Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Benar-benar kejutan


__ADS_3

Bagai tersambar petir, saat melihat siapa orangnya yang tengah berada di hadapannya. Kaki terasa tak mampu untuk menopang berat badannya. Ingin berteriak, itupun tak mampu untuk dilakukan.


Bibir pun terasa kelu untuk berucap, detak jantungnya sendiri begitu sulit untuk di normalkan. Pandangannya ikut kabur bersama ingatannya yang begitu sulit untuk dicerna.


Nanney terdiam dan mematung, betapa sulitnya untuk menunjukkan sikapnya yang harus bagaimana. Menangis, itu tidak akan mungkin. Bersedih, itu tidak akan mungkin. Marah, itupun juga tidak akan mungkin dilakukan oleh Nanney seorang diri.


Napas yang terasa begitu berat, semampunya untuk tidak menunjukkan sesuatu pada siapapun. Air mata yang hendak jatuh, sebisa mungkin untuk menahannya walau begitu sulit.


"Kakak, Kak Nanney." Panggil Henny sambil memegangi kedua lengannya. Tetap saja, Henny tidak mendapatkan respon apapun dari kakaknya.


"Kak, Kak Nanney, ini aku Henny. Kenapa Kakak diam? kakak kenapa?" Henney terus memanggilnya, tetap tidak dihiraukan.


"Bawa Kakak kamu masuk ke dalam rumah, mungkin shock." Timpal dari seorang lelaki yang berstatus suami Henny.


"Aku bisa jalan sendiri, lepaskan tanganmu." Ucap Nanney dan segera masuk kedalam.


Henny bingung sendiri atas sikap dari kakaknya, benar-benar berubah, pikirnya.


"Ada apa dengan Nanney? kenapa tidak memelukku? kenapa, kenapa, kenapa dengannya? apakah aku melakukan kesalahan. Aku rasa aku tidak melakukan kesalahan apapun dengannya." Ucapnya lirih, tetap dapat didengar oleh suaminya.


"Coba kamu tanyakan pada Nenek, mungkin kamu akan mendapatkan jawabannya. Jangan berburuk sangka, tidak baik. Apalagi dengan saudara sendiri, tanyakan dulu masalahnya." Ucap sang suami ikut memberi saran pada istrinya.


Henny menoleh ke samping, kemudian menganggukkan kepalanya.


Nanney kembali masuk ke kamarnya, berusaha untuk meyakinkan dirinya jika apa yang ia lihat hanyalah sebuah kebetulan.


"Aku sedang tidak bermimpi, 'kan? apakah semua ini jebakan untukku? benar-benar sangat menyakitkan untukku." Gumamnya, lalu menyapu air matanya dengan ibu jari.


Bingung, sedih, hancur, kecewa, semua terkumpul menjadi satu bagaikan bom yang hendak meledak.

__ADS_1


Duduk termenung sambil menunduk, sesenggukan Nanney tengah menangis. Saat itu juga, dirinya teringat pada suaminya. Entah harus murka atau apa, Nanney benar-benar tidak tahu.


Henny yang hendak masuk ke kamar Nanney untuk menemuinya serta ingin bertanya langsung, ia urungkan niatnya. Ditambah lagi baru saja pulang, tidak baik untuk masuk ke kamar sebelum mencuci kakinya ke kamar mandi.


"Loh loh loh, kalian berdua sudah pulang? dimana Kakak kamu?"


"Kak Nanney ada di kamarnya, Nek. Henny mau ke kamar mandi dulu, Nek. Setelah itu, Henny mau menemui Kak Nanney." Jawabnya, Nenek Aruma mengangguk.


Setelah Henny dan suaminya selesai mencuci kaki, tangan, dan muka, keduanya masuk ke kamar dan mengganti pakaian secara bergantian.


Rasa penasaran yang masih menguasai pikirannya, Henny buru-buru untuk menemui Nenek Aruma.


"Nek," panggil Henny dan berjalan mendekati Nenek Aruma.


"Ada apa?"


"Temani Henny masuk ke kamar Kak Nanney yuk, Nek. Henny merasa ada yang aneh dengan Kakak, soalnya tidak menyambut kedatanganku. Bahkan Kak Nanney tidak memelukku serta menyapaku, malah langsung masuk ke kamarnya. Ayo Nek, temani Henny." Rengek Henny yang sudah tidak sabar untuk menemui kakaknya.


"Ya Nek, Henny takut ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kakak." Ucap Henny yang sudah tidak sabar ingin menanyakan langsung pada Kakaknya.


Nanney yang masih kepikiran, hanya bisa duduk di tepi ranjang sambil melamun entah apa yang dipikirkan nya.


"Kak Nanney, buka pintunya dong ... aku Henny, aku ingin berbicara sama Kakak." Panggil Henny sambil mengetuk pintunya.


Nanney yang dikagetkan dengan suara ketukan pintu, ia langsung mengusap matanya agar tidak terlihat jika dirinya tengah menangis. Nanney segera bangkit dari posisi duduknya dan membuka pintu kamarnya.


"Henny, maafkan Kakak yang sudah mengabaikan kamu. Kakak minta maaf, tidak ada maksud apapun dari Kakak. Oh ya, bagaimana kabarmu? apakah tadi itu suami kamu?"


"Kakak kenapa sih? Kak Nanney tidak lagi ada masalah, 'kan?" tanya Henny yang masih menyimpan rasa penasaran.

__ADS_1


"Tidak ada, Kakak hanya menyayangkan karena suami Kakak tidak bisa ikut. Mungkin kalau ikut, pasti suasananya akan lebih rame lagi." Jawab Nanney dengan berbagai alasan untuk menyembunyikan sesuatu.


Nenek Aruma sendiri hanya bisa mengusap mengusap punggung Nanney dengan lembut.


"Kamu kepikiran dengan gelang mu itu? bersabarlah, Nak Ciko dan Nak Doin akan menemukannya."


"Ya, Nek. Semoga saja akan ada kabar baik dari mereka berdua."


"Memangnya ada apa sih Nek, Kak? sepertinya ada yang tidak Henny ketahui deh."


Dengan terpaksa Nanney tersenyum, demi menutupi apa yang sedang tengah ia rasakan.


"Gelang Kakak tertinggal, hanya itu saja." Jawab Nanney berusaha untuk meyakinkan adiknya.


"Oooh, jadi karena gelang? Henny kira Kakak marah denganku. Henny do'ain, semoga gelang Kakak secepatnya ditemukan."


"Terimakasih banyak, maafkan Kakak yang sudah membuatmu cemas." Kata Nanney, kemudian Henny langsung memeluknya.


"Jangan terlalu erat memeluk Kakak kamu, Henny. Ada calon keponakan kamu di perut Kakak kamu."


"Apa, Kak Nanney hamil?"


"Ya, Kakak hamil."


"Wah ... selamat ya Kak, semoga sehat selalu, Kakak dan calon bayinya." Ucap Henny memberi ucapan selamat, kemudian ia merasa sedih saat mendengar kabar bahagia dari Kakaknya.


Sedih bukan karena apa, pasalnya pernikahan Henny dan suami tak ada ikatan cinta apapun pada keduanya. Selama menjalin hubungan pernikahan, Henny tak pernah mendapatkan sentuhan dari suami sebelum suaminya kembali pada ingatannya.


"Kamu kok sedih? kenapa?" tanya Nanney yang kini giliran dirinya yang penasaran.

__ADS_1


Saat itu juga, Nanney teringat dengan ucapan Nenek Aruma yang belum lama dibicarakan.


__ADS_2