
Pagi yang tidak secerah hari biasanya, hujan deras pun telah turun. Nanney yang sudah terbangun dari tidurnya sedari jam lima pagi, ia menyibukkan diri di dapur bersama Nenek Aruma dan Henny.
Sedangkan suami Henny tengah duduk santai di ruang tamu ditemani secangkir kopi panas untuk menemani pagi harinya.
"Kak," panggil Henny sambil mengupas bawang.
"Ada apa Hen?"
"Tidak ada apa-apa Kak, cuman tanya aja. Em ... bagaimana dengan ponsel Kakak?"
"Ponsel Kakak mati total, mungkin harus diperbaiki ke Konter."
"Oh ya, sepertinya mas Danu sedang nganggur deh. Bagaimana kalau kakak minta tolong dengannya saja? mumpung lagi nganggur loh Kak."
"Tidak ah, Kakak tidak enak mau minta tolong dengan suami kamu. Takutnya tidak bisa diganggu, nanti ujungnya terpaksa nolong Kakak deh."
"Mas Danu itu baik kok orangnya, coba aja deh Kak. Kalau Kak Nanney malu, biar aku aja yang meminta tolong."
"Serius?"
"Ya, aku serius. Mana ponsel Kakak, berikan padaku."
"Tunggu sebentar, Kakak mau ambilkan dulu ponselnya."
Meski ada rasa ragu dan takut, Nanney mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Nih ponsel Kakak. Ingat, jangan maksa suami kamu." Ucap Nanney sambil menyodorkan ponsel miliknya.
"Tenang aja, Mas Danu gak bakal nolak untuk diminta bantuan." Jawab Henny meyakinkan, Nanney pun tersenyum.
Saat sudah berada di dekat suaminya, Henny memberanikan diri untuk meminta tolong sama suaminya sendiri. Tidak peduli mau atau tidak, Henny tetap berusaha.
"Mas Danu," panggil Henny dengan lirih didekat suaminya.
Saat itu juga, sang suami menoleh padanya.
"Ada apa?" tanyanya dengan ekspresi datar.
"Apakah aku boleh meminta tolong sama mas Danu?"
__ADS_1
"Minta tolong apa?"
"Em ... ponselnya Kak Nanney rusak. Jadi, aku mau minta tolong sama Mas Danu untuk membawanya ke Konter." Jawab Henny sedikit ragu. Meski sering meminta tolong, tetap aja di awali dengan rasa takut untuk ditolak.
"Mana ponselnya, berikan padaku." Ucapnya sambil meminta ponselnya.
"Ini ponselnya, kalau bisa secepatnya diperbaiki." Jawab Henny dan menyodorkan ponselnya.
"Ya, kalau tidak mengantri. Menunggu hujannya reda, baru aku berangkat." Kata suaminya.
"Ya, tidak apa-apa." Jawab Henny, kemudian kembali ke dapur.
Nanney yang merasa lega karena ponselnya sudah dibawa ke konter, saat itu juga ia teringat dengan galerinya yang terdapat banyak foto kenangan bersama Regar, suaminya yang pertama.
Seketika, Nanney berubah menjadi ketakutan kalau-kalau isi galerinya akan ketahuan. Tentu saja, semua akan terbongkar dan akan menjadi masalah besar untuk adiknya maupun dirinya sendiri.
"Kak, Kak Nanney kenapa?" tanya Henny yang mendapati kakaknya tengah gelisah.
"Tidak ada apa-apa, kepala Kakak hanya terasa pening aja. Mungkin karena hamil muda dan hamil yang pertama, tentu saja banyak perubahan pada diri Kakak. Tolong ambilkan air minum, dan bawakan ke kamarku." Jawab Nanney berusaha untuk menghindari pertanyaan dari adik perempuan nya.
Henny yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Kakaknya.
Nenek Aruma yang penasaran, Beliau menyusulnya ke kamar.
"Sini, biar Nenek saja yang membawakan air minumnya." Ucap Nenek Aruma sambil meraih gelas yang sudah berada di tangan Henny.
Pintu kamar yang tidak terkunci, dengan mudahnya Nenek Aruma membuka pintu kamar milik. Nanney.
Diperhatikannya sosok Nanney tengah duduk. di bibir ranjang dengan lamunannya. Nenek Aruma ikut duduk disebelahnya.
"Kamu kenapa, Nak? apakah kamu sedang ada masalah? ayo ceritakan sama Nenek. Kamu jangan memendamnya sendirian, tidak baik untuk kesehatan kamu." Tanya Nenek Aruma yang tidak lupa mengingatkan nya.
Nanney menoleh, kemudian diraihnya kedua tangan milik Nenek Aruma dan menggenggamnya.
"Nanney sedang dilema, Nek." Jawab Nanney dengan ekspresi sedih, seperti tengah memikul beban yang begitu sangat berat.
Nanney langsung merangkulnya, mencoba untuk memberi ketenangan.
"Dilema kenapa, Nak? ceritakan pada Nenek. Jangan kamu pendam sendiri masalah kamu itu, kasihan janin yang ada didalam kandungan mu."
__ADS_1
"Nanney tidak tahu, apa yang harus dikatakan pada Nenek."
"Katakan saja apa yang sudah mengganggu pikiran kamu, ayo katakan pada Nenek. Jelaskan semuanya, agar Nenek dapat mengerti dengan apa yang ingin kamu katakan."
"Nanney pingin pulang ke Kota, Nek. Maaf, bukan maksudnya untuk mengecewakan Nenek. Hanya saja, masih ada masalah yang belum diselesaikan."
"Masalah apa, Nak? apakah ada masalah dengan suami kamu? jelaskan pada Nenek."
"Nanney bingung harus berkata apa sama Nenek. Ingin sekali bercerita, tapi tidak mungkin." Jawab Nanney yang masih dihantui bayang-bayang semuanya, suami yang dulu maupun yang sekarang.
Nenek Aruma mengusap punggungnya, dan membelai rambut panjangnya.
"Tenangkan dulu pikiranmu, jangan banyak memikirkan sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan kamu. Kalau ada masalah atau membutuhkan pertolongan, katakan saja pada Nenek atau Henny. Jangan kamu pendam sendiri, tidak baik untuk kesehatan."
"Ya Nek, mungkin karena merindukan suami, membuat Nanney merasa tidak karuan."
Lagi-lagi Nanney kembali beralasan demi menutupi kebenaran yang ada.
"Nenek dapat mengerti rasanya hamil, pasti membutuhkan perhatian dari seorang suami untuk bermanja-manja dan tentu saja ada yang menemani. Kamu yang sabar, doakan suami kamu yang sedang sibuk bekerja, semoga dimudahkan untuk menyelesaikan pekerjaannya."
"Ya Nek, terimakasih banyak sudah menyemangati Nanney."
"Kamu itu cucu Nenek sekaligus putri yang pertama. Kamu obat segala obat kerinduan pada putri Nenek yang sudah tiada." Ucap Nenek dan keduanya berpelukan.
Diruang tamu, sosok Danu yang penasaran ingin memeriksa ponsel kakak iparnya itu, alih-alih mencoba untuk menyalakan ponselnya yang dikatakan telah rusak dan tentunya mati total.
Pelan-pelan untuk menekan dan semakin ditambah tekanannya, Danu mencoba untuk menyalakan ponselnya.
Seketika, alangkah terkejutnya ketika ponselnya langsung menyala. Karena penasaran benar-benar sudah normal atau belum, Danu mencoba untuk membuka beberapa aplikasi di dalamnya.
Tak peduli jika harus dimarahi, setidaknya mempunyai alasan untuk memperbaiki ponsel milik kakak iparnya itu.
Entah kenapa, rasa penasarannya pun muncul begitu saja. Bahkan, dirinya benar-benar sudah tidak sabar untuk membuka galeri. Kebiasaan setiap orang yang selalu dibuka duluan adalah galeri untuk melihat-lihat.
Satu demi satu, Danu melihat foto cantik bak bidadari dengan penampilannya yang anggun. Masih kurang puas, Danu terus menggeser kebawah untuk melihat lebih banyak lagi.
Tidak peduli baginya mau dikatain apa, yang terpenting rasa penasarannya tidak menggantung dalam pikirannya.
Saat itu juga, Danu benar-benar sangat terkejut ketika melihat foto yang sama persis dengan dirinya. Danu memperbesar gambar fotonya agar terlihat lebih jelas lagi karena rasa penasarannya.
__ADS_1