
"Sudah, ayo kita turun." Ucapnya, Nanney mengangguk pelan dan segera membuka pintu mobilnya dan segera turun.
"Ayo, kita masuk." Ajak Gane yang tidak lupa untuk menggandeng tangan istrinya.
Sambil berjalan, Gane menuju tempat yang menurutnya sangat cocok untuk menikmati makan siang. Setelah menemukan ruangan yang menurutnya sangatlah privat, Gane mengajaknya untuk masuk kedalam.
"Ayo kita masuk." Ajak Gane yang masih menggandeng tangan istrinya.
Nanney binggung dibuatnya, tentu saja ada rasa takut ketika dirinya diajak untuk masuk kedalam ruangan. Detak jantungnya saja berdegup sangat kencang secara tiba-tiba, bahkan jantungnya serasa mau copot, pikirannya pun ikut travelling.
"Kenapa berhenti? ayo masuk."
"I---iya, Kak." Jawab Nanney sedikit gugup.
'Kak Gane sedang tidak melakukan rencana liciknya, 'kan? kalaupun iya, mati gue. Mana ruangan privat, lagi. Semoga semoga semoga tidak terjadi sesuatu hal buruk padaku.' Batin Nanney dengan pikirannya yang mulai kacau.
Saat sudah berada di dalam ruangan yang sangat tertutup, Nanney terpukau melihatnya. Ruangan yang benar benar sangat nyaman sekedar untuk menikmati makan siangnya.
Kemudian, Gane menarik kursinya dan mempersilahkan sang istri untuk duduk.
"Terimakasih." Ucap Nanney segera duduk bersama sang suami, kini posisi keduanya saling berdekatan dan bukan lagi berhadapan. Nanney sendiri semakin gugup dibuatnya, entah perasaan apa yang harus ia rasakan. Ada takut, ada gelisah, ada gugup, dan tentunya tidak membuatnya merasa tenang maupun senang.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pelayan menghampirinya, Gane dan Nanney memilih menu makanan kesukaannya masing-masing. Tidak ada yang berbeda diantara keduanya, sama-sama memilih menu makanan yang sama.
Sambil menunggu pesanan datang, Gane menyibukkan dirinya dengan sebuah ponsel. Sedangkan Nanney memperhatikan yang ada disekelilingnya.
Tidak lama kemudian, dua orang pelayan telah datang membawakan menu makanan yang sudah dipesannya. Setelah itu, Gane meletakkan ponselnya didekat beberapa menu makanan. Sedangkan sang istri tengah memperhatikan menu makanan yang ada dihadapannya itu. Pandangannya tertuju pada setiap makanan yang ada, lalu ia kembali memeriksanya.
Gane yang sedari memperhatikan istrinya yang terlihat aneh, ia langsung menoleh pada ssng istri dan menatapnya dengan sangat serius.
__ADS_1
"Kau kenapa? katanya lapar, kenapa kau hanya memperhatikannya saja? hem."
"Tidak apa-apa, aku takut ada makanan yang mengandung banyak kolesterolnya, hanya itu." Jawab Nanney beralasan, padahal bukan itu jawabannya.
"Oh kirain, ya sudah ayo dimakan." Kata Gane, sedangkan Nanney yang tersenyum tipis dan segera menyuapi dirinya sendiri.
Hening, tidak ada suara apapun selain sendok mereka berdua yang saling beradu. Nanney tetap menunduk saat menikmati makan siangnya, menoleh maupun mendongak sedikitpun tidak. Nanney terus fokus dengan menu makanan yang sudah ia pesan dan menikmatinya hingga terasa kenyang.
Berbeda dengan Gane, sesekali ia menoleh pada istrinya dan memperhatikannya. Senyum tipis yang seakan banyak maknanya.
Cukup lama menikmati makanannya masing-masing, Gane dan Nanney akhirnya selesai juga makan siangnya.
Gane yang tengah duduk disebelah kanan istrinya, ia menoleh padanya. Begitu juga dengan Nanney yang tanpa sengaja ia pun juga menoleh pada suaminya.
Entah ada angin apa, keduanya bengong dan saling menatap satu sama lain. Detak jantung Nanney kembali berdegup, seakan terhipnotis dengan pandangan suaminya sendiri.
Nanney yang terasa gugup, sebisa mungkin untuk tetap tenang. Gane tersenyum dan mengambil sebutir nasi disudut bibir milik istrinya.
Nanney terbelalak saat tangan suaminya menyentuh bibirnya.
"Kalau makan itu jangan seperti anak kecil, lihatlah ini." Kata Gane dan menunjukkannya pada sang istri, Nanney begitu malu di hadapan suaminya. Tapi, rasa malunya dapat dibayar dengan kelegaan karena apa yang sedang dipikirkannya tidaklah terjadi.
"Kau pasti sudah berpikiran kotor, ya 'kan?sayang sekali aku masih sadar, tidak tahu kalau aku lupa." Kata Gane dan tersenyum tipis pada istrinya.
Nanney yang merasa malu, ia hanya tersenyum tipis dan mengelap mulutnya dengan tissue.
'Sialan, aku sudah dibuat malu olehnya. Awas saja, aku akan membalasnya.' Batin Nanney penuh kesal.
Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, Gane meneguk minumannya hingga tandas. Setelah itu, Gane mengajak istrinya untuk pulang.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, badanku sangat capek dan aku harus beristirahat." Ajak Gane sambil mengantongi ponselnya di balik jaketnya.
"Tapi aku bosan di dalam kamar terus, Kak." Jawab Nanney memberanikan diri untuk mencari sebuah alasan. Bukan karena bosan, Nanney berusaha untuk menghindari suaminya sendiri.
Nanney takut, jika sesuatu yang tidak diinginkannya pun terjadi. Demi dapat menghindari sang suami, sebisa mungkin Nanney berusaha memberi alasan. Saat itu juga, Gane langsung menatap istrinya dengan lekat.
"Tidak ada penolakan apapun atas keputusanku, jangan memancing emosiku." Ucap Gane, kemudian ia langsung menarik paksa tangan istrinya. Namun sebelumnya, Gane berhenti sejenak untuk membayar tagihannya. Kemdian iq mengirimkan sebuah pesan pada seseorang untuk diantarkan nya ke Villa.
"Kak, aku mohon lepaskan tangannya, aku bisa jalan sendiri." Ucapnya sambil memohon untuk dilepaskan tangan suaminya yang tengah menariknya dengan paksa.
Gane yang tidak sabar, ia langsung menggendong istrinya sampai di depan mobil.
"Masuklah," perintah Gane setelah membuka pintu mobil.
Nanney masih diam, entah kenapa ia merasa bingung dengan sikap suaminya yang mudah emosi. Bahkan, jika sesuatu yang menurutnya tidak sesuai, maka emosinya akan meluap begitu saja tanpa peduli siapa yang ada dihadapannya itu.
Nanney yang tidak mempunyai pilihan, mau tidak mau hanya bisa nurut. Saat dalam perjalanan menuju Villa, keduanya sama diamnya. Tidak ada satupun yang membuka suara, keduanya sama-sama acuh.
Saat sudah sampai di depan Villa, Gane segera turun dari mobil. Kemudian ia membuka pintu mobil yang dimana posisi istrinya tengah duduk. Sedangkan Nanney dengan terburu buru melepaskan sabuk pengamannya.
Tanpa pikir panjang dan tanpa bersuara, Gane langsung menggendong istrinya begitu saja.
"Kak, aku mohon turunkan aku. Ini sangat memalukan, aku takut disangka perempuan manja." Pinta Nanney dengan berbagai alasan, berharap suaminya segera menurunkannya dari gendongan sang suami.
Gane tidak peduli dengan rengekan istrinya, ia terus berjalan sambil menggendongnya sampai didalam kamar. Nanney semakin ketakutan jika suaminya berbuat nekat dan meminta haknya.
Berkali kali Nanney terus berdoa, berharap tidak akan terjadi sesuatu apapun didalam kamar tersebut. Dengan kasar, Gane menjatuhkan tubuh istrinya diatas tempat tidur. Disaat itu juga, Gane langsung melepaskan jaketnya dan juga kaos oblongnya serta celana panjangnya.
Pikiran Nanney semakin tidak karuan saat mendapati sikap sang suami diluar dugaannya, sebisa mungkin Nanney untuk bisa menghindarinya.
__ADS_1