Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Pengakuan dan keputusan


__ADS_3

Nanney yang seperti terhipnotis oleh suaminya, hatinya begitu terasa bahagia saat dipertemukan kembali dengan calon ayah dari janin yang sedang dikandungnya.


"Aku akan membuktikan semuanya padamu. Karena kamu adalah bagian nyawaku sepenuhnya." Ucap Gane yang terkesan seperti menggombal di hadapan istrinya.


Nanney pun tersenyum pada suaminya dan duduk di tepi ranjang sambil menatap lurus ke depan, tepatnya pada sebuah lemari baju.


Gane sendiri ikut duduk di sebelahnya. Kemudian, ia memegangi perut istrinya yang mulai terlihat sedikit membuncit, giliran Gane ikut tersenyum bahagia dan mengecup keningnya.


Setelah itu, Gane memandangi wajah istrinya yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.


Bagaimana mau bersemangat, hati dan pikirannya saja tak sejalan karena sebuah keputusan dan pilihannya. Sedangkan Gane masih menatap wajah istrinya, bingung itu sudah pasti.


"Maafkan aku yang sudah menjadi pengacau segalanya. Sedangkan aku sendiri tak tahu harus berkata apa dan kapan harus berterus terang dengan suami adikku." Ucapnya dan bertanya pada istrinya, tentunya merasa bersalah atas perbuatan yang sudah ia lakukan tanpa pikir panjang dan akibatnya.


Nanney masih diam, pandangannya masih sama pada lemari bajunya.


Gane kembali meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.


"Apakah kamu masih mengharapkan Regar? aku sadar dan tahu diri dengan posisiku, aku hanya suami kamu yang hanya menuruti ego dan juga sebagai perusak rumah tanggamu bersama Regar. Tidak hanya itu saja, kesalahanku yang sudah menikahimu karena ajang balas dendam ku padamu atas tidak ditemukannya adikku. Jadi, aku sadar jika kamu ingin mengakhirinya." Ucapnya lagi dan juga disertai dengan sebuah pertanyaan yang cukup berat untuk diucapkannya.


Nanney masih diam, mencoba untuk berpikir kembali menimbangnya lagi dan menentukan pilihannya.


Bimbang, dilema, perasaan yakin, dan lain-lain terkadang muncul dan pergi begitu saja dalam benak Nanney maupun Gane suaminya.


"Aku tahu, jika kamu dan Regar suka sama suka. Bahkan, sudah dalam hubungan pernikahan. Aku tidak mempermasalahkannya jika kamu menginginkan mundur dari pernikahan kita ini. Aku yang sadar diri akan mundur dan merahasiakan hubungan kita ini, dan calon anak yang ada dalam kandungan mu." Ucap dengan sangat berat hati dan tentunya terasa begitu sakit ketika harus melepaskan istrinya.


Tapi, mau bagaimana lagi jika istrinya sendiri tidak mau menerimanya sebagai suami.


Ucapan yang katanya akan memperjuangkan dan membuktikan pada istrinya, seakan hanya angin lalu karena rasa bersalahnya pada sang adik yang sudah melakukan kesalahan yang fatal.

__ADS_1


Saat itu juga, Nanney langsung menoleh pada suaminya dan menatapnya dengan tajam yang seolah menunjukkan kekesalannya karena ucapan dari calon ayah yang dikandungnya.


Dengan cepat, Nanney melepaskan tangan suaminya karena merasa kesal sekaligus sangat dongkol. Bukannya di lepas oleh Gane, justru semakin erat genggamannya.


"Bukan maksudku untuk meninggalkan tanggung jawabku sebagai suamimu, aku hanya merasa takut jika kamu merasa keberatan untuk menjadi istriku. Aku sadar, jjka aku sudah melakukan kesalahan yang fatal. Jujur, aku sama sekali tidak mempunyai maksud apapun. Aku sadar diri, karena aku sudah merusak pernikahan mu bersama Regar." Ucap Gane yang mulia bimbang dengan pilihannya sendiri.


Bingung mana yang harus dilakukannya agar tidak menyakiti hati yang lain. Tapi, tetap saja akan ada yang tersakiti hatinya walaupun sudah berusaha sebaik mungkin untuk berterus terang sekalipun.


Karena sebuah keputusan yang cukup sulit, Gane sendiri memilih meminta istrinya yang memberikan keputusan. Berat memang, setidaknya dapat mengetahui keputusan dari istrinya itu.


Nanney masih diam, dirinya kembali berpikir. Dilain sisi, ada Henny adiknya sendiri yang kini sudah menjadi istri sah suaminya yang pertama. Tidak mungkin juga untuk menjadi penghancur rumah tangganya. Apa lagi dirinya yang tengah hamil, tidak mungkin juga untuk menyakiti anaknya sendiri dikemudian hari.


Meski dibilang tidak melakukan hubungan layaknya suami istri, tetap saja salah satunya ada yang mengharapkannya untuk tetap bertahan.


Nanney yang masih merasa dilema, sebisa mungkin untuk memberi keputusan yang pasti atas hubungan pernikahannya dengan suaminya yang sekarang.


"Tidak hanya Kak Gane yang merasa bersalah, aku juga. Aku pun sadar, ada seseorang yang tengah menjaga hatinya. Jadi, aku sendiri tidak akan menjadi perusak rumah tangga adikku, karena aku sadar yang sudah merusak pernikahan ku sendiri. Lalu, apa untungnya aku kembali bersama Regar dengan membawa luka untuknya dan juga sebuah kebohongan besar. Ditambah lagi aku sedang hamil, Regar pasti akan memikirkan kembali perhitungan kelahiran calon bayi yang sedang aku kandung ini. Jadi, aku rasa kita tidak perlu untuk menutupi kebohongan atas pernikahan ini. Apapun resikonya, tetaplah berkata jujur padanya." Ucap Nanney dengan yakin sambil menatap suaminya.


Takut, jika istrinya hanya beralasan karena tidak ingin melukai hati adiknya, pikirnya sambil menerka atas dugaannya sendiri terhadap sang istri.


Nanney pun tersenyum menatap suaminya. Kemudian, tangan kirinya ikut menggenggam tangan suaminya.


"Aku serius memilih Kak Gane untuk menjadi suamiku dan hidup bersama membesarkan calon anak kita ini. Aku sendiri tidak ingin hidupku dipenuhi kebohongan, jujur akan lebih tenang meski harus ada yang tersakiti." Jawab Nanney dengan tatapan serius, kemudian meraih tangannya dan meletakkannya pada perutnya yang sedikit mulai membuncit.


Gane yang mendengar jawaban dari Nanney, dirinya merasa sangat bahagia ketika pilihan istrinya tetap untuk bertahan bersamanya.


"Jadi, kamu serius untuk menjadikanku suami kamu?" tanya Gane kembali untuk memastikan keputusan dari istrinya.Takut, jika apa yang diucapkan oleh istrinya itu hanya sebagai bentuk alasannya saja agar bisa menghindari suami pertamanya.


Nanney mengangguk pelan pertanda mengiyakan.

__ADS_1


Saat itu juga, Gane kembali memeluk istrinya.


"Aku akan berjuang dan terus berusaha untuk memberikan cintaku padamu. Aku akan bekerja keras untuk membahagiakan kamu dan tidak membagi cintaku ini kepada yang bukan miliknya. Terimakasih banyak karena kamu masih ingin bertahan dengan pernikahan kita. Aku sangat bahagia mendengarkannya." Ucap Gane sambil memeluk istrinya.


Nanney yang merasa sesak untuk bernapas. Kemudian, ia melepaskan pelukan dari suaminya.


Keduanya kembali saling menatap satu sama lainnya, Gane tersenyum bahagia dengan sebuah jawaban dari istrinya itu. Begitu juga dengan Nanney yang merasa lega kita hubungannya dengan sang suami tetap bertahan tanpa adanya perpisahan.


Mau bagaimanapun, Nanney tidak ingin menjadi pembawa luka untuk adiknya serta calon anaknya nanti ketika lahir.


"Maafkan aku yang tidak bisa berkata romantis dengan gombalan dan rayuan seperti yang lainnya. Tapi, aku akan membuktikannya langsung padamu." Ucap Gane berterus terang jika dirinya tidak bisa berkata romantis dengan istrinya sendiri.


"Aku percaya kok sama Kak Gane, jika Kakak mempunyai prinsip yang sungguh-sungguh." Jawab Nanney, sedangkan Gane tersenyum lebar.


Karena suasana tidak lagi canggung, Gane mendaratkan sebuah ciu*man hangat pada istrinya. Kemudian, keduanya terhanyut dalam suana hening di tengah malam disertai suara petir yang terdengar bersahutan ditengah malam yang dingin.


Angin yang cukup kencang, membuat ruangan kamar terasa dingin. Hujan pun mulai turun dengan derasnya, tentunya membuat suasana terasa hangat ketika dua insan mulai terbawa suasananya untuk menyatukan jiwanya yang pernah terpisah karena waktu dan keadaan.


Gane yang sudah tidak dapat mengontrol hasra*tnya itu, dirinya sendiri lupa dengan apa yang diucapkan sebelumnya untuk tidak meminta haknya pada sang istri.


Tidak hanya Gane yang menginginkan hal lebih dari sekedar ci*uman, Nanney sendiri pun merasa menginginkan hal lebih dari suaminya. Ditambah lagi dengan kondisi yang sedang hamil, terkadang lebih agresif dari sebelumnya.


Gane yang tidak bisa menahan has*ratnya dan segera ingin melakukan pelepasan, dirinya tidak tinggal diam. Berawal dari sebuah ci*uman yang mendarat dibibir milik istrinya, Gane berterus terang jika ingin menuntutnya lebih dari sekedar sebuah ciu*man.


Nanney sendiri tidak melakukan penolakan atas yang dilakukan oleh suaminya sendiri, justru dirinya sangat menikmati dan tentunya sangat membutuhkan belai*an dan sentu*han dari suaminya sendiri.


Tidak dapat dipungkiri, keduanya sama-sama membutuhkannya. Semakin lama dalam buaian yang diciptakan oleh keduanya, tak berselang lama Gane dan Nanney telah memadu cinta ditengah malam hingga pada puncaknya.


Cukup lama melakukan hubungan suami-istri karena lamanya tak bertemu, kini keduanya dipertemukan kembali dan tanpa adanya beban di antara perasaan masing-masing.

__ADS_1


Setelah melakukan ritual panjangnya sebagai mana yang dilakukan suami-istri, Gane dan Nanney melanjutkan tidurnya dengan posisi sang suami memeluk istrinya dalam balutan satu selimut dengan tubuhnya yang sama-sama polosnya.


Tidak peduli dengan pagi harinya nanti, Gane dan Nanney siap menanggung segala konsekuensinya.


__ADS_2