Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Merasa kesal


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun tidak secerah angan-angan Nanney. Semua bagai mimpi buruk, hingga dirinya begitu sulit untuk mengartikan mimpinya itu.


Suara ketukan pintu tengah membuyarkan lamunannya ketika selesai menyisir rambutnya. Setelah itu Nanney membuka pintu kamarnya.


"Mbak Lina, ada apa?" tanya Nanney sedikit menyimpan rasa penasarannya.


"Ini Nona, silakan untuk dibaca." Jawabnya sambil menyodorkan selembar kertas pada Nanney.


"Apa ini, Mbak?" Nanney kembali bertanya.


"Itu sebuah perjanjian antara Nona dan Tuan, silakan untuk dibaca. Jika ada yang tidak dimengerti, Nona bisa bertanya sama Tuan Gane." Jawabnya memberi penjelasan sedetail mungkin.


"Perjanjian, perjanjian apa maksudnya, Mbak?"


"Saya minta kepada Nona untuk membacanya dengan teliti, nanti Nona bakal tahu sendiri."


"Ya Mbak, terimakasih." Ucap Nanney sambil memperhatikan selembar kertas yang ada ditangannya.


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu, Nona."


"Ya Mbak, Silahkan." Kata Nanney, kemudiah is segera menutup pintunya kembali setelah mbak Lina pergi dari hadapannya.


Sambil duduk di tepi ranjang, dengan seksama Nanney membaca tulisan dalam selembaran kertas dari Gane untuk dirinya.


"Perjanjian? perjanjian macam apa ini, ada-ada saja. Jadi penasaran, apa isinya ya." Gumam Nanney saat membaca sekilas pada huruf besar yang bertuliskan sebuah perjanjian.


Dengan seksama dan sangat detail, Nannet membacanya tanpa ada satu kalimat yang tertinggal satu kata pun. Saat itu juga, Nanney begitu terkejut saat membacanya. Benar-benar diluar dugaannya, tanpa ia pikir sebelumnya, batin Nanney saat membaca beberapa poin dari tulisan yang ia baca.


"Perjanjian, kenapa juga mesti ada perjanjian. Lagi pula, namanya kematian itu tidak ada yang tahu. Kapan, dimana, dengan siapa, keadaan yang seperti apa, aneh." Gerutu Nanney yang merasa dirinya mendapat pemerasan atas insiden kecelakaan pada kapal saat bersama suaminya.


Nanney mengepal kuat pada lembaran kertas menjadi tidak berbentuk lembaran kertas seperti semula. Napas yang memburu, dan juga terasa panas saat mengontrol pernapasannya.

__ADS_1


"Bagaimanapun caranya, aku harus bisa kabur dari rumah ini. Ya! aku harus meninggalkan tempat terkutuk ini, apapun caranya." Ucapnya dengan sorot mata yang penuh kebencian.


Karena tidak punya pilihan lain sebelum mendapatkan ide yang cukup bagus, Nanney tetap mengikuti apa yang sudah menjadi keputusan dari kakak iparnya.


Saat sudah berada di depan pintu kamar milik Gane, Nona terasa malas untuk mengetuk pintu kamarnya.


Mau tidak mau, Nanney pun terpaksa mengetuk pintunya. Tentu saja, pemilik kamar terasa terganggu dengan suara ketukan yang cukup mengganggu pendengarannya.


Seketika, Gane menatap tajam pada Nanney. Setelah itu, ia langsung menarik paksa untuk masuk kedalam kamarnya dan mendorong Nanney ke tempat tidurnya. Kemudian, Gane langsung mengunci pintu kamarnya. Tidak berpikir panjang, Gane berjalan mendekati sambil melepas kaos oblongnya dan melemparkan pada Nanney yang tengah menahan rasa kekesalannya pada kakak iparnya. Lemparan kaos miliknya mengenai wajah milik adik iparnya.


Nanney sendiri semakin ketakutan saat mendapati sikap Gane yang menurutnya sangatlah keterlaluan.


"Jangan mimpi, aku tidak selera dengan tubuhmu. Cepat kau bereskan seprainya, kau ganti yang baru. Setelah itu, kau cuci bersih semuanya termasuk bajuku." Perintah Gane yang tidak lupa dengan sebuah cacian serta hinaan, Nanney hanya bisa mengepalkan kedua tanganya tanpa Gane ketahui.


Rasa kesal dan geram, ingin sesekali melayangkan tinjuan lewat tangan dengan sekuat tenaganya. Tentu saja ingin membalaskan atas kekesalannya karena sikap yang sudah kelewatan untuk diterima.


Gane yang memang angkuh dan keras kepala, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Nanney tengah sibuk membereskan tempat tidur milik kakak iparnya. Setelah selesai dan tidak ada lagi yang kurang, Nanney segera keluar dari kamar dengan membawa seprai beserta selimutnya.


"Kak Nanney," panggil Vandu menghentikan langkah kakinya.


"Ya, ada apa?" jawab Nanney dan bertanya.


"Sini, aku bantuin Kakak." Ucap Vandu sambil meraih bawaan yang ada ditangan Nanney.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kamu lanjutkan apa yang mau kamu lakukan." Jawab Nanney sambil mempertahankan apa yang ada ditangannya.


"Nanney, biar Vandu membantumu. Sudahlah, kamu jangan takut, Gane tidak melihatmu." Ucap Bunda Sere ikut menimpali, Nanney sendiri tidak bisa menolaknya.


"Baiklah, sebelumnya aku ucapkan banyak terimakasih." Jawab Nanney dengan malu, Vandu segera meraihnya dan membawakannya sampai di ruang pencucian baju.


"Kamu tidak perlu takut, Gane memang seperti itu sikapnya. Tugas kamu sudah selesai, 'kan? kalau sudah, ikut Tante ke Taman belakang yuk. Sambil menunggu waktunya sarapan pagi, kita sambil berkeliling taman untuk mencari udara segar. Tubuh kamu juga butuh energi, jangan siksa kesehatanmu dengan cara mengurung diri." Ucap Bunda Sere sambil membujuknya, Nanney sendiri tidak dapat untuk menolaknya.

__ADS_1


Gane yang sudah selesai membersihkan diri, ia mencari pakaian disekitar sofa dan diatas tempat tidurnya tidak ditemukan pakaian kerjanya.


Gane langsung menekan tombol telepon rumah yang menghubungkan di setiap sudut rumahnya.


"Nanney!" teriak Gane sangat kencang, semua yang ada didalam rumah maupun diluar ikut kaget mendengarkan teriakan dari seorang Gane.


Apalagi Nanney sang pemilik nama, semakin ketakutan mendengarkan suara yang cukup melengking pada telinganya saat menyebutkan namanya sekaligus memanggilnya.


Secepat mungkin, Nanney segera berlari menuju kamar milik kakak iparnya dengan sangat kencang.


"Kak Gane benar-benar keterlaluan." Ucap Vandu sambil melihat Nanney tengah berlari menuju kamar Gane.


"Kakak kamu memang seperti itu, nikmati saja. Lagian kapan lagi kak Gane bisa berteriak, kalau bukan sekarang waktunya. Bukankah selama ini kak Gane selalu mengunci mulutnya? biarin aja selagi bukan kita yang direpotkan." Ucap David ikut menimpali.


"Ada apa dengan Gane?" tanya Tuan Hardika yang tentunya ikut dibuat kaget oleh suara keponakannya sendiri.


"Tidak ada apa apa, hanya masalah kecil pada Gane." Sahut Bunda Sere, kemudian kembali ke tempatnya masing-masing.


Nanney yang sudah berada didalam kamar, sedikitpun tidak berani untuk menatapnya.


"Maaf, Kak. Aku benar-benar lupa." Ucap Nanney yang baru sadar jika dirinya telah lupa dengan tugasnya. Karena terburu buru, Nanney sampai lupa untuk mempersiapkan pakaian kerja kakak iparnya.


"Cepat kau kerjakan tugas kamu sesuai perjanjian kita."


"Aku belum menandatangani surat perjanjian itu." Ucap Nanney mencari alasan.


"Aku tidak butuh tanda tangan dari kamu. Sekarang juga, cepat kau kerjakan tugas kamu." Perintah Gane yang tidak menyukai banyak alasan.


Tanpa berucap, Nanney langsung menuju lemari pakaian.


'Apa susahnya coba, tinggal ambil sendiri kan, juga bisa. Dasar, lelaki pemalas, pantas saja tidak laku. Aku pun tidak akan pernah sudi mempunyai suami seperti dirinya, cih.' Batin Nanney saat hendak membuka lemari baju.

__ADS_1


__ADS_2