
Saat sudah keluar dari kamar, Regar tengah duduk di ruang tamu sambil menunggu yang ada didalam kamar keluar.
Ketika melihat Nanney dan Henny bersama Nenek Aruma sudah keluar dari kamar, Regar bangkit dari posisinya dan mendekati Henny. Tentunya, ingin meminta maaf dengannya yang menyandang status istrinya. Mau bagaimana pun, dirinya merasa bersalah atas sikapnya waktu di perlombaan itu.
"Henny, aku ingin berbicara sama kamu." Ucapnya yang sudah berada di depan istri keduanya.
Nanney dan Nenek Aruma menjauh dari hadapan Henny dan Regar, karena tak ingin mengganggu pembicaraan yang mungkin saja ada hal penting, pikirnya.
Saat ini, tinggallah Regar dan Henny yang masih berada di ruang tamu. Keduanya nampak saling menatap satu sama lain dan masih sama diamnya.
"Mas Danu mau bicara apa? katakan saja pada pokok intinya, aku tidak mau masalah menjadi panjang."
"Aku mau meminta maaf sama kamu atas kejadian tadi di tempat Pak Lurah. Tidak hanya itu saja, aku mau berkata jujur dengan mu. Sebelumnya aku minta maaf, jika kedengaran tidak enak untuk kamu dengar. Sebenarnya aku dan Nanney memiliki hubungan yang lebih dari sekedar pacaran."
"Aku sudah mengetahui semuanya dari Kak Nanney. Jadi, kamu tidak perlu menjelaskan semuanya padaku."
"Benarkah? aku benar-benar minta maaf."
"Mas Danu tidak bersalah, tak perlu meminta maaf. Semua ini karena musibah, tidak perlu untuk mengalahkan diri sendiri maupun orang lain." Ucap Henny berusaha untuk tetap tenang.
"Syukur lah jika kamu sudah mengetahuinya. Maafkan aku jika harus mengecewakan kamu." Ucapnya merasa bersalah.
"Tidak perlu meminta maaf, karena Mas Danu tidak bersalah." Jawabnya masih sedikit menunduk.
"Jangan panggil aku dengan sebutan Mas Danu, namaku Regar." Ucapnya lagi.
"Ya, Mas." Jawab Henny yang tak mampu untuk menatap wajah suaminya.
Ingin rasanya bertanya sesuatu pada suaminya, Henny merasa takut jika tidak mendapatkan respon darinya. Mau tidak mau, Henny menyimpan pertanyaannya sendiri.
Karena waktu pun susah sore dan harus menyiapkan makan malam, Henny memilih untuk pergi ke dapur membantu kakaknya dan Nenek Aruma.
"Sudah sore, aku harus bantu Kak Nanney dan Nenek menyiapkan makan malam." Ucap Henny berusaha untuk menghindar dari suami. Takut akan menambah obrolan yang lainnya, pikirnya.
__ADS_1
"Ya, silakan." Jawabnya, Henny sendiri segera bergegas pergi ke dapur.
Sedangkan Regar, seketika dirinya teringat dengan keluarganya yang ada di Kota. Rasa yang sudah tidak sabar untuk pulang, ingin rasanya menghubungkan seseorang yang ia kenal. Tentu saja, Regar akan meminta nomor telpon dari Nanney.
"Aku harus menghubungi Kak Ciko untuk segera menjemput ku. Tidak mungkin juga aku berlama-lama di Kampung ini. Yang jelas secepatnya aku harus segera pulang ke Kota. Aku harus memberi kabar gembira ini pada Kak Gane. Aku yakin jika Kakak akan bahagia mendengar kabar dariku jika ternyata aku masih hidup." Gumamnya dan pergi ke dapur untuk meminta nomor telpon milik orang kepercayaan kakaknya pada Nanney.
Karena harus menuruti apa yang dikatakan Nanney. Sebisa mungkin untuk menghindari panggilan mesra dirumah Nenek Aruma.
"Nanney," panggil Regar sambil menyenggol lengannya.
Nanney yang kaget saat tengah memotong tempe, dirinya langsung menoleh ke samping.
"Ada apa?" tanya Nanney berusaha untuk tetap terlihat santai.
"Aku mau meminta nomor telepon milik Kak Ciko, aku ada perlu dengannya." Jawabnya dengan sebuah permintaan.
Seketika, Nanney kaget mendengarkannya.
"Kamu serius dan tidak sedang berbohong, 'kan? Kak Gane akan segera bebas?" tanya Regar untuk memastikan.
"Aku serius, dan tidak berbohong." Jawabnya meyakinkan.
"Ya sudah, jika kamu tidak mau memberiku nomor telpon milik Kak Ciko. Yang terpenting apa yang kamu ucapkan itu memang benar. Aku percaya sama kamu yang tidak pernah berbohong padaku." Ucapnya sedikit lega ketika mendengar bahwa kakaknya akan segera bebas dan akan ikut menjemput dirinya bersama Nanney.
Setelah merasa lega dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Regar segera pergi dari dapur. Begitu juga dengan Nanney merasa lega, karena tidak perlu membuang waktu untuk mengobrol dengan suaminya yang pertama.
Meski sedikit kecewa ketika mendengar penjelasan dari Nanney, sosok Henny tak ada hak untuk mengalahkan diantara keduanya. Siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri dan juga kakaknya.
Cukup lama berkutat di dapur dengan segala kesibukannya. Tidak memakan waktu lama, Nanney dan Henny yang ditemani Nenek Aruma pun, akhirnya selesai menyelesaikan pekerjaan dapur untuk menyiapkan makan malamnya.
Waktu yang hampir gelap tinggal satu jam lagi, Nanney dan Henny buru-buru menyiapkannya di meja makan. Tidak disangkakannya, rupanya masakan yang diolah tidak sedikit. Bahkan, masakannya cukup untuk delapan orang, pikir keduanya.
Karena belum ada yang membersihkan diri, satu persatu bergantian masuk ke kamar mandi dari Regar dan yang lainnya.
__ADS_1
Sedangkan di perjalanan, Ciko dan Doin merasa lega karena sebentar lagi akan sampai tinggal beberapa rumah yang harus dilewati.
"Cik, kapan kita sampainya?" tanya Gane yang merasa sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai dan bertemu dengan istrinya.
Tidak hanya itu saja, tentunya ingin memeluk untuk mengobati kerinduan yang sudah lama tak pernah bertemu.
"Sabar dikit, Bos. Sebentar lagi kita akan sampai, tenang saja. Tuh lihat, tinggal beberapa rumah lagi kita akan sampai." Jawab Ciko dengan segala ketakutan dan juga dilema jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Benarkah? aku sudah tidak sabar ingin memberi kejutan pada istriku."
'Dih, kepedean nih si Tuan. Semoga aja, entar di cuekin sama Nona Nanney. Sepertinya sangat bagus, jika Tuan dikerjain sama istrinya.' Batin Doin penuh harap akan ada hal konyol pada Tuannya.
"Stop!" ucap Ciko menghentikan mobilnya.
"Aw!" sakit, tau. Kenapa harus berhenti? katanya sudah mau sampai?"
Ciko langsung menoleh pada Gane dan menatapnya dengan sangat serius.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Cik?"
"Akan ada kejutan buat Bos Gane. Jadi, siapkan segala sesuatunya pada diri Bos sendiri."
Jawab Ciko dengan tatapan yang sangat serius.
Bahkan, tidak terlihat senda gurauan pada diri Ciko.
"Kejutan apaan, Cik?" tanya Gane yang masih belum mengerti.
"Aku tidak akan memberitahukannya pada Bos Gane, karena ini kejutan. Jadi, siapkan diri Bos sebaik mungkin." Jawab Ciko yang tetap pada pendiriannya.
"Kamu sedang tidak mengerjai ku kan, Cik?"
Ciko memilih diam dan meminta pada Pak Supir untuk melajukan mobilnya. Gane yang mengerti dengan apa yang dimaksudkan Ciko, dirinya memilih ikutan diam dan nurut padanya.
__ADS_1