
Gane yang sudah tidak sabar, cepat-cepat pergi ke dapur untuk mengambil air minumnya. Dengan pelan, Gane membuka pintunya.
Doin yang kebetulan sudah bangkit dari tempat tidur dan kini tengah berdiri didekat Regar. Karena kamar tamu dan kamar Nanney berhadapan, saat itu juga dirinya melihat Gane yang baru saja membuka pintunya.
Bak kilat yang akan menyambar, Doin langsung keluar dari kamar dan menarik Gane. Sedangkan Regar masih bertanya sesuatu pada Ciko.
"Tuan!" panggil Doin setengah berteriak.
BRUG
Keduanya pun jatuh bersamaan, untung saja tidak membentur dinding. Regar dan Ciko yang mendengar teriakan Doin, keduanya bergegas keluar dari kamar.
"Tuan, jangan ceroboh di rumah ini." Bisik Doin, sedangkan Gane langsung mengusap punggungnya sendiri karena lumayan sakit ketika jatuh ke lantai. Kemudian, ia membenarkan posisinya dan segera berdiri dengan susah payah.
"Kalian berdua kenapa bisa jatuh?" tanya Regar ingin tahu.
"Ini, Doin menarik tangan Kakak." Jawab Gane yang terlihat begitu jujur menurut Doin.
"Ya, habisnya Tuan tiba-tiba muncul dari ruang tamu. Memangnya Tuan dari mana saja? apakah nongkrong di depan rumah?" Ucap Doin yang langsung menyambar ucapan dari Gane yang tidak lupa dengan memberi kode agar alasannya dapat diterima.
"Ah ya, tadi Kakak nongkrong di depan rumah untuk cari angin. Tidak tahunya Ujannya tidak mau berhenti, akhirnya Kakak masuk ke rumah." Jawab Gane dengan alasan, meski alasannya itu tidak masuk akal.
Regar yang tidak mempunyai kecurigaan apapun terhadap sang kakak, ia merasa lega melihat kakaknya baik-baik saja.
"Kirain aku kemana, kalau gitu aku mau ke kamar mandi." Ucap Regar dan pergi ke belakang.
Sedangkan Gane akhirnya merasa sangat lega ketika dirinya tidak ketangkap basah oleh adiknya. Saat itu juga, Gane ditarik paksa oleh Doin untuk masuk ke kamar.
"Aku mau minum dulu, tenggorokanku kering. Bisa-bisa dehidrasi akunya, Doin." Ucap Gane dan bergegas pergi ke dapur.
'Selamat, selamat. Untung ada Doin yang sudah berjaga-jaga, aku tidak tahu apa yang terjadi jika tadi Regar tengah memergoki aku.' Batinnya penuh kekhawatiran dengan nasibnya sendiri ketika sang adik dapat mengetahui kebenarannya.
__ADS_1
"Kak, aku tidur duluan ya." Ucap Regar mengagetkan sang kakak saat sudah keluar dari kamar mandi dan melewatinya yang sedang mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering itu usai ritual malamnya bersama istrinya.
"Ya, tidak apa-apa. Kakak juga langsung mau tidur, ngantuk." J
Sahut Gane, kemudian ia meminumnya hingga tandas dua gelas.
Setelah itu, Gane maupun Regar kembali ke tempat tidurnya masing-masing. Karena tidak ingin ketahuan, sementara Gane masuk ke kamar tamu.
Regar sendiri yang tidak punya pilihan dan malas membuat perdebatan dengan Nanney, dirinya memilih untuk kembali ke kamar yang ditempati bersama Henny istri keduanya.
Sedangkan Gane duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya.
"Untung saja kamu, Bos. Hampir saja Bos Gane ketahuan." Ucap Ciko yang kini ikutan duduk disebelahnya, sedang Doin duduk di kursi.
"Aku sudah siap kok Cik, kalau memang harus ketahuan. Percuma juga aku menutupinya dari Regar, ujungnya juga bakal ketahuan. Sepertinya aku harus berterus terang dengannya, dari pada harus ketahuan duluan." Jawab Gane yang pada akhirnya ingin menyerahkan diri di hadapan adiknya.
Ciko dan Doin pun seperti tidak percaya dengan tekad Bosnya sendiri.
"Aku serius, Cik. Sepertinya setelah sarapan pagi, aku akan berterus terang dengan Regar. Aku siap segala resikonya. Apapun yang terjadi, aku dan istriku akan menerimanya. Yang jelas, kita berdua akan tetap bertahan dengan pernikahan." Jawabnya dan sejenak untuk kembali berpikir.
"Yang aku takutkan, Tuan Regar akan menaruh kebencian dan dendam." Ucap Ciko menyuarakan hatinya yang merasa takut jika adik perempuannya akan dijadikan sasaran atas amarah dari seorang Regar.
Bagaimana tidak akan murka nantinya? jika Regar rupanya merasa di bohongi oleh kakaknya sendiri, pikir Ciko dengan segala kekhawatirannya.
"Kita doakan saja, semoga tidak ada persaingan sengit di antara aku dan Regar." Kata Gane yang tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Ya Tuan, apa keputusan ini sudah dipikirkan matang-matang? takutnya akan ada timbul penyesalan." Timpal Doin ikut berkomentar.
"Keputusanku sudah bulat, lebih cepat akan menjadi lega. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan istriku bak main petak umpet." Jawab Gane yang tetap pada keputusannya.
Ciko dan Doin yang tidak bisa memberi solusi yang lain, mau tidak mau mengikuti apa yang sudah dijadikan keputusan Bosnya.
__ADS_1
Karena rasa kantuk yang terus menguasai kedua matanya, mereka bertiga segera melanjutkan kembali tidurnya. Gane yang sudah nekad antara ketahuan dan berterus terang, dirinya kembali tidur di kamar istrinya.
"Bos Gane benar-benar nekad ya Cik." Ucap Doin sambil berbaring di sebelah Ciko.
"Do'akan saja, agar semuanya dapat diselesaikan dengan baik." Jawab Ciko sanbil menarik selimut karena cuaca yang mulai terasa dingin di malam hari.
Gane yang sudah berada di dalam kamar, ia naik ke atas tempat tidur dan kembali melanjutkan tidurnya. Dengan tubuhnya yang polos, Nanney tersadar saat sang suami memeluk dirinya tanpa sehelai benang apapun yang menempel pada bagian sekujur tubuhnya.
Gane yang lepas kontrol, dirinya kembali mengulangi kenikmatan itu pada istrinya. Nanney sendiri tidak bisa menolaknya, mau tidak mau akhirnya menuruti permintaan suaminya yang menginginkannya lagi.
Selesai melakukan ritualnya, terdengar jelas suara ayam jago saling bersahutan. Gane dan Nanney masih dalam balutan selimut yang sama. Dengan perasaan campur aduk, antara bahagia dan gelisah, kini telah dirasakan oleh Gane maupun istrinya.
"Aku mau bangun dan sekalian mandi, badanku terasa risih." Ucap Nanney membuka suara.
"Ya, duluan aja mandinya. Aku mau pindah ke kamar tamu bersama Ciko dan Doin, tidak apa-apa 'kan?"
"Ya, tidak apa-apa." Jawab Nanney yang masih berada dalam pelukan suaminya.
Entah karena kecanduan atau sebuah kerinduan yang sekian lamanya, Gane serasa tidak ingin lepas dan jauh dari istrinya.
Nanney sendiri yang juga takut ketahuan Regar dalam satu kamar, cepat-cepat Nanney segera membersihkan diri dari ritualnya. Begitu juga dengan Gane yang segera pindah ke kamar tamu agar tidak ketahuan. Meski sudah pasrah, Gane tetap berhati-hati kepada adiknya. Tentunya, mencari waktu yang tepat untuk berterus terang.
Sedangkan di kamar sebelah, Regar sendiri terbangun dari tidurnya setelah mendengarkan suara ayam jago yang berkokok dan saling bersahutan.
Begitu juga dengan Henny, dirinya segera bergegas bangun dan melakukan aktivitas di pagi hari yang seperti biasanya tugas seorang istri.
Pengakuannya setelah BAB yang ini ya..
akan ada insiden yang mengejutkan, kira-kira siapa ya?
"senyum"
__ADS_1