
Henny melirik suaminya yang tengah bernaring, dirinya tersenyum saat suaminya telah gagal untuk mengganggu kebersamaan sang kakak.
"Ya maaf, aku hanya tidak ingin kedekatan kak Nanney terganggu. Apalagi sedang hamil, pasti membutuhkan perhatian dari suaminya. Dan tentunya nih, mereka berdua tidak ingin diganggu." Ucap Henny sambil menatap lurus pada dinding kamar.
Regar langsung terbangun dari posisinya, kemudian menatapnya dengan seksama.
"Memangnya siapa juga yang mau mengganggu mereka? hem, pikiran kamu itu benar-benar sangat sempit. Aku itu mau mengajak kamu juga, eee kamu pakai pura-pura sakit perut segala. Sekarang nikmati hari ini berada dalam kamar, pijitin aku, titik. Ini hukuman untuk kamu karena sudah sok tahu, ngerti."
Jawab Regar dan langsung berbaring disebelahnya, tentunya sudah siap untuk mendapatkan pijatan dari istrinya.
Henny yang mendengarnya pun, dirinya mendadak melongo. Pasalnya, bukannya diajak jalan jalan, justru diminta untuk memijit suaminya lantaran karena tidak peka dengan suaminya sendiri.
"Jad-jadi, Mas Regar mau mengajak aku jalan-jalan juga?" tanya Henny ingin memastikan.
Jika benar ya, sungguh menyesal karena merasa salah mengira atas sikap suaminya waktu berbicara dengan kakak iparnya.
__ADS_1
"Sudah, cepetan pijitin aku. Ini semua gara-gara kamu, seharusnya kita ikut jalan-jalan dengan Kakak." Ucap Regar dan langsung menarik tubuh istrinya.
"Aw!" pekik Henny yang terjatuh di atas tubuh suaminya.
Henny terkejut dibuatnya, lantaran sama beradu pandang satu sama lain. Regar yang sudah pernah merasakan sen*sasi dari istrinya, ia tidak akan membuang kesempatan emasnya dan langsung berpindah posisi.
Kini, Henny yang berada dibawah kungkungan suaminya. Sungguh, detak jantung Henny berdegup sangat kencan. Meski sudah pernah melakukannya, tetap saja ikut terpancing dengan sent*uhan dari suaminya.
Tidak peduli dengan waktu yang masih pagi, keduanya tengah menikmati pagi harinya dengan ritual yang sudah tidak tertahan lagi hingga keduanya terbuai satu sama lainnya.
Nanney masih bersandar pada suaminya sambil memejamkan kedua matanya, agar ketika bangun sudah sampai ditempat lokasi.
Gane yang tidak bisa tidur, dirinya memilih untuk mengingat masa lalunya. Yakni, mengingat kembali kenangan bersama sang istri.
Begitu bahagianya sosok Gane yang akhirnya dapat menemukan kembali cintanya yang pernah menghilang bak ditelan bumi. Kini, impian yang pernah hilang, telah kembali pulang bersama kenangan masa lalu.
__ADS_1
Mobil pun berhenti.
"Ada apa, Pak?" tanya Gane yang tersadar dari lamunannya.
"Kita sudah sampai di perkebunan buah jeruk, Tuan." Jawab Pak Supir sambil menunjukkan spanduk yang bertuliskan alamat yang dicari.
Gane yang masih belum menyempurnakan kesadarannya dan juga penglihatan yang belum cukup jelas untuk dilihat, Gane mencoba untuk memeriksa disekelilingnya agar lebih jelas lagi.
"Sayang, kita sudah sampai. Ayo, kita turun." Panggil Gane sambil menggoyangkan tubuh istrinya agar segera terbangun dari mimpinya.
Nanney yang merasa ada yang membangunkan tidurnya, ia langsung ke posisi semula.
"Beneran nih, kalau kita itu sudah sampai?"
Karena masih terasa bermimpi, Nanney mencoba untuk memastikannya. Takut, jika dirinya masih berada dalam mimpi.
__ADS_1
"Ya, sayang. Kita ini sudah sampai di kebun jeruk, aku sedang tidak berbohong sama kamu. Seperti janjiku untuk mengabulkan permintaan kamu tadi waktu di rumah." Jawab Gane sambil menahan rasa kantuk.