Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Pernikahan yang sah


__ADS_3

Acara pernikahan pun, kini segera dimulai. Sebelum kalimat yang sakral itu di ucapkan, Gane kembali menoleh pada calon istrinya karena suatu perintah untuk meyakinkan apakah benar calon istrinya atau bukan.


Nanney yang sedari tadi duduk, ia tidak mampu untuk menoleh ke sisi kanan dan kirinya. Nanney sendiri memilih untuk menundukkan kepalanya tanpa berani menatap orang orang disekelilingnya.


Acara pun dimulai, Gane yang sudah mempunyai tekad yang bulat dengan tujuannya dengan menikahi perempuan yang pernah menjadi adik iparnya itu, dirinya terlihat tenang dan tidak ada perasaan grogi sedikitpun. Gane benar-benar terlihat sangat tenang, bahkan seperti tidak ada masalah apapun pada dirinya.


Tuan Hardika maupun Tuan Pras menunduk sejenak, keduanya diam sambil menunduk dan mencoba untuk berpikir kembali atas keputusan yang diambil oleh keponakannya itu, yang mana dengan yakin untuk menikahi adik iparnya sendiri.


Sekata demi sekata menjadi sebuah kalimat yang indah untuk didengar, semua ikut terharu mendengarkannya. Dengan keberanian seorang Gane, akhirnya ia mampu untuk mengucapkan kalimat sakral di depan para saksi dan khalayak umum. Semua tersenyum dengan ekspresinya masing-masing, tentunya ada yang kecewa pula.


Nanney yang tersadar bahwa dirinya sudah sah menjadi istri dari seorang Gane, pikirannya mulai tidak tenang. Nanney mulai memikirkan sesuatu yang akan terjadi selanjutnya, lebih-lebih sekarang Gane mempunyai kebebasan untuk menyentuhnya. Tentu saja membuat Nanney mulai gelisah untuk memikirkannya.


Saat itu juga, Nanney semakin takut untuk membayangkan sesuatu yang tidak diinginkannya itu. Namun, dirinya kembali teringat pada sebuah pesan dari Mbak Alana untuk menjadi perempuan yang kuat dan tidak mudah untuk ditindas.


'Ingat! Nanney, kamu bukan perempuan yang lemah. Kamu itu perempuan yang kuat, buktikan jika kamu tidak mudah untuk ditindas.' Batin Nanney untuk menyemangati dirinya sendiri.


Selesai pengucapan kalimat sakral, beberapa warga sekitar ikut merasa bahagia ketika menyaksikan langsung pengucapan kalimat sakral pada mempelai laki laki. Tidak hanya itu saja, rupanya ada juga yang merasa kecewa atas pernikahan Gane dan Nanney. Namun mau bagaimana lagi, keduanya sudah sah menjadi suami istri menurut agama dan hukum.


Sedangkan di sebelah sudut sana, ada David bersama Vandu yang juga ikut menyaksikan pengucapan kalimat sakral pada Kakak sepupunya hingga selesai. Diantara salah satu diantara keduanya ada yang kecewa, siapa lagi kalau bukan Vandu yang sudah jatuh hati saat pertemuannya yang pertama. Meski Vandu merasa sakit hati dah kecewa, ia sendiri tidak mampu untuk merusak acara pernikahan kakak sepupunya sendiri. Kecewa, itu sudah pasti. Tapi bukan berarti untuk berbuat semaunya sendiri, pikir Vandu berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Selesai pengucapan kalimat sakral, satu persatu memberi pengucapan selamat serta doa atas pernikahan Gane dan Nanney. Begitu juga dengan kedua Pamannya serta Tantenya kembali mengucapkan selamat pada keponakannya. Selain itu, David dan Vandu ikut memberi ucapan selamat untuk sang kakak secara bergantian dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Kak Gane, Kak Nanney, selamat ya atas pernikahan kalian berdua. Aku doakan, semoga hubungan kalian berdua langgeng dan bahagia selalu untuk selamanya. Ingat, jangan lama-lama memberiku keponakan." Ucap David serta memberinya doa untuk kedua pengantin dan tidak lupa untuk memeluknya dan menjabat tangan milik Nanney.


"Terimakasih doanya. Jika kamu ingin segera mempunyai keponakan, maka menikahlah." Ucap Gane.


"Hem, ya ya ya, aku mengerti." Kata David yang malas beradu argumen ketika berhadapan dengan kakak sepupunya.


Setelah itu giliran Vandu yang akan mengucapkan selamat untuk sang kakak sepupunya.


"Kak Gane, Kak Nanney, selamat atas pernikahan kalian berdua. Aku doakan, semoga bahagia atas pernikahan kalian berdua untuk selamanya." Ucap Vandu tanpa memberi doa kelanggengan untuk sepasang pengantin kakak sepupunya karena sesuatu kekecewaan nya.


"Terimakasih kasih atas doanya, semoga kamu segera menyusul." Kata Gane yang dapat membaca ekspresi dari adik sepupunya itu.


Setelah tidak ada lagi yang memberikan ucapan selamat kepada Gane maupun Nanney, kini Ciko yang mungkin saja paling terakhir memberi ucapan selamat untuk kedua pengantin.


"Bos, selamat ya atas pernikahanmu. Aku tahu, aku ini bukan siapa-siapa istrimu, tapi aku juga berhak memberimu sebuah pesan yang baik, serta doa yang baik juga untuk kalian berdua. Aku doakan, semoga hubungan kalian langgeng untuk selamanya. Untuk sebuah pesannya, sayangi istrimu Bos, sebagaimana istri kamu mendapatkan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya." Ucap Ciko memberi ucapan doa serta memberinya sebuah pesan kecil untuk Bosnya. Karena Ciko sadar, perempuan yang menjadi istri Bosnya itu bukan siapa-siapanya. Tentu saja, Ciko tidak mempunyai hak untuk memberi sebuah pesan yang panjang lebar kepada Bosnya.


Nanney yang mendengarkan sebuah pesan dari seorang Ciko, hatinya terasa sedih. Dirinya kembali teringat kepada sepasang suami istri yang sudah membesarkan dirinya dengan sangat tulus dan memberi perhatian penuh layaknya seperti orang tua kandung sendiri.


'Andai saja aku masih mempunyai saudara laki-laki atau ayah, aku sangat bahagia mendengarkan pesan itu. Aku merasa terlindungi, tapi kenyataan nya aku bagai sebatang kara. Bahkan untuk memberi kabar pada Nenek saja aku tidak bisa, maafkan aku Nek.' Batin Nanney dengan kesedihannya, serta menahan air matanya agar tidak tumpah membasahi kedua pipinya.


Saat itu juga, sekilas Gane menoleh pada istrinya. "Kamu tenang saja, Cik. Aku sudah tahu semuanya tentang sebuah pernikahan, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan." Jawab Gane meyakinkan, lalu ia kembali menoleh pada istrinya. Sedangkan Nanney sendiri memilih untuk diam. Ia merasa belum saatnya untuk banyak bicara, pikirnya.

__ADS_1


"Aku percya, Bos Gane orangnya sangat bertanggung jawab." Ucap Ciko tanpa ada rasa takut sedikitpun pada Bosnya.


Setelah itu, pandangan Ciko tertuju istrinya Gane. Ingatannya kembali pada adik perempuan nya yang sudah tiada.


'Andai saja Clara masih hidup, pasti sudah sebesar Nona Nanney. Sayangnya, aku belum beruntung untuk memiliki seorang adik perempuan yang tumbuh dewasa.' Batin Ciko sambil mengingat masa kecilnya.


"Nona, selamat atas pernikahannya Nona bersama Bos Gane. Saya doakan, semoga selalu bahagia dan langgeng hubungan rumah tangganya. Maaf, saya tidak mempunyai kado apapun untuk Nona dan Bos Gane, hanya doa yang bisa saya berikan."


"Terimakasih atas ucapannya serta doa untuk kami. Saya tidak mengharapkan kado apapun, doa saja sudah jauh lebih baik." Jawab Nanney sebaik mungkin.


Setelah memberi ucapan selamat, Ciko memilih untuk berkumpul dengan para tamu undangan lainnya untuk menikmati makan siang bersama. Kebebasan untuk berada di dekat Bosnya, kini mulai merenggang karena hadirnya seorang istri disisi Bosnya.


Selesai menikmati hidangan yang disajikan, satu persatu para tamu undangan berpamitan untuk pulang. Begitu juga dengan kedua Pamannya dan Tantenya, serta David dan Vandu segera berpamitan seperti yang lainnya.


"Kita semua pamit pulang, siapkan untuk hari besok, kamu dan istrimu bersiap siaplah untuk berangkat berbulah madu." Ucap Tuan Hardika dibarengi senyum, Gane mengangguk.


"Baik, Paman." Jawab Gane, kemudian satu persatu menjabat tangan Gane dan Nanney secara bergantian sambil berpamitan untuk pulang.


Saat itu juga, Ciko ikutan berpamitan untuk segera pulang. Rasa sedih dan senang kini telah bercampur menjadi satu. Pasalnya, kini dirinya tidak lagi bisa satu rumah bersama Bosnya. Kenangan yang begitu banyak untuk dilewati bersama, kini bagai terpecah belah karena sebuah takdir yang tidak bisa untuk ditentang.


"Bos, hati-hati untuk perjalanan besok. Aku do'akan, semoga selamat sampai tujuan. Kalau begitu aku pamit pulang, Bos."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Cik. Percayalah denganku, semua akan baik-baik saja." Kata Gane meyakinkan, setelah itu Ciko langsung pergi dari hadapan Bosnya dengan perasaan hampa. Bagaimana tidak sedih, bertahun tahun lamanya hidup bersama bagaikan kakak beradik yang tidak dapat dipisahkan, dan kini harus berpisah karena sebuah takdir yang tidak bisa untuk ditentang.


__ADS_2