
Akhirnya, mobilnya pun telah berada di depan warung makan yang pernah disinggahi oleh Ciko dan Doin ketika pulang mengantar istri Bosnya.
Henny yang masih tertidur, rupanya ia merasakan jika ada yang menggoyangkan badannya. Siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri yang membangunkan dari tidurnya.
Dengan reflek, Henny terbangun dari tidur dan segera membenarkan posisinya. Takut, jika dirinya disangkakan perempuan gatal.
"Maaf, aku sudah merepotkan Mas Danu. Maksud aku, Mas Regar." Ucap Henny tanpa menatap suaminya, tetapi alih-alih dirinya membenarkan pakaiannya.
"Ayo kita turun, sudah waktunya untuk makan siang." Ajak Regar tanpa peduli dengan ucapan dari istrinya.
"Memangnya kita ada dimana?" tanya Henny yang merasa bingung dan tidak begitu paham dengan lokasi yang didatangi.
"Kita berhenti di warung makan, ayo kita turun." Jawab Regar dan melepas sabuk pengamanannya. Kemudian, ia turun dari mobil.
Henny yang perutnya juga merasa lapar, dirinya segera turun ikut suaminya.
Alangkah terkejutnya saat membuka pintu mobil, rumah makan yang sangat dikenalinya. Ada rasa malu dan juga takut, Henny sendiri tidak mampu menggambarkan kenangan masa lalunya saat selesai mengenyam pendidikannya di bangku perkuliahan.
Regar yang mendapti istrinya belum juga berjalan, kembali memanggil istrinya.
"Mau masuk atau tidak?" tanya Regar mengagetkan istrinya yang tengah melamun.
"I-i-ya." Jawab Henny dan berjalan mengikuti suaminya dari belakang.
Begitu juga dengan Nanney dan suaminya maupun yang lain, mereka baru saja turun dari mobil. Kemudian, masuk ke warung makan.
Henny yang merasa gugup dan bercampur aduk rasanya, ingin sekali balik badan dan masuk lagi kedalam mobil. Tapi, niatnya diurungkan karena tidak ingin membuat suaminya marah dan juga kesal dengannya.
Saat itu juga, semua karyawan dibuat terkejut saat Regar masuk ke warung makan. Tidak hanya kagum, tapi juga terpesona ketika melihat ketampanan Regar. Belum lagi dengan sosok Gane yang masih dibelakang.
Regar mendapatkan sambutan hangat oleh beberapa karyawan, dan langsung diikuti oleh banyak pelayan untuk menawarkan beberapa menu makanan dan minuman.
Tetapi, saat Henny hendak masuk ke warung makan, tepatnya pada pintu masuk. Henny dikejutkan dengan sosok perempuan yang tidak begitu asing di ingatannya.
Masih dengan penampilannya yang sederhana, Henny tetap percaya diri.
__ADS_1
"Arin,"
Dengan lirih, Henny menyebut nama yang tidak asing.
"Henny, belum ada kapoknya kamu itu. Berani-beraninya kamu datang ke warung ini." Ucapnya dengan tatapan sinis dan tidak suka.
Sedangkan Nanney dan yang lainnya termasuk suami dan Nenek Aruma memilih acuh tak acuh dengan Henny. Karena tahu, yang sedang dihadapi Henny yang tidak lain akan ada penghinaan. Jadi, semua memilih untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Itu kan, dulu. Bukankah sekarang ini kamu masih menjalin hubungan dengan Eros. Jadi, untuk apa kamu menghalangiku. Aku datang kesini karena ingin membeli makanan, buka untuk berdebat denganmu." Jawab Henny yang kini mulai berani dan tidak ingin jika dirinya selalu ditindas, dihina dan tidak ada harga dirinya.
"Awas saja kamu, kalau sampai menggoda Eros ku lagi." Ucap Arin memberi sebuah ancaman, Henny tersenyum dan bergegas pergi dari hadapan Arin.
"Aw! maaf, aku tidak sengaja." Ucap Henny merasa bersalah karena menabrak seseorang.
Seketika, Henny dibuatnya terkejut saat siapa orangnya yang ada dihadapannya itu. Siapa lagi, kalau bukan lelaki yang pernah dekat dengannya di waktu kuliah.
Tidak hanya dekat, keduanya pernah menjalin cinta. Tapi, cinta itu redup ketika Arin datang untuk menjadi perusak.
Eros, lelaki pemilik warung yang juga pernah memperkerjakan Henny untuk menyambung kuliahnya. Tapi, saat hadirnya Arin, Henny tersisihkan karena selalu mendapatkan sikap buruk dari Arin.
Eros pun ikut terkejut ketika melihat sosok Henny yang ada di hadapannya itu.
"Maaf, aku sudah lapar." Ucap Henny beralasan karena tidak ingin mendapatkan masalah lebih besar lagi dari yang sudah-sudah.
"Henny, tunggu." Panggil Eros yang berusaha untuk mengejar Henny.
Belum juga ikut duduk bersama suaminya dengan yang lain, Henny sudah dihadang oleh Arin dengan membawa minuman jeruk ditangannya.
Sedangkan Regar dan yang lainnya masih menyaksikan bagaimana Henny diperlukan buruk oleh seorang perempuan. Tidak hanya itu saja, pandangan dari Regar tertuju pada sosok Eros yang sedang memanggil nama istrinya.
Sontak saja, Regar bangkit dari posisinya. Entah ada rasa cinta atau tidaknya, nalurinya sebagai suami ikut merasa geram saat melihat istrinya akan diperlakukan buruk oleh orang lain.
"Sudah aku peringatkan, jangan menggoda Eros ku. Apakah kamu tidak paham, hah!"
"Aku tidak menggodanya, hanya menabrak Eros saja, tidak lebih dan tidak sengaja,"
__ADS_1
"Aw!" pekik Henny saat mendapat serangan dari Arin.
Saat itu juga, Regar maupun Eros bergegas mendekati Henny.
Tanpa pikir panjang, Regar langsung menyambar gelas yang ada dimeja kosong berisi air minum dan membalasnya seperti yang dilakukannya pada sang istri.
"Keterlaluan, kamu itu. Sekali lagi kamu berani mengganggu istriku, apalagi sampai menyakiti fisiknya, aku pastikan kamu akan berakhir di balik jeruji besi." Ucap Regar dengan ancamannya.
Eros dan Arin yang mendengarkan nya pun, seperti tidak percaya dengan ucapan dari Regar yang mengakui bahwa dirinya adalah suami Henny.
Entah kebetulan atau berpura-pura, keduanya masih belum juga percaya.
"Suami?"
Eros masi belum juga percaya jika Henny sudah menikah, ditambah lagi dengan lelaki yang terlihat lebih sukses darinya. Bahkan, Eros merasa kalah tampannya dengan sosok Regar.
"Ya! aku istrinya Henny, dan aku tidak akan membiarkan istriku bertemu dengan kalian berdua." Ucap Regar dengan tegas.
Arin masih diam, ada rasa takut ketika mendengar bahwa Henny sudah bersuami. Sedangkan dirinya sendiri masih juga belum menikah.
"Tuan, Nona, ayo kita habiskan dulu makanannya. Kita tidak mempunyai waktu lama, kita harus segera pulang ke Kota." Ucap Doin mencoba untuk menghentikan perdebatan antara Tuannya dan dua orang yang hanya membuang-buang waktu saja, pikir Doin.
Lagi-lagi Eros dan Arin kembali dikejutkan dengan panggilan yang didengar.
"Ya, lanjutkan saja makannya. Aku dan istriku akan segera menyusul." Jawab Regar, Doin mengangguk.
"Baik, Tuan." Ucap Doin segera kembali ke tempat duduknya.
Setelah itu, Regar meraih tangan milik istrinya dan menggandengnya serta mengajak ke tempat duduk untuk makan siang.
Arin dan Eros masih sama bengong nya dengan apa yang dilihat maupun di dengar.
Rasa sakit itu ada, tapi Eros tidak ingin dikatakan egois hanya karena gagal untuk mendapatkan cinta dari Henny.
Arin sendiri merasa dongkol saat melihat Henny begitu sempurna nasib hidupnya yang menikah dengan lelaki yang menurutnya sangat sempurna, pikirnya sambil memperhatikan Henny hingga bayangannya menjauh.
__ADS_1