
David yang jaraknya tidak jauh dari Gane, ia pun tidak lupa untuk mengagetkan saudara laki-lakinya.
"Cie ... Kak Gane."
Gane yang dikagetkan oleh David, langsung menoleh ke sumber suara.
"David, Tante Sere."
Bunda Sere dan David menghampiri Nanney dan Gane.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?"
"Keadaan ku baik-baik saja, Tante. Sebelumnya aku meminta maaf kalau aku sudah banyak merepotkan Tante."
"Jangan bilang begitu, Nak. Kita ini keluarga, tidak baik untuk mengabaikan keluarganya sendiri. Oh ya, Paman Hardika sudah datang menemui kamu atau belum? kata ayahnya David, mau datang kesini."
"Aku kurang tahu, Tante. Mungkin Paman sedang sibuk. Jadi, kemungkinan besar belum bisa datang."
"Kata Vandu sih, nanti sore sampai. Soalnya benar atau tidaknya, aku juga kurang tahu. Ya ... semoga saja benar-benar datang." Timpal David.
"Permisi, waktu untuk membesuk sudah habis. Saya minta untuk segera meninggalkan tempat ini juga, mari." Ucapnya.
__ADS_1
Gane merasa keberatan ketika dirinya harus berpisah dengan istrinya. Begitu juga dengan Nanney yang merasa tidak ingin jauh dari suaminya. Lebih lagi dengan kondisinya yang tengah hamil. Tidak dapat untuk dipungkiri, jika hormon yang ada dalam tubuhnya berubah-ubah.
Mau bagaimana lagi, Nanney tidak mempunyai kuasa untuk membebaskan suaminya. Mau tidak mau harus menerima apa yang sudah menjadi takdir untuk dirinya.
Gane yang merasa berat untuk berpisah, diraihnya tangan sang istri dan berdiri di hadapannya lebih dekat lagi. Gane mendaratkan ciumannya tepat di kening milik istrinya.
"Jaga dirimu kamu baik-baik, maafkan aku yang tidak bisa berbuat baik padamu. Maafkan aku yang akan menyusahkan mu lagi. Aku berjanji akan menebus semua kesalahan ku. Jaga baik-baik calon anak kita, aku akan kembali." Ucap Gane yang benar-benar begitu berat untuk melepaskan tangannya.
"Kak Gane jangan khawatir, aku akan menjaga calon anak kita ini dengan sebaik mungkin. Maafkan aku, jika nantinya aku jarang datang untuk menjenguk Kakak. Karena perjalanan yang cukup jauh, tidak memungkinkan untuk sering menjenguk Kakak."
"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti keadaan kamu saat ini. Maafkan aku, karena aku, kamu menjadi menderita seperti ini. Aku berjanji setelah keluar dari lapas ini, aku akan menebus kesalahan ku kepada mu." Ucap Gane yang merasa bersalah besar terhadap istrinya.
"Kakak fokus saja dulu untuk menyelesaikan masalah Kakak yang mengenai kasus Kakak saat ini. Setelah itu, Kakak bisa menentukan apa yang akan menjadi keputusan Kakak."
Entah ada angin apa, mungkin karena perubahan hormon nya. Nanney tiba-tiba dengan berani, tanpa malu langsung mencium pipi kanan milik suaminya.
Gane sendiri pun, terkejut saat mendapatkan ciu*man di pipinya oleh sang istri. Gane langsung memegangi pipinya dan tersenyum bahagia.
Entah benar dugaannya, Gane tidak peduli. Gane merasa bahagia meski harus berpisah dari istrinya.
"Kita sudahi dulu pertemuannya. Waktu kita sudah habis, lain waktu kita akan bertemu lagi. Gane, jaga diri kamu baik-baik di tempat ini. Tante do'akan, semoga kasus kamu secepatnya berakhir dan kembali berkumpul bersama istrimu. Kalau begitu, Tante pamit pulang. Ingat, jangan bikin gaduh ditempat ini." Ucap Bunda Sere yang tidak ingin mendapatkan omelan karena tidak kunjung pulang.
__ADS_1
Setelah berpamitan satu persatu termasuk David, kini Gane merasa hampa ketika harus berpisah kembali dengan istrinya serta bagian keluarganya.
Waktunya sudah berakhir, Gane kembali masuk ke balik jeruji besi. Bukannya merasa senang setelah bertemu istrinya, Gane kembali terlihat bersedih.
Iswan yang melihat Gane tidak bersemangat, lalu mendekatinya dan duduk disebelahnya ikut duduk bersandar pada tembok.
"Kamu kenapa lagi, Bro? perasaan baru aja bertemu sama istri kamu. Sekarang udah berubah menjadi murung. Kamu tidak sedang dalam masalah besar, 'kan? maksud aku minta cerai, begitu."
Gane langsung menoleh pada Iswan, kemudian kembali pada posisinya yang menatap lurus kedepan. Dengan pelan, Gane menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Aku tidak tahu, aku harus bahagia atau sedih."
"Jadi benar, jika istrimu minta cerai alias berpisah dengan mu?"
"Bukan itu, Bro."
"Terus, apaan?" tanya Iswan yang masih belum mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Gane.
"Istriku hamil, dan aku tidak berdaya dan tidak bisa melakukan hal yang terbaik untuk istri dan calon anakku." Jawab Gane tanpa menoleh pada Iswan.
"Istri kamu hamil? serius? wah selamat ya, Bro. Ini namanya kamu harus bahagia. Terus, kenapa kamu harus bersedih? buang kesedihan kamu itu. Soal tidak berdaya, itu sudah lumrah karena suatu keadaan yang tidak memungkinkan untuk kamu pergi dari sini begitu saja. Bersabarlah, aku yakin jika kamu akan segera dibebaskan setelah dalangnya dapat ditangkap. Aku doakan, semoga kamu segera lepas dari tempat ini dan berkumpul bersama istrimu."
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Bro. Kamu juga, semoga segera lepas dari tempat terkutuk ini."
"Kita sama-sama mendoakan, semangat." Ucap Iswan, kemudian keduanya saling memeluk dan menepuk punggung satu sama lain untuk memberi kekuatan dan semangat saat sama-sama dalam masalah yang sama.