
Gane yang sudah memegang gagang cangkir, saat itu juga Nanney mulai merasa takut dan juga gelisah. Pasalnya, kini suaminya sudah memegang gagang cangkirnya, tinggal seruput, kelar semuanya, pikir Nanney dengan kecemasan nya.
'Bagaimana ini kalau sampai aku mendapatkan hukuman yang lebih berat, ini orang kejamnya tidak tanggung-tanggung.' Batin Nanney dengan penuh kekhawatiran, Gane kembali menoleh pada istrinya.
"Kau kenapa terlihat gugup begitu? takut? jangan takut, jika kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku." Ucap Gane yang juga belum meminumnya.
"Ya, silakan diminum." Ucap Nanney dan menggigit bibir bawahnya.
"Baiklah, aku akan meminumnya." Kata Gane yang hendak menyeruput minuman kopinya.
Nanney sendiri sedikit menahan rasa takut, jika sang suami akan murka dan juga marah besar padanya.
Tanpa pikir panjang, Gane langsung meminumnya. Benar dugaannya, bahwa minuman buatan istrinya itu memang benar adanya unsur kesengajaan untuk mengerjai dirinya. Tapi tidak sebodoh itu untuk menelannya, Gane masih menyimpannya didalam mulutnya. Seketika, tatapannya tertuju pada istrinya dengan sangat tajam.
Nanney langsung menutup sepasang matanya dengan kedua telapak tangan karena ketakukan jika sewaktu-waktu suaminya akan menyemburkan minumannya ke wajahnya.
Dengan penuh kekesalannya, Gane tidak peduli siapa yang ada dihadaoannya itu. Dengan sekuat tenaganya, Gane berusaha untuk melepaskan kedua tangan milik istrinya yang tengah menutupi bagian wajahnya.
Sulit untuk berucap, Gane langsung menyemburkan minumannya ke sembarang arah.
"Lepaskan tanganmu ini, atau aku akan menghukum mu lebih berat lagi. Ayo! lepaskan tanganmu." Bentak Gane dengan suara yang meninggi, kini dirinya benar-benar telah emosi atas perbuatan dari istrinya.
Tidak ada baginya penghalang terhadap istrinya, Gane terus berusaha untuk melepaskan tangan milik istrinya. Nanney sendiri yang merasa ketakutan, dirinya berusaha untuk mempertahankan kedua tangannya agar tidak lepas oleh sang suami.
"Aku mohon, jangan hukum aku, Kak. Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi." Ucap Nanney masih menutupi wajahnya.
"Hutang mu bertambah, kau paham. Aku tidak akan memberimu ampun, karena kau sudah berani mengerjai ku. Kau harus menerima balasannya, lepaskan tangamu sekarang juga. Apa perlu, aku akan melakukan hal kasar lainnya padamu, ha."
__ADS_1
Nanney yang merasa ketakutan, akhirnya terpaksa membukanya. Meski masih ada rasa yang sangat takut, sebisa mungkin untuk tetap memberanikan diri berhadapan dengan sang suami. Saat itu juga, Gane tersenyum menyeringai.
Dengan tenaganya yang bercampur emosi, Gane langsung memelintir kan kedua tangan istrinya kebelakang.
"Aw!" pekik Nanney sambil menahan rasa sakit pada kedua tangannya yang ditahan oleh sang suami, ia terus berusaha untuk melepaskannya, tetap saja tidak dapat melepaskan diri dari tenaga suaminya.
"Kak, aku mau diapain? aku mohon, jangan siksa aku." Tanya Nanney dan memohon.
"Aku akan menc*umbu mu, kau tahu itu?" bisik Gane di dekat daun telinga istrinya.
Saat itu juga, Nanney terkejut mendengarkan jawaban dari sang suami.
'Mencu*mbuku? yang berarti?' batin Nanney berusaha berpikir, otaknya pun ikut travelling kemana-mana.
Karena tidak mau membuang-buang waktunya, Gane langsung pada pokok tujuannya. Gane langsung meraih cangkir yang berisi minuman kopi, Nanney sendiri kembali bingung dibuatnya.
'Minuman kopi? untuk apa?' batinnya lagi dengan rasa penasarannya.
Nanney terus memberontak, dan kini dirinya mengerti apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.
Dengan tatapan yang tajam, Gane langsung memasukkan apa yang ada didalam mulutnya pindah ke istrinya. Mau tidak mau, Nanney menerimanya dan menelan habis tak tersisa. Setelah itu, Gane menyapu bibir milik istrinya dengan sangat lembut dan membuat Nanney sangat terkejut atas apa yang dilakukan suaminya barusan.
"Bagaimana, manis bukan? sekali lagi kau melakukan kesalahan, aku bisa melakukan lebih padamu. Asal kau tahu, aku bisa menyentuhmu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki tanpa sehelai benang pun." Ucap Gane sambil memainkan jari-jarinya pada bagian wajah istrinya.
'Awas saja, aku tidak akan pernah takut berhadapan dengamu. Apalagi kau juga sudah mencuri ciuman ku, aku akan membalasnya.' Batin Nanney sambil menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh kebencian serta kekesalannya.
"Sekarang juga kau bersihkan tubuhmu yang bau itu, aku akan mengajakmu makan di luar. Aku tunggu kau di ruang tamu, cepat mandilah." Perintah Gane, kemudian ia bangkit dari posisi duduknya dan menuju kamar milik Ciko.
__ADS_1
Nanney yang tidak sesuatu yang barusan terjadi akan terulang kembali, apalagi sang suami sudah mengancamnya lebih. Sebisa mungkin dirinya untuk tidak memancing emosinya, dan memilih mengikuti permainan dari suaminya.
Gane yang sudah berada di dalam kamar, ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Kemudian, ia menatap langit langit kamar sambil memikirkan sesuatu.
"Aku harus membalasnya, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada perempuan sialan itu. Aku akan menyakiti hatinya, bukan untuk fisiknya." Ucapnya lirih sambil menatap pada langit-langit kamarnya.
Merasa bosan, Gane memilih untuk membersihkan diri di kamar Ciko. Karena tidak ingin kemalaman saat mengajak istrinya untuk makan siang, Gane segera bersiap siap.
Setelah Gane dan Nanney selesai mandi, keduanya segera mengenakan pakaian nya dan bersiap siap untuk berangkat. Tidak lupa bagi Gane, setiap keluar rumah, ia tidak lupa untuk membawa sesuatu yang menjadi pelindungnya, apalagi kalau bukan sebuah pistol yang selalu disembunyikannya.
"Aku yakin jika musuhku selalu ada di belakang ku." Ucapnya lirih didepan cermin.
Saat melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan untuk berangkat ke suatu tempat yang akan ia tuju bersama sang istri, Gane segera keluar dari kamar dengan menggunakan jaket tebalnya.
BRAK BRAK BRAK
"Ya, tunggu sebentar." Sahut Nanney dari dalam kamar.
"Cepat keluar, waktu kita tidak banyak." Ucap Gane yang merasa tidak sabar jika harus menunggu.
Nanney yang tidak ingin suaminya terus menerus memaki dirinya, segera ia keluar dari kamar.
"Aku sudah siap," ucap Nanney di hadapan suaminya.
Gane yang melihat penampilan istrinya, sesaat dia terpesona melihatnya. Selama ini yang ia pikirkan hanyalah perempuan gadis kecil yang selalu ia bayangkan. Saat melihat sosok istrinya, seakan perempuan yang ia sukai sejak kecil tumbuh dewasa.
"Kak, aku sudah siap." Ucap Nanney yang kedua kalinya, Gane pun akhirnya tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Ayo, kita berangkat. Kita tidak mempunyai waktu lagi, karena malam ini juga aku harus pergi karena sesuatu hal. Jadi, jangan sekali-kali kau pancing emosiku, kau paham." Ajak Gane yang tidak lupa untuk memberi pesan pada istrinya, kemudian ia segera bergegas keluar dari rumah.
"Ya, Kak." Jawab Nanney dengan singkat.