Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Penjelasan


__ADS_3

"Seharusnya kamu itu berkata jujur sejak pulang ke Kampung, bukan menyembunyikan kebenaran yang kamu miliki. Kasihan adik kamu, Henny. Harus kecewa karena perbuatan kamu, sakit hati itu sudah pasti." Ucap Nenek Aruma yang masih penuh kekecewaan.


"Nek, Nanney benar-benar meminta maaf. Karena Nanney, Nenek jadi kecewa dan juga marah. Sekarang juga Nanney s,iap untuk menjelaskan semuanya pada Nenek. Tapi hanya kita berdua saja, tidak untuk dengan Danu." Jawab Nanney dan menunjuk pada suami adiknya.


"Aku Regar, bukan Danu." Sahut dari suami Henny yang langsung menyambar ucapan Nanney yang belum selesai berbicara dengan Nenek Aruma.


"Yang dikatakan Nanney itu benar, lebih baik kamu keluar sebentar." Ucap Nenek Aruma pada suami Henny.


"Tidak, Nek. Nanney bisa berbohong untuk menutupi kebenaran yang ada." Jawabnya berusaha untuk mencegah saat mengusir dirinya dari ruang pasien tersebut.


"Nenek lebih percaya sama Nanney daripada kamu, cepat keluar sebentar." Ucap Nenek sambil mengarahkan jari telunjuknya pada pintu.


Tidak ada cara lain untuk tetap berada di dalam ruangan, akhirnya sosok Danu memilih untuk keluar.


Kini, tinggallah Nanney dan Nenek Aruma di ruang rawat pasien. Pelan-pelan, Nanney menghembuskan napasnya agar tidak terasa sesak.


"Cepat kamu jelaskan semuanya pada Nenek." Perintah Nenek Aruma yang sudah tidak sabar untuk mendapatkan penjelasan atas kebenaran.


"Bagaimana dengan Henny, Nek? dengan siapa dia?"


"Henny baik-baik saja dan ditemani oleh tetangga, cepat kamu jelaskan sebelum Nenek berubah murka kepadamu karena perbuatan yang sudah kamu lakukan dan menyakiti adik kamu."


Nanney yang juga tidak ingin masalah terus tersimpan, akhirnya ia membuka kebenaran.


Nenek Aruma yang tidak ingin ada kalimat yang terlewatkan, Beliau mendengarnya dengan seksama dan sangat teliti di setiap yang Nanney ucapkan hingga selesainya penjelasannya.


"Apa! jadi, kamu menikah dengan kakaknya? dan kamu dijadikan umpan balas dendam? Nenek tidak terima kamu dijadikan pembalasan." Ucap Nenek Aruma yang sangat terkejut ketika mendengarkan semua cerita dari Nanney.


"Nek, semua sudah berakhir. Pembalasan tidak perlu dibalas dengan pembalasan, Nanney sudah lapang untuk menerima semua ini. Yang Nanney inginkan, hidup dengan tenang dan damai bersama tanpa adanya kebencian apapun." Jawab Nanney penuh harap.

__ADS_1


Bukan berarti tidak berani untuk membalaskan dendam pada suaminya. Nanney tidak ingin adanya kebencian yang tertanam pada dirinya. Bagi Nanney, barang siapa yang menanam, maka akan menuai juga hasilnya.


Nenek Aruma yang sudah mendengarkan tentang semuanya, hatinya lebih sakit lagi melebihi Henny yang dibohongi oleh Nanney.


Saat itu juga, Nenek Aruma langsung memeluk seorang Nanney yang tengah menangis sesenggukan.


"Maafkan Nenek yang sudah menuduh kamu yang bukan-bukan. Nenek benar-benar tidak tahu tentang pribadimu. Bahkan saat kamu bersedih, tak terlihat seperti apa kesedihanmu." Ucap Nenek sambil memeluk Nanney.


Merasa sulit untuk bernapas, Nanney melepaskan pelukan dari Nenek Aruma. Kemudian, Beliau mengusap air matanya.


"Nenek tidak bersalah dan tidak perlu meminta maaf pada Nanney, justru ini semua karena Nanney yang sudah banyak berbohong sama Nenek dan juga Henny." Jawab Nanney yang mengakui akan kesalahan karena telah berbohong.


"Baiklah, sekarang Nenek sudah mengerti. Kamu yang sabar ya, Nak. Percayalah, tidak selamanya manusia akan bertahan dalam masalah. Suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan kebahagiaan." Ucap Nenek Aruma menyemangati.


Nanney tersenyum bahagia saat pengakuan darinya diterima baik oleh Nenek Aruma tanpa harus memperpanjang masalah.


Tentunya, takut masalah akan semakin panjang dan juga rumit, pikir Nenek Aruma.


"Semoga saja tidak sampai satu minggu, Nek." Jawab Nanney yang tentunya penuh harap.


"Nenek hanya bisa mendoakan kamu, semoga semuanya dapat diselesaikan dengan baik dan tidak ada dendam diantara suami kamu yang pertama maupun yang kedua." Ucap Nenek Aruma penuh harap, Nanney mengangguk.


Cukup lama dalam ruangan, Nenek Aruma menyadari jika Beliau sudah mengusir sosok Danu untuk menunggunya diluar.


"Nak Danu, ayo masuk." Panggil Nenek Aruma.


Merasa dipanggil dan diminta untuk masuk kedalam. Dengan semangat, langsung masuk kedalam ruang rawat pasien untuk menemui Nanney yang tengah duduk ditepi ranjang.


"Sayang, apakah kamu sudah menjelaskan semuanya dengan benar?" tanyanya.

__ADS_1


Nanney mengangguk, tapi tak dibarengi senyuman.


"Sekarang Nenek sudah percaya jika saya ini adalah istrinya Nanney kan, Nek?"


Nenek Aruma tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari suami Henny.


"Ya, Nenek sudah mendengarkan penjelasan dari Nak Nanney dengan detail. Jadi, kamu tidak perlu menjelaskannya lagi sama Nenek." Jawab Nenek Aruma dan tersenyum.


'Aku yakin, jika Henny akan merasa lega jika kebenaran ini akan terungkap. Lagi pula, Nanney hamil bukan anak dari lelaki ini. Tetapi, kakak dari suami pertama Nanney. Henny masih beruntung, karena lelaki ini masih menjaga harga dirinya.' Batin Nenek Aruma merasa lega setelah mendapatkan penjelasan dari Nanney.


"Sayang, bagaimana dengan keadaan kamu? kalau sudah mendingan, aku akan bilang sama Bu Dokter untuk meminta izin agar bisa pulang."


"Jangan panggil aku dengan sebutan sayang, aku tidak ingin menyakiti perasaannya adikku nantinya saat berada di rumah. Lebih baik kamu panggil saja dengan sebutan nama. Setidaknya hargai adikku, aku mohon untuk sementara ini sampai Kak Ciko sudah datang bersama Kak Gane menjemput kita untuk kembali ke Kota."


"Jadi, kamu sudah memberi kabar pada mereka jika aku masih hidup, begitu kah?" tanyanya penasaran.


"Ya, aku sudah memberi kabar pada mereka. Tapi tidak dengan Kak Gane, entah sudah mengetahuinya dari Kak Ciko atau tidaknya aku tidak tahu."


"Aku merasa yakin jika Kak Gane tidak diberi tahu oleh Kak Ciko, aku tahu Kak Ciko itu seperti apanya. Tidak mudah untuk mengatakan langsung, itulah Kak Ciko."


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Lebih baik kita siap-siap untuk pulang, aku ingin cepat-cepat bertemu Henny dan menjelaskan semuanya." Pinta Nanney yang sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan menjelaskan semuanya.


Sedangkan di perjalanan, Gane dan kedua anak buahnya tengah beristirahat di warung makan karena perut sudah keroncongan dan juga sudah lewat dari jam makan siang.


Gane yang tengah menikmati sup tulang iga, tiba-tiba ia teringat pada istrinya. Tak sabar rasanya untuk segera bertemu, tentunya untuk mengobati kerinduannya yang sudah lama tak pernah bertemu.


"Cik, Bos kamu masih waras, 'kan? lihatlah, senyum-senyum sendiri udah kek kerasukan jin seksi saja." Kata Doin sambil menunjuk pada Gane yang tengah duduk dibawah pohon sambil menikmati sup tulang iga.


"Mana ada jin seksi, yang ada mata kamu tuh yang harus dicuci." Jawab Ciko sambil mengunyah makanan.

__ADS_1


__ADS_2