
Selesai memberi sebuah peringatan pada adik iparnya, Gane bergegas pergi dari hadapannya.
"Cik, ayo kita berangkat." Ajak Gane, sedangkan Nanney hanya bisa memandangi kedua sosok laki laki yang kini tengah berjalan menuju pintu utama.
Seketika, Nanney dibuatnya kaget. Pasalnya pintu rumah pun telah dikunci dari luar oleh Gane.
"Bos, yakin nih pintunya dikunci?" tanya Ciko yang merasa takut terjadi sesuatu pada Nanney yang sendirian didalam rumah tanpa ada satu orang pun yang menemaninya.
"Yakinlah, kenapa emangnya?" jawab Gane da balik bertanya.
"Kalau ada sesuatu dari dalam rumah, bagaimana, Bos?" tanya Ciko kembali.
"Tenang aja, kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah menyewa seorang pelayan yang tepat untuknya, dan tentu saja ada beberapa penjaga rumahnya juga. Mulai malam nanti, kita tidak akan kembali ke rumah ini selama belum melewati empat puluh hari kepergian Regar." Jawab Gane memberi penjelasan pada Ciko.
"Apa! kita tidak akan kembali ke rumah ini sebelum melewati empat puluh hari kepergian Tuan Regar? yang benar saja, Bos." Kata Ciko terkejut mendengarkannya.
"Tidak hanya itu saja, Cik. Yang bisa pulang ke rumah ini hanya aku, kamu tetap berada di rumah yang akan kita tempati nanti." Ucap Gane yang tidak goyah dengan apa yang ia rencanakan.
"Apa maksud nya, Bos?" lagi lagi Ciko masih terus bertanya.
"Sudahlah jangan banyak tanya, kamu ini. Lebih baik kita masuk kedalam mobil terlebih dahulu. Jangan khawatir, akan aku ceritakan semuanya padamu." Jawab Gane dan pergi begitu saja menuju mobilnya.
"Apa coba, maksud dari Bos Gane. Semoga saja apa yang dikatakannya kemarin itu tidak akan dilakukan oleh Bos Gane. Jika pun ia, kasihan sekali nasibnya Nona Nanney." Gumamnya, kemudian ia bergegas menyusul Bosnya yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.
Sampai didalam mobil, Gane langsung duduk di tempat pengemudi dan memasang sabuk pengamannya. Selintas ia menoleh kearah Bosnya yang juga tengah mengenakan sabuk pengamannya.
"Apakah Bos Gane sudah siap? sebelum berangkat, coba Bos Gane ingat-ingat lagi. Takutnya ada sesuatu yang tertinggal, Bos." Tanya Ciko mengingatkan Bosnya, takut ada sesuatu yang tertinggal, pikirnya.
__ADS_1
"Tidak ada, sudah cepetan ayo kita berangkat." Jawabnya dan memerintahkan untuk melajukan mobilnya, Ciko pun mengangguk dan nurut dengan apa yang diperintahkan dari Bosnya.
Hening, hanya suara kendaraan orang lewat yang ia dengar. Bahkan tidak ada suara apapun di dalamnya, meski itu hanya sekedar musik.
"Bos, obralan kita tadi belum selesai. Bolehkah aku melanjutkan pertanyaan ku? jangan ngegas, Bos. Saya hanya ingin basa basi bertanya saja, tidak lebih." Ucap Ciko dan memberanikan diri untuk bertanya, tidak peduli mau ditanggapi atau tidaknya, pikir Ciko sambil fokus pandangannya lurus ke depan.
Gane menoleh pada Ciko, begitu juga dengan Ciko yang akhirnya ikutan menoleh pada Gane walau hanya selintas.
"Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan." Jawabnya sambil bersandar dan menatap lurus ke depan.
"Mau sampai kapan Bos Gane akan menyandra Nona Nanney?" tanya Ciko yang pada akhirnya bertanya sesuatu yang sedari tadi ia simpan didalam benaknya.
"Sampainya aku merasa puas, setelah itu akan aku usir dari rumah." Jawabnya dengan santai dan kedua tangannya yang menyilang pada dada bidangnya itu.
"Terus, bagaimana dengan pekerjaan kita, Bos? apa tidak memakan waktu jika kita tidak dalam satu rumah?" lagi lagi Ciko kembali bertanya tanpa bosan sedikitpun.
Sedangkan Ciko sendiri merasa tidak tenang, dan tentu saja dirinya dihantui tentang pekerjaan yang sudah lama digeluti bersama Gane.
"Bos Yakin? lawan kita tidak hanya satu, Bos. Sepertinya ada seseorang yang mulai ngikuti jejak kita dan akan menjadi bom yang dahsyat dan kapan saja bisa membuat kita masuk dalam perangkapnya." Ucap Ciko yang pada akhirnya berterus terang pada Bosnya.
"Maksud kamu itu apa, Cik? ada seseorang yang mengikuti jejak kita?"
"Benar, Bos. Tapi aku masih belum yakin sih Bos, ini hanya feeling aku saja sih. Semoga saja tebakan ku salah." Jawab Ciko sambil menyetir mobilnya.
"Kamu jangan main petak umpet dariku, Cik. Awas saja jika kau ada niat buruk dibalik akting mu itu, jangan harap kau akan selamat dariku. Bahkan aku bisa melenyapkan kamu kapan saja, ingat itu." Ucap Gane yang tidak pernah lepas dari sebuah ancaman untuk Ciko.
"Jangan gila, Bos. Mana mungkin aku menjadi seorang penghianat, itu salah besar." Jawab Ciko, kemudian ia menepikan mobilnya di pinggiran taman yang cukup luas.
__ADS_1
"Kenapa kau menghentikan mobilnya? bocor?" tanya Gane penasaran.
"Sebentar, ada sesuatu yang harus aku hubungi." Jawab Ciko, kemudian ia merogoh ponselnya.
"Mau menghubungi siapa?" tanya Gane yang mulai mencurigai Ciko.
"Anak buah kita, ada sesuatu yang harus aku sampaikan." Jawabnya sambil mencari nomor kontak yang ada dalam pencarian kontak nomor ponsel.
Gane yang akhir-akhir ini tengah disibukkan dengan kepergian adik laki-lakinya, ia jarang sekali berinteraksi dengan anak buahnya mengenai pekerjaan yang sudah sekian lama ia geluti. Bahkan, sejak kejadian kecelakaan pada sebuah kapal yang mencelakai adik kesayangannya, Gane mulai tidak begitu fokus pada pekerjaannya yang sudah sekian lamanya ia geluti bersama Ciko.
Selesai mengirimkan sebuah pesan kepada salah satu anak buahnya yang menjadi kepercayaannya, Gane kembali memasukkan kembali ponselnya kedalam tas kecilnya itu.
"Katanya mau menghubungi, kok cuman mengirim pesan doang?" tanya Gane yang merasa curiga pada Ciko. Karena seakan tengah diselidik oleh Bosnya, ia kembali mengambil ponselnya dan menyerahkannya pada Gane.
"Ini, buka sendiri dan baca semuanya." Jawab Ciko dan menyodorkan sebuah ponsel miliknya pada Gane.
"Untuk apa?" tanya Gane lagi.
"Buka dan bacalah, aku yakin Bos Gane akan mengerti sendiri." Jawab Ciko, kemudian ia kembali menyalakan mesin mobil dan melajukan kembali mobilnya.
Gane yang memang dari awal merasa curiga dengan sikap Ciko, akhirnya ia membuka isi pesan yang beberapa menit yang lalu dikirim oleh Ciko.
Dengan seksama, Gane mengamati pada setiap kata dan tidak ada satupun yang terlewati. Setelah itu, Gane menoleh pada Ciko.
"Jadi, diam diam ada sebuah penyamaran dari seseorang yang sengaja ingin menjadi pesaing kita?"
"Ya, benar sekali. Untuk mencari identitasnya benar benar sulit untuk aku temukan. Bahkan dengan lihainya menggunakan anak buahnya untuk dijadikan umpan, tapi aku yakin jika memang ada seseorang yang ingin sengaja untuk menghancurkan pekerjaan kita ini, Bos." Ucap Ciko menjelaskan semuanya.
__ADS_1