
Rasa yang sudah di pendam sejak malam, Nanney memberanikan diri untuk bertemu dengan sang suami. Gemetaran, itu sudah pasti. Sejenak ia terdiam dan menunduk, seperti tengah menyiapkan diri untuk menemui suaminya.
"Apa yang harus aku katakan pada Kak Gane, aku benar-benar bingung untuk bertemu dengannya." Gumamnya dengan gelisah.
"Aku harus bisa, aku harus berani untuk menemuinya." Gumamnya lagi dan langsung pergi untuk menemui suaminya.
"Nona, silakan duduk. Saya akan panggilkan suami Nona, tunggu sebentar." Ucapnya pada Nanney yang baru saja masuk ke ruangan yang dijadikan tempat tinggal suaminya.
Tidak begitu jelas, Nanney dapat menangkap beberapa orang berada dalam satu sel tahanan termasuk suaminya.
Sedangkan dibalik jeruji besi, Gane masih duduk bersandar sambil menahan rasa sakit bekas tembakan yang belum juga kering lukanya.
"Bro, sepertinya istri kamu sudah datang."
"Aku malu, aku benar-benar merasa hina untuk bertemu dengannya." Jawab Gane masih tertunduk.
"Istri kamu saja tidak malu untuk menemui kamu. Lantas, untuk apa kamu harus malu. Ayo bangunlah, istrimu sudah menunggu." Ucap Iswan membujuk.
"Tidak, aku tidak berani untuk bertemu dengannya. Aku terlalu kotor, lagian aku tidak mempunyai kalimat yang cocok untuk diucapkan. Jadi, untuk apa aku harus menemuinya."
"Bro, aku tahu jika sebenarnya kamu ingin bertemu istrimu. Aku tahu kamu berbohong untuk tidak bertemu, ayolah bangun. Tuh, kamu akan disuruh menemui istri kamu."
Saat itu juga, Gane langsung menoleh kesamping. Gane pun menyadari jika dirinya ingin sekali bertemu, karena perbuatannya membuat dirinya merasa enggan untuk bertemu.
"Yang bernama Gane, kemari lah."
Gane masih diam, ingin menjawab saja terasa berat.
__ADS_1
"Bro, ayo bangun. Sebentar Pak, aku sedang membantunya untuk berdiri." Sahut Iswan mewakili serta memberi alasan agar bisa membujuk teman satu tahanan.
"Tidak, aku tidak mau menemuinya. Biarkan istriku pulang, itu jauh lebih baik antara aku dengannya." Jawab Gane dengan terpaksa untuk beralasan.
"Bro, istrimu sudah jauh jauh datang kemari untuk menemui kamu. Kenapa kamunya jadi begini? ayolah bangun dan temui istrimu." Bujuk Iswan tanpa bosan dan terus mendesaknya.
"Mau keluar atau tidak, ha! jangan mengulur-ngulur waktu, paham."
"Maaf Pak, saya tidak bisa menemui istri saya. Sekali lagi, saya meminta maaf. Katakan padanya, jika saya belum siap untuk bertemu." Jawab Gane dengan terpaksa.
"Bodoh sekali, kau ini. Istrimu itu, istrimu." Bentak Iswan yang ikutan emosi karena merasa geram dengan cara berpikirnya.
"Kenapa kau yang emosi? dia istriku, bukan istrimu. Jadi, kau tidak ada hak untuk mengatur keputusanku, paham."
Bukannya menjawab pertanyaan dengan baik, justru Gane ikutan emosi. Sedangkan Nanney yang sudah sedari tadi menunggu, tak juga suaminya menemui dirinya.
Gane masih berdebat, hingga akhirnya pertemuan yang sudah disusun jadwalnya, tiba-tiba tak ada pertemuan diantara keduanya.
"Maaf Nona, suami Nona belum siap untuk bertemu dengan Nona. Soal untuk alasan, tidak tahu."
Nanney yang mendengarnya pun, hatinya menjadi gundah. Ingin rasanya menangis dan berteriak sekencang mungkin, dirinya sendiri tak kuasa untuk melakukannya.
'Berarti benar, Kak Gane sudah tidak peduli denganku. Bahkan, aku datang kesini saja diabaikan. Mungkin juga Kak Gane tidak akan menerima kabar kehamilan ku ini.' Batinnya sangat bersedih.
"Terimakasih Pak, kalau begitu saya permisi."
Dengan perasaan kecewa, Nanney pergi dari ruangan tersebut membawa luka serta kecewa. Bahkan, napasnya kini terasa sesak dan sulit untuk bernapas.
__ADS_1
"Nanney, Nan." Panggil Gane yang tiba-tiba memanggil nama istrinya.
Nanney seperti tidak percaya dengan suara yang tidak asing di telinganya. Saat itu juga, Nanney langsung menoleh kebelakang untuk memastikan.
Karena rasa penasaran dan tidak sabar, Nanney langsung memutar balikkan badannya. Dan benar saja, sang suami sudah berada di hadapannya.
"Waktu kalian hanya sebentar, jadi gunakan waktu kalian sebaik mungkin." Ucapnya memberi pesan.
"Baik Pak, terimakasih sudah mengizinkan saya untuk berbicara dengan istri saya."
"Ya, silakan."
Setelah diberi kesempatan untuk bertemu istrnya, Gane langsung memeluknya dengan erat.
"Nanney, maafkan aku yang sudah membuatmu kecewa. Aku benar-benar meminta maaf jika aku sudah menyakitimu dan sudah membuat hidupmu hancur." Ucap Gane masih memeluk istrinya.
Nanney bingung untuk menjawabnya, hanya bisa diam dan diam.
"Nanney, aku mohon maafkan aku. Maafkan atas segala kesalahan ku, aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi." Ucap Gane yang terus meminta maaf pada istrinya atas semua kesalahan yang sudah di perbuat.
"Lepaskan, aku kesulitan untuk bernapas. Ada nyawa di dalam perutku." Ucap Nanney secara reflek dan keceplosan.
Gane yang mendengar kalimat terakhir dari istrinya, benar benar sangat terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.
Gane menatap lekat wajah istrinya, sedangkan Nanney gemetaran saat kalimat yang seharusnya belum saatnya untuk diucapkan, rupanya lolos begitu saja tanpa disadarinya.
Gane memegangi kedua pundak istrinya, serta menatapnya dengan lekat.
__ADS_1