Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Panggilan video


__ADS_3

Di tempat lain, ada beberapa anak buah dan juga Bosnya yang sedang memainkan sebuah pistol sambil memutar kursi roda nya sambil menempelkan ujung senjata apinya tepat di bawah dagu.


Setelah itu, sebuah pistol mengarah di hadapan beberapa anak buahnya satu persatu.


DOR!


Sebuah peluru tengah melayang ke sembarangan arah dan membuat beberapa anak buahnya benar-benar ketakutan jika pelurunya mengarah pada dirinya.


"Benar-benar sangat bodoh! kalian ini. Melenyapkan satu orang saja tidak becus."


Sambil membentak, tak lupa menempelkan ujung pistolnya di dada anak buahnya satu persatu dan membuat mereka gemetaran.


"Maaf Bos, rupanya ruangan pasien dijaga sangat ketat. Ada beberapa banyak anak buah dari seorang Ciko di rumah sakit itu, Bos." Jawab salah satu anak buahnya yang akhirnya angkat bicara.


"Apa! Ciko kau bilang?"


"Benar sekali, Bos." Jawabnya lagi.


"Baiklah, kalian harus menambahkan teman untuk melakukan penyerangan. Ingat, yang harus kalian lenyapkan adalah istrinya Gane. Setelah itu, Ciko, Doin, dan terakhir Gane. Aku ingin melihat seorang Gane akan menderita perlahan lahan, setelah itu aku akan melenyapkannya."


"Siap, Bos."


"Bagus, sangat bagus. Sekarang juga, pergilah kalian semua dan cari pasukan baru untuk membantu kalian agar mudah untuk melenyapkan mereka semua satu persatu." Ucapnya sekaligus memberi perintah.

__ADS_1


Mereka semua mengangguk. Kemudian, segera pergi dari hadapan Bosnya.


Tak ada lagi anak buah dihadapannya, dengan percaya diri jika rencananya akan berhasil. Tak lupa dengan segala kesombongan nya, berdiri tegak didepan cermin dan dibarengi dengan tawanya.


"Gane, Gane, hidupmu akan terus menderita sepertiku yang dulu. Kau harus menerima atas pembalasanku, Gane." Ucapnya dengan suara yang cukup keras.


Sedangkan di rumah sakit, Gane masih ditemani oleh Ciko dan Doin. Kesetiaan terhadap Bos sekaligus sahabat, tak pernah pandang dalam kesulitan yang dihadapi.


Ciko yang sedang menemani Bosnya sarapan pagi bersama Doin, tiba-tiba dirinya dikagetkan dengan suara ponsel seperti ada yang menghubunginya.


"Cik, ada yang nelpon kamu tuh." Kata Doin.


"Coba kamu lihat, siapa yang menelpon ku." Jawab Ciko dan meminta Doin untuk melihatnya.


"Istrinya Tuan Gane yang menelpon mu, Cik." Kata Doin setelah membaca kontak telpon yang masuk di ponselnya Ciko.


"Berikan padaku ponselnya." Pinta Ciko, Doin sendiri segera menyodorkannya.


Saat ponsel sudah berada di tangan Ciko. Kemudian, ia menyodorkannya pada Gane.


"Ini ada panggilan Video dari istrimu, Bos. Ayolah, terimalah panggilan video darinya. Bukankah Bos Gane sangat merindukannya? ayo Bos, angkat telponnya. Kasihan, sudah beberapa kali menelpon."


"Katakan padanya, suruh menunggu sebentar. Kemudian, kamu matikan telponnya. Aku harus menyiapkan diriku untuk menatap wajahnya." Kata Gane yang tak mampu untuk menatap wajah istrinya walau hanya lewat panggilan video.

__ADS_1


Rasa penjelasan dan juga rasa bersalahnya, membuat Gane seakan tak mampu untuk berkata-kata. Sungguh sangat menyakitkan baginya, jika istrinya adalah perempuan yang selama ini ia rindukan. Perempuan yang sudah ia sakiti, sudah ia hina, sudah dicaci maki, selalu disalahkan, bahkan sudah mengambil mahkotanya dengan perasaan yang sama tidak sukanya.


Setelah menerima panggilan video dan mengatakan apa yang diminta dari Bosnya, akhirnya dapat dimengerti oleh sang istri.


"Kenapa istriku menelpon mu dengan panggilan video? apakah kamu memberitahunya jika aku sedang berada di rumah sakit? ayo jawab dengan jujur padaku."


"Ya, benar sekali. Tadi saat Bos Gane sedang mandi, aku mengirimnya pesan untuk Nona Nanney dan memberi kabar atas keadaan mu."


"Seharusnya kamu tidak memberitahunya, Cik. Aku sudah membuatnya kecewa dan sakit hati, dan aku tidak mau mendapatkan belas kasihan darinya."


"Nona Nanney sendiri yang awalnya memintaku untuk datang ke lapas dan memintaku untuk melakukan panggilan video dengannya. Karena sebenarnya Nona Nanney ingin menelpon mu, Bos. Aku tidak bisa berbohong, dan akhirnya aku memberitahunya keadaan Bos Gane yang sebenarnya."


"Seharusnya kamu mengatakannya padaku terlebih dahulu."


"Mana aku tega, Bos. Istrimu sedang hamil muda, dia membutuhkan perhatian. Mana kita tahu, jika istrimu sedang merindukanmu."


Saat itu juga, Gane tertunduk sedih saat mendengar kehamilan istrinya. Tentu saja, segala penyesalan terus menghantui pikirannya.


"Bos, sudah siapkah untuk menyapa istrimu?"


"Aku tidak mampu untuk menatap wajahnya, Cik. Kamu tahu, aku ini sudah menyakitinya. Aku tak pantas mendapatkan sapaan darinya. Tidak hanya itu saja, aku sudah melakukan kesalahan besar terhadap adikmu, seharusnya kamu menghukum ku, Cik."


"Sekarang ini bukan waktunya untuk membahas sebuah kesalahan, tapi ini mengenai istrimu. Ingat Bos, ada calon anak mu yang sedang berada di kandungan istrimu. Apakah kamu tega untuk menolak sebuah panggilan video dari ibu calon anakmu? baiklah jika kamu tidak mau, aku akan menyusul ke Kampung halaman dan membongkar semuanya." Ucap Ciko yang tak lupa untuk memberi sebuah ancaman untuk Bosnya.

__ADS_1


Gane yang mendapat ancaman dari Ciko, segera ia merampas ponsel yang ada ditangannya.


Ciko tersenyum melihatnya, begitu juga dengan Doin ikut menahan tawanya.


__ADS_2