
"Kenapa? apakah karena insiden kecelakaan itu?" tanya Nanney ingin tahu.
"Bukan karena itu, ah ya, aku hampir lupa. Aku ucapkan terimakasih banyak, karenamu aku dapat diselamatkan." Ucapnya sambil membuka bungkusan cemilan dan menyodorkannya sang istri, Nanney pun menerimanya.
"Itu sudah menjadi kewajiban sesama makhlukNya, karena kita hidup tidaklah sendirian, kita juga butuh pertolongan. Makanya, kita diwajibkan untuk saling tolong menolong."
"Kalimat yang sangat bijak, ayo dimakan." Kata Gane, kemudian ia menyesap minumannya.
"Ya Kak, terimakasih banyak. Kalau boleh tahu, mau berapa hari kita berada disini Kak? maaf, aku basa basi untuk menanyakannya.
"Tidak lama, mungkin satu minggu."
"Satu minggu?"
"Ya, satu minggu. Nikmati saja liburan kita ini, mumpung gratis." Jawabnya dan menyuapi mulutnya dengan cemilan.
"Apa tidak terlalu lama?"
"Menurutku tidak terlalu lama, bagiku sangat cukup untuk liburan dalam waktu satu minggu."
Sejenak Nanney terdiam, rupanya yang diharapkannya tidak sesuai apa yang ia pikirkan.
"Kenapa? kelamaan, ya. Bagimu mungkin terlalu lama, karena kamu tidak mau menikmatinya. Mungkin kalau kamu perginya bersama Regar, maka kamu akan merasa terlalu cepat." Ucap Gane sambil tersenyum ke sembarang arah.
Sekilas Nanney memperhatikan sang suami yang tersenyum dengan pandangan yang terlihat ada sesuatu yang ia sembunyikan.
'Andai saja, gadis kecilku masih ada. Maka hari-hariku terlalu singkat.' Batin Gane sambil menatap langit biru.
__ADS_1
Nanney sendiri hanya bisa diam, kemudian ia menyesap minumannya itu. Pandangannya ikut mengarah pada langit yang biru.
Sejenak menghembuskan napasnya, kemudian menariknya kembali dalam dalam dan membuangnya dengan pelan juga.
Kedua insan yang sama-sama merindukan orang yang dicintainya, bahkan detak jantungnya seakan melemah. Ingin rasanya berteriak, tapi tak kuasa untuk melakukannya. Nanney yang terasa hampa, ia menundukkan pandangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Gane saat menoleh pada istrinya yang didapati tengah menunduk sedih. Nanney segera mendongak dan menatap suaminya.
"Aku tidak apa-apa, hanya terasa pusing saja. Mungkin karena aku belum beristirahat, jadi sedikit pusing." Jawabnya.
"Istirahatlah, tenang saja, aku akan tetap disini sampai kamu benar-benar merasa enakan. Jangan khawatir, kamu bisa mengunci pintunya jika kamu merasa takut."
"Serius? Kak Gane tidak marah?"
"Tentu saja tidak, istirahatlah." Jawabnya. Nanney yang sudah merasa pusing, ia segera bergegas masuk ke kamar. Sebelumnya, Nanney menghabiskan minumannya.
Gane yang tidak ingin mengganggu tidurnya sang istri, ia memilih untuk menikmati cemilannya dan minuman yang sudah ia pesan.
Sambil memandangi pemandangan yang sangat indah untuk dipandang, tidak lupa juga dengan cemilan serta minimumannya. Waktupun mulai menjelang sore, matahari mulai menenggelamkan cahayanya. Suasana di sore hari mulai terasa dingin dengan angin malam yang mulai datang.
Saat itu juga, Gane merasakan sesuatu yang terasa panas didalam tubuhnya. Tentu saja seperti ada rang*sangan yang membuat pada bagian tertentu ingin bergejolak yang lebih dalam.
Tidak hanya itu saja, kepalanya pun ikut terasa pusing. Bahkan Gane sendiri sulit untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Gane yang merasakan hal yang ingin menuntutnya lebih, ia ingin segera masuk kedalam kamar untuk berendam dalam air hangat. Berharap dapat meredakan apa yang sedang ia rasakan, benar-benar sangat sulit untuk ia tahan. Bahkan dirinya sendiri pun lupa jika sang istri tengah beristirahat.
Gane tidak peduli dengan istrinya yang sedang tertidur pulas, yang terpenting dirinya dapat meredakan sesuatu yang sudah bergejolak hebat didalam sana.
__ADS_1
Saat sudah berada didalam kamar, saat itu juga pandangannya tertuju pada istrinya yang sedang meringkuk sambil menahan rasa yang sama halnya dirasakan suaminya. Nanney memeluk erat pada sebuah bantal yang dapat meredakan sesuatu yang ingin segera ingin dituntaskan.
Pikiran yang sudah kotor karena sesuatu, Gane tidak peduli. Selain kepalanya yang terasa sakit bercampur pusing dan juga has*rat yang ingin segera dipenuhi. Gane tidak peduli, baginya istrinya sudah menjadi miliknya yang sah. Baginya yang terpenting apa yang sedang dirasakannya itu telah terpenuhi.
Sambil berjalan sempoyongan, Gane mendekati istrinya dan langsung merampas bantal yang ada di dekapan istrinya itu dan membuangnya ke sembarang arah. Kemudian ia menjatuhkan tubuh istrinya dan menindihnya dengan paksa.
Antara sadar dan menginginkannya, Gane dan Nanney sama-sama terbuai oleh suasana menjelang malam. Ingin berteriak, Nanney sendiri tidak mampu untuk melakukannya. Panas membara, itulah yang dirasakan oleh keduanya.
Tanpa pikir panjang, Gane langsung menc*ium bibir ranum milik istrinya dengan lembut. Lambat laun ciu*mannya menjadi rakus dan semakin dalam. Bahkan menginginkan hal lebih dari sekedar ciu*man biasa.
Nanney yang juga ikut terbuai dan menginginkan hal yang lebih, ia menikmati setiap sen*tuhan yang diberikan oleh suaminya. Meski terasa pusing, Gane masih merasakan kesadaran walau kesadarannya menghilang. Tetap saja, Gane meminta izin kepada pemiliknya sebelum untuk melakukan hal yang lebih.
"Penuhi aku untuk melakukannya padamu." Bisik Gane didekat daun telinga istrinya, Nanney yang sulit mengatur kesadarannya, hanya bisa mengangguk pelan.
Gane yang mendapatkan persetujuan dari istrinya, seakan menang lotre. Tanpa pikir panjang, Gane melanjutkan ritualnya. Pelan pelan ia mulai menc*umbu istrinya dengan sangat lembut.
Nanney yang sudah terbuai oleh perlakuan suaminya, ia juga meresponnya. Saat yang dirasakan sampai ke puncaknya, lolos lah pertahanan pada keduanya hingga terkulai lemas dalam pelukannya masing masing. Nanney masih terasa pusing, ia langsung memejamkan kedua matanya. Sesuatu yang baru saja ia lewati bersama suaminya seakan hanyalah mimpi semata, maka dari itu, Nanney dapat tidur dengan pulas tanpa memeriksa keadaannya yang sudah polos.
Gane yang mendapatkan bercak darah pada seprai yang berwarna putih pun, ia sungguh terkejut. Selama ini yang sudah ia pikirkan, mahkotanya sudah diambil oleh adiknya. Tetapi kenyataannya, dirinyalah yang sudah mengambil sesuatu yang paling berharga milik istrinya itu. Seketika, dirinya tertunduk lemas setelah membaringkan tubuh istrinya, serta menyelimuti nya.
Tubuh yang gemetaran, seperti itulah yang dirasakan Gane. Dendam yang sudah ia susun, tiba tiba melemah begitu saja.
Sejenak ia terdiam, mencoba untuk memikirkan sesuatu yang dapat membuatnya kembali tenang.
"Apa yang sudah aku lakukan, aku sudah merenggut mahkotanya." Gumamnya sangat lirih saat ia menatap wajah polos istrinya yang mana sudah diambil mahkotanya tanpa ada cinta apapun.
Bahkan, Gane merasa bersalah besar terhadap perempuan yang ia cintai dari dulu. Janjinya pun seakan hilang begitu saja karena sebuah dendam, benar-benar menyesalinya.
__ADS_1
Saat itu juga, Gane teringat dengan ucapan Ciko yang sudah memperingatkannya untuk berhati-hati dengan perempuan. Dan benar saja, kini dirinya sudah masuk kedalam perangkapnya sendiri.