
Nanney yang kepergok sang suami, ia langsung mengalihkan pandangannya ke lain arah. Sedangkan Gane tidak berucap sepatah katapun padanya, ia kembali menatap layar ponselnya. Seolah-olah dirinya acuh tak acuh pada istrinya dan kembali fokus dengan bendanya.
Nanney yang malas berurusan dengan suaminya, ia memilih untuk segera kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
'Dih! seolah-olah tidak melakukan dosa apapun. Tapi ... memang benar sih, jika dia tidak melakukan dosa. Bukankah aku ini sudah menjadi istri sahnya? benar-benar bodoh aku ini." Batinnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Sedangkan Gane tengah sibuk dengan ponselnya, berkali-kali ia mencoba untuk menghubungi Ciko, tetap saja tidak mendapatkan respon apapun darinya. Ingin rasanya meluapkan kekesalannya serta melemparkan ponselnya, sebisa mungkin namun untuk tidak terpancing dengan emosinya sendiri.
Ketika tak mendapatkan jawaban dari Ciko, saat itu juga Gane teringat pada seseorang yang tengah mengirimkan makanan serta minuman yang ia pesan untuk dirinya dengan sang istri.
"Aku harus menyelidikinya, dan aku tidak akan memberi ampun padanya." Gumamnya dengan penuh kekesalan.
Karena merasa frustasi tidak mendapatkan titik temu, Gane langsung meletakkan kembali ponselnya diatas meja.
Saat sudah bangkit dari posisinya, suara ponselnya pun telah mengagetkannya. Gane segera menoleh dan meraihnya dan langsung menerima panggilan dari seseorang.
"Terlambat kamu Cik, aku sudah tidak butuh bantuan kamu." jawab Gane yang sudah dikuasai oleh emosinya.
Dengan dongkol, akhirnya Gane mau mendengarkan penjelasan dari sebrang telpon. Meski masih terasa kesal, dirinya tidak dipungkiri jika Gane sejatinya masih membutuhkan bantuan dari orang kepercayaan nya.
"Apa! kau kecolongan? kamu memintaku untuk pulang? jangan gila, kamu Cik." Gane benar-benar terkejut mendengarkan penyampaian dari orang kepercayaannya. Saat itu juga, Gane langsung menutup panggilan telponnya dan segera bersiap-siap. Mau tidak mau, Gane menggagalkan acara liburan bersama istrinya.
Nanney yang baru saja keluar dari kamar mandi pun, benar-benar terkejut saat melihat suaminya tengah mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Kak, kak Gane mau pergi kemana masih petang begini?" tanya Nanney memergoki suaminya yang sedang mengenakan jaketnya diwaktu yang masih petang.
Seketika, Gane terasa lemas saat istrinya memergoki dirinya. Kemudian ia menoleh pada sang istri, laku membuang napasnya dengan kasar.
"Kita akan pulang, tapi menunggu matahari terbit. Sekarang kau tidurlah, masih ada waktu untuk istirahat." Jawabnya dan kembali menuju sofa.
"Tunggu, Kak Gane mau ngapain? kenapa Kakak tidak tidur juga? ini masih jam dua pagi loh. Lumayan juga waktunya untuk Kak Gane beristirahat." Ucap Nanney, Gane menoleh padanya.
"Aku mau tidur di sofa saja, lagian juga hanya sebentar. Sudahlah, sana tidur." Jawabnya dan tetap menuju sofa sesuai kemauannya.
Nanney yang merasa tidak enak hati, akhirnya ia mendekati suaminya yang hendak duduk di sofa.
"Kak, ayo kita tidur. Tidak baik tidur di sofa, nanti badan kakak sakit semua loh. Lagian juga cuma sebentar, tidak apa-apa kok, jika kita tidur satu ranjang. Kita bisa saling membelakangi." Kata Nanney mencoba untuk memberanikan diri, meski yang sebenarnya sangatlah memalukan.
"Terus, kenapa Kak Gane menikahi aku kalau Kakak lelaki normal? kenapa Kak Gane tidak memikirkan sebab dan akibatnya? tinggal dalam satu kamar, itu mustahil seratus persen akan baik-baik saja. Mungkin seribu satu yang tetap bertahan, tapi tidak untuk semua pasangan."
Saat itu juga, Gane hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Sebisa mungkin untuk menahan emosinya serta menahan diri. Tanpa menjawab sebuah pertanyaan dari sang istri, Gane langsung berjalan menuju tempat tidur. Kemudian ia langsung melepas jaketnya dan melemparnya ke sofa.
"Tidurlah, bukankah kamu yang mengajakku untuk tidur?" sambil menepuk bantal yang ada didekatnya, Gane mengajak istrinya untuk tidur bersamanya.
Bukannya segera mendekati suaminya yang sudah bersandar di kepala ranjang tempat tidur, justru dirinya bergidik ngeri melihat serta mendengar ajakan dari suaminya.
Rupanya ajakannya itu benar-benar sangat menakutkan, pikir Nanney yang baru tersadar dari ajakannya sendiri pada sang suami.
__ADS_1
'Bodohnya aku ini, yang aku ajak tidur bukanlah anak kecil, tetapi lelaki yang sudah menjadi suamiku, bahkan sudah menyentuh ku dari ujung kaki hingga ujung rambut.' Batin Nanney sambil mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama suaminya layaknya suami-istri pada umumnya.
"Kenapa kamu masih diam di situ? baiklah, aku akan tidur di sofa saja kalau begitu."
Dengan detak jantungnya yang berdegup cukup kencang, Nanney memberanikan diri menuju tempat tidur yang mana sang suami sudah bersandar di atas tempat tidur. Tidak hanya itu saja, Nanney berusaha untuk mengatur pernapasannya agar berkurang kegugupannya saat tidur bareng suaminya tanpa perasaan cinta sedikitpun.
Sedangkan Gane yang hendak turun dari tempat tidur, akhirnya ia urungkan niatnya saat sang istri berjalan mendekatinya.
"Ayo naiklah ke atas, kamu bisa tidur membelakangi ku seperti tadi yang kamu bilang." Kata Gane sambil menata bantal guling nya untuk sang istri, serta selimutnya.
Nanney yang sudah memakan senjatanya sendiri, mau tidak mau akhirnya naik ke atas tempat tidur dan berbaring disebelah suaminya. Sekilas menoleh suaminya, dan dilihatnya sang suami yang sudah memejamkan kedua matanya dengan posisi tangannya yang menyilang pada dada bidangnya.
Nanney yang tidak ingin terhipnotis yang kedua kalinya, ia memutuskan untuk tidur dengan membelakangi suaminya seperti yang dikatakannya sendiri.
Sambil membelakangi suaminya, tetap saja Nanney tidak dapat memejamkan kedua matanya karena rasa takut yang terus menghantuinya.
Begitu juga dengan Gane, ia sendiri tidak dapat tidur dengan pulas. Tetap saja, pikirannya kembali pada sang istri yang sudah melayaninya dan juga memuaskan has*ratnya.
Karena penasaran, Gane menoleh pada istrinya. Dan dilihatnya sang istri yang sudah mengganti posisinya dengan cara membelakangi dirinya. Kemudian, Gane menatap langit langit kamar dengan segala pikirannya yang tengah ia pikirkan, termasuk melamunkan istrinya sendiri.
Susah payah untuk bisa tidur dengan pulas, rupanya Gane maupun Nanney sama-sama kesulitan untuk memejamkan kedua matanya. Saat itu juga, keduanya sama sama menoleh satu sama lain dan terpaku dengan pandangannya masing masing tanpa penghalang apapun di tengah-tengah mereka berdua.
Nanney yang pada dasarnya fobia dengan bantal guling, maka tidak ada satupun bantal guling di atas tempat tidur tersebut. Sedangkan Gane yang sudah merasakan nikmatnya bersama sang istri, ia kembali tergoda dengannya lagi.
__ADS_1
Saat itu juga, Gane tidak ingin melukai perasaan sang istri. Sebisa mungkin untuk menahannya, takut sesuatu yang tidak diinginkan oleh istrinya kembali terjadi.