istrimu." Timpal teman yang satunya lagi. Begitu juga dengan yang lainnya, ikut memberi support untuk dirinya.
Tetap saja, Gane masih dilema. Dirinya sendiri pun bingung, haruskah bahagia atau bersedih.
"Aku takut, jika istriku ingatannya akan kembali dan membenciku." Ucap Gane tertunduk sedih.
"Makanya, sebelum ingatan istrimu kembali, kamu harus memberinya cinta yang tulus dan penuh perhatian. Aku rasa istrimu akan berpikir seribu kali untuk membencimu." Sahut teman yang satunya lagi.
"Ya Bro, kamu harus optimis. Setelah keluar dari tempat ini, siapkan dirimu untuk memberi cinta dan perhatian yang penuh untuk istrimu. Apalagi kata kamu sedang hamil, waktu yang tepat untuk menunjukkan perasaan kamu pada istrimu." Timpal Iswan ikut memberi saran untuk Gane.
Gane yang mendapatkan dukungan penuh dari teman-teman satu sel tahanan, ia pun tersenyum mendengarkannya.
"Terimakasih banyak atas semua saran dari kalian, aku akan mencobanya." Jawab Gane dan tersenyum.
Setelah itu, Gane dan yang lainnya berpelukan dalam waktu bersamaan. Tak terasa, Gane meneteskan air matanya karena haru atas kebaikan dari teman-temannya yang saling peduli satu sama lain bak keluarga sendiri.
Cukup lama mengobrol, tiba-tiba dikagetkan dari salah satu anggota polisi datang dan membukakan pintunya. Gane keluar dengan perasaan haru karena harus berpisah dengan teman-temannya.
Sebelumnya, Gane memeluk satu persatu pertanda perpisahan. Lambaian tangan pertanda harus berpisah dan meninggalkan tempat yang penuh cerita serta pembelajaran yang cukup berharga.
Tempat yang selalu dikatakan buruk, tak berarti akan buruk didalamnya. Dengan berat hati karena sudah dekat bersama teman-temannya, tak ingin rasanya untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, mau bagaimana lagi, Gane bukan pemilik hukum, dirinya pun sebagai tersangka yang harus mempertanggungjawabkan atas semua yang sudah diperbuatnya.
__ADS_1
Perpisahan penuh haru, teman yang sudah dianggapnya bagian keluarga. Tetap saja, harus berpisah.
Setelah keluar dari sel tahanan, kini dirinya sudah disambut oleh keluarga serta kedua sahabat dan orang kepercayaan keluarganya.