Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Sangat menyakitkan


__ADS_3

Betapa sesaknya untuk bernapas, seakan melayang jiwanya. Gane masih tertunduk sedih dengan segala kesedihannya. Untuk mengangkat bahunya sendiri saja tak mampu.


Begitu juga dengan Ciko, dirinya sendiri tak mampu untuk berucap. Tidak tahu harus berkata apa, bibirnya terasa berat dan kelu.


Saat itu juga, Gane tak sanggup lagi menahan rasa sesak di dalam dadanya yang semakin sakit. Napasnya sendiri memburu, detak jantung mulai tak mampu untuk memompa.


Ciko yang melihat Gane tengah menahan rasa sakit pada dadanya, ia langsung menghampirinya.


"Bos, kamu kenapa?"


Ciko semakin panik saat melihat kondisi Gane yang terlihat tidak sedang baik. Secepatnya ia meminta pertolongan meski dengan cara berteriak.


"Pak Polisi! cepat tolong kami. Pak Polisi! cepat kemari." Ciko terus berteriak untuk mendapatkan pertolongan.


Saat itu juga, beberapa anggota polisi segera datang untuk melihat keadaan.


Semua terkejut, termasuk Doin yang ikut menyusul bersama polisi lainnya.


"Tuan!" teriak Doin memanggilnya.


Beberapa anggota polisi membawa keluar dari ruangan tersebut dan membawanya ke rumah sakit. Ciko dengan napasnya yang terengah-engah, ia terus berjalan mengikutinya dari belakang sambil mengantongi gelang milik Nanney.


"Cik, ada apa dengan Tuan Gane? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Doin sambil mengimbangi langkah kaki Ciko.


"Nanti akan menjelaskannya padamu, sekarang kamu yang menyetir mobilnya." Jawab Ciko dan menyerahkan kontak mobil pada Doin.


Sampainya di depan, Ciko dan Doin segera masuk kedalam mobil. Dengan kecepatan tinggi, Doin tidak peduli dengan lajunya kendaraan yang lalu lalang.


"Ya Tuhan, kebodohan macam apa aku ini. Kenapa aku sampai lupa, jika Bos Gane mempunyai penyakit jantung. Bagaimana ini, jika Bos Gane tidak bisa bertahan." Gumam Ciko sambil bersandar dan menyesalinya atas apa yang sudah ia perbuat pada Bosnya.


"Kamu ngomong apa, Cik. Jelaskan padaku, sebenarnya ada apa dengan Tuan Gane. Apakah kamu awal penyebabnya? ayo jawab."

__ADS_1


Ciko langsung menoleh pada Doin, kemudian ia kembali pada posisi semula. Ciko tidak peduli dengan segala tuduhan dari Doin, karena semuanya sudah terlanjur diucapkannya.


Sampainya di depan rumah sakit, Ciko langsung keluar dari mobil dan disusul oleh Doin.


Setelah masuk di rumah sakit, Gane tengah dalam penanganan khusus. Sedangkan Ciko dan Doin menunggunya di luar sambil mondar-mandir memikirkan keadaan Bosnya.


Doin yang teringat pertanyaan nya belum juga dijawab oleh Ciko, ia mendekati dan menagih janjinya.


"Cik, katanya kamu mau menjelaskannya padaku. Sekarang juga, kamu jelaskan semuanya mengenai Tuan Gane hingga bisa-bisanya dibawa ke rumah sakit." Ucap Doin menagih janjinya.


Ciko langsung menoleh pada Doin, kemudian mundur dua langkah dan duduk.


Doin yang benar-benar ingin mengetahui kebenarannya, ia ikut duduk disebelahnya.


"Cepat, jelaskan semuanya padaku. Aku tidak ingin ada penghianat diantara kita, tetap saja harus waspada." Ucap Doin dengan suara sedikit tidak bersahabat.


"Gara-gara gelang yang aku tunjukkan padanya, disitulah Bos Gane sangat shock dan terkejut ketika melihat kebenaran di depan matanya." Jawab Ciko berhenti sejenak, dirinya pun berusaha untuk bisa tenang ketika memberi penjelasan pada Doin.


"Gelang yang tadi? apa hubungannya dengan gelang yang kamu tunjukkan itu?" tanya Doin yang mencurigai.


"Gelang kepunyaan gadis kecilnya, Clara namanya. Gadis kecil itu adalah adik perempuan ku yang dinyatakan meninggal dunia diusianya yang ke sembilan tahun. Bos Gane sudah menyukainya sejak dulu, entah perasaan dan otak darimana bisa-bisanya menyukai adikku yang masih sangat kecil itu. Mungkin, karena kedekatannya dengan adik perempuan ku menjadikan mereka sangat dekat. Dan kamu tahu? kenyataan telah kembali, bahwa pemilik gelang itu adalah istrinya sendiri, perempuan yang dijadikan ajang balas dendam karena adik laki-lakinya telah meninggal karena hal yang serupa. Yakni, kecelakaan pada kapal. Disitulah Bos Gane murka dan menganggap Nona Nanney adalah biang pembawa kesialan." Ucap Ciko panjang lebar.


Ciko menundukkan pandangannya, ia tak mampu lagi untuk meneruskan kalimatnya. Sungguh sakit, lebih menyakitkan dari dikhianati kekasih. Sakit yang dirasakan oleh Gane begitu besar, pikir Ciko dengan segala daya tangkapnya.


Doin yang mendengar penjelasan dari Ciko, sedikit-sedikit ia dapat memahaminya.


"Jadi, Nona Nanney adalah gadis kecil milik Bos Gane? sekaligus adik mu."


Lagi-lagi Ciko mengangguk, mendongak saja pun tidak.


"Terus, apakah kita harus menjemputnya?"

__ADS_1


"Jangan, biarkan Nona Nanney di Kampung. Biarkan menikmati kerinduannya dengan Neneknya. Jangan usik dia, kita fokus dengan kesehatan Bos Gane." Jawab Ciko melarangnya.


"Tapi, lebih cepat lebih baik untuk mengungkapkan kebenaran." Kata Doin dengan memberinya saran.


"Jangan, biarkan Bos Gane sembuh dulu. Biarkan dirinya untuk memahami semua kenyataan ini. Ketika sudah siap, aku akan mempertemukannya kembali." Jawab Ciko yang tetap dengan tekad bulatnya, yakni untuk kesembuhan Bosnya terlebih dahulu.


"Kamu serius?" tanya Doin kembali untuk memastikan.


Ciko mengangguk. Kemudian, ia bangkit dari posisi duduknya karena tidak lagi bisa untuk bersabar.


Sambil menunggu seorang Dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Ciko mondar-mandir dengan segala kecemasan nya.


Sedangkan dilain tempat dan juga keadaan, Nanney baru saja selesai menyiapkan malam bersama.


Sungguh, sangat bahagia untuk Nenek Aruma. Kebahagiaan yang sudah dinanti-nanti, kini sudah didapatkannya. Senyum bahagia terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya.


"Andai saja suaminya Nanney ikut pulang, pasti akan terasa jauh lebih lengkap lagi. Ditambah dengan keadaan Nanney yang sedang hamil, tentu saja akan menjadi momen yang sangat sempurna." Gumam Nenek Aruma.


Tidak lama kemudian, datanglah Nanney yang baru saja keluar dari kamar dan ikut duduk di sebelah Nenek Aruma. Tepatnya di hadapan sosok yang begitu mirip dengan suaminya dulu.


"Kok diam semua, ayo kita nikmati makan malamnya." Ucap Nenek Aruma membuka suara.


"Ya, Nek." Jawab semua bersamaan.


Henny yang memperhatikan kakaknya pun, ia merasa heran dengan sikapnya. Biasanya yang bikin rame, kini seakan berubah menjadi sunyi. Kehadiran dan kepulangannya seperti menyimpan sesuatu, pikirnya.


'Ada apa dengan Kak Nanney? seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan dariku. Apa karena tidak suaminya? atau ... sebenarnya sedang bertengkar dengan suaminya? lalu, merasa iri ketika melihatku, begitu kah? jadi penasaran.' Batin Henny sambil melayani suaminya.


Sedangkan Nanney sendiri merasa tak sanggup jika harus berhadapan dengan orang yang kini tengah mengganggu pikirannya. Tapi, mau bagaimana lagi. Nanney hanya bisa memendamnya didalam hati.


'Aku tak sanggup jika harus terus-menerus berada di rumah ini. Aku harus pergi dari rumah ini, apapun itu. Aku masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Setidaknya, aku meminta penjelasan pada Nenek untuk memberitahukan padaku tentang siapa laki-laki ini.' Batin Nanney sambil mengunyah makanan sambil menunduk.

__ADS_1


__ADS_2