Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Memikirkan sesuatu


__ADS_3

Di rumah sakit, Doin dan Ciko masih setia menunggu seorang Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan Bosnya.


"Cik, bagaimana ini? belum ada satupun yang keluar dari ruangan pemeriksaan." Tanya Doin sambil duduk dan membusungkan badannya.


"Bersabarlah, doakan saja untuk Bos Gane. Semoga, tidak ada sesuatu yang berbahaya." Jawab Ciko sambil memijat pelipisnya karena rasa penat memikirkan segalanya.


"Ya, aku tahu itu. Tetap saja khawatir." Ucap Doin.


Ciko mengabaikan Doin yang tengah berbicara, sedangkan Ciko memilih merogoh saku celananya untuk memeriksanya kembali dengan isi kotak tersebut.


Ciko kembali membukanya, dan diambilnya sebuah gelang yang berukuran tangan kecil. Ciko semakin yakin jika gelang tersebut adalah milik adik perempuannya yang dinyatakan hilang dan meninggal.


Ciko meneteskan air matanya tatkala kerinduannya berubah menjadi sebuah air mata yang begitu perih ketika mengenangi pelupuk matanya.


Sakit, kecewa, kesal, bahagia, terharu, kini semua menjadi satu dan bersemayam didalam relung hatinya. Tidak tahu rasa apa yang harus dirasakan, Ciko benar-benar tidak tahu harus mengungkapkannya.


Doin yang mengerti apa yang sedang dirasakan Ciko, tak lupa mengusap punggungnya sebagai ungkapan menyemangati.


Ingatan Ciko kembali dimasa lalunya, kebersamaan yang begitu bahagia untuk dikenang. Tapi, semuanya kini hanyalah angin yang berlalu.


"Ciko, bagaimana keadaan Gane?" tanya Tuan Pras yang tiba-tiba datang saat Ciko tengah tertunduk sedih.


Ciko kaget dan langsung mendongak.


"Tuan, maaf. Keadaan Bos Gane sedang ditangani oleh Dokter, mungkin. sebentar lagi keluar." Jawab Ciko dengan muka yang sudah sembab.


Saat itu juga, Ciko langsung mengantongi lagi kotak yang berisi gelang milik istri Bosnya. Tuan Pras sendiri ikutan duduk disampingnya.


"Ada apa dengan Gane? coba jelaskan," Tanya Tuan Pras dan meminta penjelasan.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja teringat istrinya. Tuan Gane ingin segera bebas dan membahagiakan Nona Nanney." Jawab Ciko dengan berbagai alasan.

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu ajak pulang saja dan tinggal di rumah utama, lebih terjaga kesehatannya. Bukankah istrinya Gane sedang hamil? bujuk saja Bos kamu itu." Kata Tuan Pras memberinya saran.


"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak bisa memaksa Nona Nanney. Apa yang sudah menjadi keputusannya adalah pilihan." Jawab Ciko beralasan.


"Terserah kamu saja, yang terpenting aku sudah mengingatkan mu." Ucap Tuan Pras.


Ciko mengangguk dan tidak lupa untuk tersenyum.


Tetap saja, Ciko tidak mau menerimanya karena tidak ingin mengambil resiko. Lebihnya lagi, Ciko masih belum bisa mempercayai kebaikan orang lain selain orang terdekatnya.


Ciko dan Gane mempunyai prinsip yang sama, tidak akan mudah percaya dengan orang lain sekalipun itu keluarga sendiri.


Tidak lama kemudian, seorang Dokter baru saja keluar dari ruangan tersebut. Ciko dan Doin yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Dokter, ia langsung menghampirinya. Tuan Pras yang juga juga penasaran dan ingin tahu, Beliau mengikuti Ciko.


"Dok, tunggu." Panggil Ciko sambil berjalan cepat.


"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Ciko yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Bosnya.


"Tidak apa-apa, pasien baik-baik saja. Yang terpenting dijaga kesehatannya dan pola makannya, dan juga untuk tidak banyak berpikir." Jawab seorang Dokter.


"Silakan."


Ciko dan Doin yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Bosnya, secepatnya ia segera masuk ke ruang rawat pasien.


Begitu juga dengan Tuan Pras, Beliau ikut masuk dan ingin mengetahui keadaan keponakannya.


Dilain sisi, Gane tengah berbaring sambil menatap langit-langit dalam ruangan tersebut. Bayangannya terus tertuju pada istrinya, yang mana bahwa sang istrilah pemilik gelang itu.


Air mata yang tidak ingin menetes dan membasahi kedua pipinya, rupanya tak dapat ia lakukan. Gane terus menangisi atas semua perbuatan kejinya pada perempuan yang tidak seharusnya mendapatkan perlakuan buruk darinya.


Gane terus teringat dengan ancamannya sendiri pada istrinya. Susah payah untuk menepis, tetap saja masih teringat. Bahkan, begitu jelas ingatannya itu.

__ADS_1


"Aku tak tahu ketika ingatannya kembali dan terkumpul dengan sempurna, mungkin akulah orang yang pertama kali dibencinya dan tak akan ada kata maaf untukku." Gumamnya sambil menatap langit-langit dan menangis.


"Bos, kamu kenapa lagi?" tanya Ciko yang mendapati Bosnya tengah menangis.


Gane menggelengkan kepalanya pelan dan berusaha untuk tersenyum.


"Aku hanya sedang merindukan masa kecilku." Jawab Gane beralasan.


Gane tidak mungkin menjawabnya dengan jujur, terkecuali hanya ada Ciko dan Doin. Bahkan soal gelang saja, Doin tak mengetahuinya sama sekali. Hanya Ciko lah yang dinomor satukan oleh Gane mengenai sebuah kepercayaan, tidak untuk yang lainnya mengenai hal pribadi.


"Gane, bagaimana keadaan kamu? Paman do'akan, semoga kamu segera lekas sembuh dan sehat kembali. Kalau boleh tahu, kenapa kamu sampai seperti ini? apakah ada yang sedang kamu pikirkan? katakan pada Paman."


"Terimakasih banyak atas doanya, Paman. Untuk ada apanya, aku hanya merindukan masa kecilku, Paman. Aku sangat merindukan kebersamaan dengan Papa dan Mama." Jawab Gane yang lagi-lagi kembali berbohong dan beralasan.


"Semua sudah berlalu, jadikan semuanya kenangan. Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan yang ada." Ucap Tuan Pras.


"Benar, Paman. Yang dikatakan Paman benar adanya, semua tinggal kenangan." Jawab Gane dan berusaha untuk tersenyum, meski senyumnya itu adalah palsu.


"Sudah malam, waktunya untuk istirahat. Besok Paman akan datang kembali, jaga kesehatan kamu. Kalau begitu, Paman pamit pulang." Ucap Tuan Pras, Gane mengangguk pelan.


"Terimakasih banyak atas kebaikan dari Paman, maafkan aku yang selalu merepotkan."


"Jangan banyak bicara yang tidak-tidak, lebih kamu istirahat." Ucap Beliau, lagi-lagi Gane mengangguk dan tersenyum.


Setelah berpamitan pulang, kini tinggal Ciko dan Doin yang tengah menemani Gane. Keduanya begitu kompak untuk menghibur Bosnya, senda gurau tak lepas untuk membuat suasana tidak sunyi.


Dilain tempat yang nan jauh di sana, ada Nanney tengah duduk termenung diatas tempat tidur sambil bersandar. Bukannya memikirkan sosok yang mirip suaminya itu, justru Nanney kepikiran dengan suaminya yang tengah berafa dibalik jeruji besi.


Nanney tak dapat memungkiri, jika dirinya membutuhkan teman untuk mengobrol walau itu sebuah kalimat tanpa rem. Tentu saja berbagai omelan serta ancaman dari suaminya sendiri. Mungkin saja karena kehamilannya, Nanney merindukan belaian palsu dari calon ayah yang berada didalam kandungan.


Dengan lembut, Nanney mengusap perutnya yang masih datar itu. Nanney meneteskan air matanya, tak terasa betapa sesaknya untuk bernapas.

__ADS_1


Tidak hanya Nanney yang dilema, rupanya di dalam kamar sebelah sama halnya yang sedang dirasakan oleh sepasang suami istri tanpa adanya saling mencintai.


Meski berada dalam satu kamar, di dalamnya ada dua ranjang untuk mereka berdua tidur.


__ADS_2