Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Ada rasa takut


__ADS_3

Setelah mendengarkan penjelasan yang cukup panjang dari Pak Elyam, Ciko sudah mulai merasa lega.


Setelah itu, giliran Ciko untuk berterus terang pada Pak Elyam mengenai adik perempuannya yang sudah dinyatakan meninggal.


"Pak, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Ucap Ciko memberanikan diri untuk berterus terang.


"Sesuatu apa yang Nak Ciko maksudkan?"


Pak Elyam yang belum mengerti, Beli bertanya.


"Sebenarnya saya sudah bertemu dan menemukan adik perempuan saya, Clara."


"Jadi, kamu sudah bertemu dengan adik perempuan mu? dimana gadis kecil itu? Nak Clara pasti sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa."


"Ceritanya sangat panjang, Pak." Jawab Ciko yang cukup bingung untuk memulai bercerita.


"Ceritakan saja, tidak perlu begitu detail. Asalkan masih bisa untuk dimengerti, Bapak pasti bisa untuk mencernanya."


"Gadis itu, maksud saya, Clara. Mungkin sudah dikatakan takdir, karena kita tidak dapat mengetahuinya. Clara rupanya lupa ingatan, dan tidak pernah disangkakan nya telah menjalin hubungan dengan Regar hingga di pelaminan." Ucap Ciko berhenti sejenak dan menarik napasnya pelan. Kemudian, membuangnya dengan kasar ke lain arah.


"Terus ..." pinta Pak Elyam untuk kembali meneruskan ceritanya.


"Nasib buruk maupun baik, kita juga tidak bisa memprediksinya. Naas, Tuan Regar dan istri mengalami sebuah insiden kecelakaan pada kapal ketika berada di tengah laut." Ucap Ciko, lagi-lagi dirinya kembali menarik napasnya dan melakukan hal yang serupa.


"Lanjutkan." Pinta Pak Elyam.


Ciko menunduk. Antara bahagia atau harus bersedih, dirinya kembali dilema.


"Tuan Regar tidak dapat ditemukan, sedangkan istrinya dapat diselamatkan. Clara berganti nama, Nanney. Saya dan Bos Gane tidak pernah menyangka nya, jika kecelakaan kapal akan kembali terulang."

__ADS_1


"Lalu,"


"Bos Gane tidak terima atas meninggalnya Tuan Regar. Kemudian yang menjadi sasaran empuknya adalah adik iparnya, yang tidak lain Clara adik saya. Perempuan yang disukai Bos Gane sejak kecil rupanya telah menjadi istrinya karena sebuah ajang balas dendam. Sekarang tengah hamil anak dari Bos Gane. Tapi, mana kami tahu, karena jarak dan waktu telah merubah segalanya. Dari lupa ingatan hingga rupa wajah diantara kami karena jarak berpisah diantara kita yang cukup lama." Ucap Ciko yang masih melanjutkan ceritanya.


"Kamu bisa mengetahuinya jika istri Regar adalah adikmu, dari mana?"


"Saat kami mengantarkan ke Kampung halaman karena keadaan suaminya yang harus menjalani masa tahanan, kebetulan gelang miliknya atas pemberian dari Bos Gane rupanya tertinggal di Kota. Alangkah terkejutnya ketika saya mengecek isi dalam kotak itu, rupanya gelang yang sama persis dengan Bos Gane."


"Apakah Nak Gane sudah mengetahuinya?"


"Sudah, gelangnya sudah ada ditangan Bos Gane."


"Apakah kamu sudah melakukan pengawasan untuk adikmu sendiri?" tanya Pak Elyam untuk memastikan.


"Sudah, saya sudah melakukan penjagaan ketat untuknya."


"Saya tidak tahu harus berkata apa dengan Bapak, dipertemukan dengan cara yang sangat mudah seperti ini sudah seperti keajaiban. Saya benar-benar sangat bersyukur dan beruntung dipertemukan kembali dengan Bapak pengacara Elyam."


"Ini semua sudah menjadi tanggung jawab saya mengenai amanah dari Tuan Riko Huttama."


Setelah itu, Ciko memeluk Pak Elyam dengan perasaan yang sangat bahagia yang begitu sulit untuk ia gambarkan atas perasaan bahagianya.


Saat itu juga, Ciko dikagetkan dengan suara dering dari ponselnya yang berada dalam sakunya.


Secepatnya, Ciko langsung merogoh ponsel miliknya dan segera menerima panggilan masuk.


"Ada kabar apa kamu menghubungiku?" tanya Ciko penasaran.


"Apa! kamu serius?"

__ADS_1


"Baiklah, kamu boleh melanjutkan pekerjaan mu." Kata Ciko dan langsung menutup ponselnya.


Seketika, Ciko merasa kesulitan untuk mengatur pernapasannya. Napas yang terasa sesak dengan pikirannya yang semakin penat, itu sudah pasti. Baru saja menemukan kebenaran, sekarang seakan bertambah masalah lagi.


Antara bahagia dan bersedih, kini telah bercampur aduk menjadi satu. Bahkan, begitu sulitnya untuk ia pikirkan dan mana dulu yang harus ia selesaikan.


Sedangkan di rumah Nenek Aruma, Nanney lebih banyak melamun dan diam. Dunianya seakan terbalik, antara bahagia dan bersedih pun, dirinya tak tahu harus menyikapinya yang bagaimana.


Ingin rasanya berteriak, itu tidak akan mungkin untuk Nanney lakukan.


"Kak," panggil Henny sambil berjalan mendekati.


"Ya, ada apa?" jawab Nanney dan bertanya.


"Aku mau antar Nenek sebentar, mau belanja ke Toko. Tidak apa-apa kan, Kak? tidak lama kok."


"Ya, tidak apa-apa." Jawab Nanney disertai anggukkan.


"Oh ya, Kakak mau pesen apa?"


"Tidak usah, Kakak tidak ingin apa-apa."


"Baiklah, nanti akan aku belikan makanan buat cemilan Kakak. Kalau begitu, aku pergi dulu."


"Ya, hati-hati dijalan."


Setelah berpamitan untuk pergi, kini tinggallah Nanney bersama suami adiknya.


Gugup, takut, itu sudah pasti. Ditambah lagi dirinya sangat yakin jika suami adiknya telah melihat foto yang sama persis di dalam galerinya.

__ADS_1


__ADS_2