Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Merindukan


__ADS_3

Sudah melewati malam, Nanney segera bangun dari tidurnya. Pelan-pelan membuka matanya yang terpejam. Terasa hampa saat dirinya terbangun dan tidak mendapati keberadaan suaminya.


Saat beranjak dari tempat tidurnya, Nanney segera mencuci muka dan menggosok giginya. Benar-benar terasa hampa untuk menikmati hidup sendirian tanpa seorang suami didekatnya.


Meski pernikahan sebuah ajang balas dendam, tetap saja Nanney tidak merasa kesepian walaupun sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari suaminya.


Saat tidak ada suami didekatnya, waktu begitu terasa lama untuk dilalui. Pagi, siang, malam, sendiri dan sendiri. Karena tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Nanney memutuskan untuk segera pulang ke Kampungnya.


Walaupun jauh dari kemewahan, Nanney merasa nyaman dan bahagia. Baginya materi bisa dicari, kebahagiaan dalam kesederhanaan pada keluarga sangatlah jauh berharga dari pada sebuah materi yang berlimpah.


Suara ketukan pintu tengah mengagetkan Nanney yang baru saja menyisir rambutnya. Bergegas ia langsung membuka pintu kamarnya.


Saat pintu kamar terbuka, rupanya seorang ibu paruh baya tengah berdiri didepan pintu.


"Ada apa, Tante?"


"Tidak apa-apa, sudah pagi dan waktunya untuk sarapan. Ayo turun, Tante sudah siapkan sarapan pagi untuk kamu. Ingat, ada nyawa yang harus kamu jaga dengan baik. Bukankah semalam kamu bilang mau pulang Kampung halaman? ayo sarapan dulu, sayang."


"Tidak apa-apa kan, Tante. Jika Nanney pulang ke Kampung, soalnya Nanney sangat merindukan Nenek."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tante tidak akan memaksa kamu untuk tinggal di rumah ini. Tante tahu, ini pasti sangat berat untuk kamu. Tente mengerti dengan posisi kamu saat ini. Gane sendiri tidak bisa memaksa kamu untuk tetap tinggal di rumah ini, apalagi Tante dan suami Tante. Semoga saja, Gane suami kamu segera dibebaskan dan mendapatkan hukuman yang ringan."


"Terimakasih banyak, Tante. Nanney tidak akan pernah lupa dengan semua kebaikan dari Tante dan Paman Pras."


"Ya sudah, kalau gitu ayo kita turun dan sarapan pagi bersama."


"Tapi Tante, Nanney belum mandi."


"Belum mandi juga tidak apa-apa, Tante tahu rasanya hamil muda. Tante sudah mengalaminya, bakal banyak perubahan pada diri kamu nantinya. Rasa malas, rasa ingin ini dan itu, maupun keinginan yang lainnya."


"Benarkah, Tante? Nanney benar-benar masih awam tentang kehamilan."


"Baik, Tante."


Karena takut lama membuang buang waktu, Nanney segera turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama keluarga suaminya.


Sambil menuruni anak tangga, Nanney merasa ada yang kurang ketika hendak menuju ruang makan. Sudah terbiasa ada sang suami yang ikut makan bersama, kini dunianya seakan gelap tak berwarna.


Meski sering mendapatkan bentakan, suara bentakan itu kini telah menjadi sebuah kerinduan.

__ADS_1


'Kak Gane, aku merasa kesepian dan kehilangan kamu. Padahal omongan Kakak itu sangat pedas, tapi kenapa aku merasa hambar dan tidak ada rasa ketika menikmati makanan ini. Apakah aku sudah jatuh cinta dengannya? aku rasa tidak mungkin. Ini mungkin karena yang dibilang oleh Tante Sere, jika ada perubahan pada perempuan hamil.' Batin Nanney sambil mengaduk-aduk bubur dalam mangkok.


"Kak Nanney kenapa? kok, dari tadi buburnya cuman diaduk-aduk. Kak Nanney ingin bertemu Kak Gane lagi, ya? hayo ngaku." Tanya David sambil mengunyah makanan.


"Tidak, aku hanya sedang membayangkan saat aku sampai di Kampung. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nenek, itu saja."


"David, jangan banyak tanya. Lebih baik kamu itu habiskan dulu sarapan pagimu. Setelah itu, baru berangkat ke Kantor." Ucap Tuan Pras ikut menimpali serta melarangnya untuk bertanya dengan istri keponakannya.


"Ya ya ya, Pa. Kak Nanney, maaf ya, jika aku banyak bertanya sama Kakak. Habisnya dari tadi aku perhatikan, Kak Nanney hanya mengaduk makanan yang ada di mangkok."


"Tidak apa-apa, tidak perlu kamu meminta maaf. Ini sudah menjadi kesalahan ku yang tidak fokus saat makan, terimakasih sudah mengingatkan aku." Timpal Nanney ikut berkomentar.


"Sudah sudah, ayo kita habiskan dulu sarapan paginya. Setelah itu, kita lanjutkan aktivitas kita."


"Ya, Ma. Kalau boleh tahu, beneran nih, kalau Kak Nanney mau pulang ke Kampung? sepi dong jadinya."


"David ...!"


"Ya ya ya ya, Pa ...."

__ADS_1


__ADS_2