Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Sangat terkejut dan seperti mimpi


__ADS_3

Gane masih membisu, kesadarannya seakan sudah terkumpul dengan sempurna. Apa yang sudah dilakukannya memanglah benar nyata adanya, bukan mimpi ataupun halusinasi.


Dirinya merasa kotor karena melakukannya bukan karena cinta, Gane bergegas untuk membersihkan diri. Cukup lama berendam dengan air hangat, sedikit demi sedikit, Gane dapat mengingat semua.


Setelah merasa cukup mendingan, Gane segera keluar dari kamar mandi. Kemudian ia mengenakan pakaiannya, bayangan terus menerus pada istrinya. Sebisa mungkin untuk menepis nya, tetap saja bayangan itu selalu muncul dalam ingatannya.


Saat berjalan menuju tempat tidur, Gane memperhatikan istrinya tengah tertidur pulas. Ingin mendekati, takut terbangun dari tidur pulasnya. Tidak mendekati, dirinya sendiri tidak mampu untuk menahan rasa kantuknya. Mau tidak mau, akhirnya Gane ikut tidur disebelah sang istri.


Saat sudah berada di dekat istrinya, Gane membaringkan tubuhnya dengan sangat hati-hati agar tidak mengagetkan sang istri.


"Tidak mungkin aku mengenakan baju untuknya, dia pasti akan terbangun. Tapi, jika tidak aku kenakan baju untuknya, maka entah apa reaksinya. Mungkin saja akan marah besar padaku, apapun itu, aku akan menerima amarah darinya, sekalipun akan memukulku." Gumamnya sangat lirih, kemudian ia memejamkan kedua matanya.


Malam yang semakin dingin, membuat tubuh Nanney merasakan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Badan yang terasa pegal dan juga sakit, dan tentunya pada bagian tertentu miliknya. Pelan pelan ia membuka kedua matanya, tidak lupa juga untuk mengumpulkan kesadarannya.


Redup, suasana benar-benar tenang yang dihiasai dengan lampu temaram. Bahkan terlihat romantis untuk pasangan pengantin baru, tentunya untuk memadu cinta dan menyalurkan has*rat yang membara.


Nanney meraba disebelahnya, tentu saja untuk memeriksa keberadaan sang suami. Karena tenggorokan terasa kering dan ingin rasanya minum, Nanney segera duduk dan mengambil air minum.


Seketika, ia terkejut dengan kondisi tubuhnya yang polos tanpa busana. Hanya kain selimut yang membungkus tubuh polosnya itu.


"Tidak ...!" teriak Nanney dengan suara yang sangat melengking. Gane tersentak kaget saat terdengar suara teriakan yang tidak jauh dari pendengarannya, kemudian ia langsung bangkit dari posisinya dan segera memeluk istrinya.

__ADS_1


Napas yang sama-sama terasa sesak dan sulit untuk dikontrol, Gane berusaha untuk mendekap tubuh istrinya agar tidak memberontak.


"Lepaskan aku! jangan sentuh aku." Bentak Nanney dengan penuh amarah yang memuncak, tangisnya pun pecah sambil mencengkram selimut yang menutupi tubuh polosnya itu. Nanney benar-benar merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.


"Aku benar-benar meminta maaf, maafkan aku yang tidak bisa mengontrol naf*suku. Aku tahu aku salah, aku bisa jelaskan semuanya." Ucap Gane masih mendekap tubuh istrinya, takut sang istri bisa melakukan hal nekat diluar dugaannya.


Nanney masih terus menangis sesenggukan dalam dekapan suaminya. Dirinya merasa kotor dan gagal mempertahankan sesuatu yang sangat berharga itu. Bagi Nanney yang berhak memilikinya ada seseorang yang benar-benar mencintainya, kenyataannya telah direnggut dengan lelaki yang tidak mencintainya, melainkan lelaki yang sudah membenci dirinya, serta dengan dendamnya.


"Aku berjanji, aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Aku mohon, kamu jangan menghukum diri kamu sendiri. Kamu bisa menghukum ku seperti yang kamu mau." Ucap Gane yang terus mengeratkan dekapannya.


Nanney hanya bisa menangis sesenggukan karena dirinya tidak mampu untuk memberontak, tenaga suaminya jauh lebih kuat darinya.


"Aku akan menemanimu mandi, apapun alasannya. Aku takut, jika kamu akan melakukan hal nekat." Jawab Gane dengan kekhawatiran, Nanney langsung mendongak pada suaminya.


"Aku bukan orang bodoh yang mudah melakukan hal yang tidak bermanfaat, karena aku bukan kamu." Kata Nanney dengan terang-terangan, sedangkan Gane hanya bisa diam dan menerima apa yang diucapkan oleh istrinya itu.


"Baiklah, aku percaya sama kamu." Jawab Gane yang akhirnya memilih untuk mengalah dengan sang istri. Kemudian ia memilih untuk membereskan tempat tidur dengan mengganti seprai nya yang kotor karena adanya bercak darah yang sudah ia perbuat pada istrinya.


Dengan perasaannya yang sangat hancur karena perbuatan dari suaminya, sebisa mungkin Nanney untuk tetap tenang. Meski kecewa, sakit, kesal, marah, benci, Nanney berusaha untuk tetap tenang dan memulihkan kesadarannya terkumpul.


Saat sudah berada di dalam kamar mandi, Nanney memilih untuk berendam dengan air hangat. Tidak peduli dengan waktu yang sudah lewat larut malam, Nanney tetap nekat untuk membersihkan diri dengan berendam. Berharap masih ada sisa kebenaran yang ia ingat dengan jelas.

__ADS_1


Bagian kepala yang masih menyisakan rasa sakit dan pusing, sedikit demi sedikit lumayan mereda. Badan pun terasa mendingan, tidak seperti ketika bangun tidur yang begitu remuk sekujur tubuhnya, bahkan dengan bagian yang tertentu ikut terasa perih dan tidak karuan.


Menangis, itu tidak akan mungkin untuk mengembalikan barang berharganya kembali. Nanney hanya bisa memendam kebenciannya terhadap sang suami yang sudah merenggut mahkota yang paling berharga tanpa cinta apapun untuknya, pikir Nanney dengan penuh kekesalannya.


Setelah dirasa sudah cukup dan badan terasa agak mendingan, Nanney segera keluar dari kamar mandi. Naas, ia lupa untuk membawa baju gantinya. Alhasil, dirinya terpaksa keluar dengan handuk yang melilit pada tubuh polosnya.


"Bagaimana ini, aku harus bagaimana? aku takut jika lelaki itu akan melakukannya lagi padaku karena penampilan ku yang seperti ini." Gumamnya yang dipenuhi dengan kekhawatiran pada dirinya.


Karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya Nanney terpaksa keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan. Tidak peduli baginya dengan apa yang akan dilakukan suaminya, toh dirinya sudah melakukannya, pikir Nanney yang mulai teringat ketika dirinya pun meminta untuk menuntutnya lebih.


Malu, ia teringat dengan perbuatannya sendiri. Perbuatan yang tidak melakukan penolakan apapun dengan apa yang dilakukan oleh suaminya terhadap dirinya sendiri. Bahkan Nanney ikut menikmatinya dengan has*rat yang membara dan menggebu.


Sejenak ia terdiam didepan cermin, menatapnya dengan lekat. Sebisa mungkin untuk tetap tenang, meski hatinya bercampur aduk rasanya.


Pelan-pelan dirinya membuka pintu dan menutupnya kembali, kemudian ia berjalan menuju lemari baju. Sedangkan Gane tengah duduk di sofa sambil menyibukkan diri dengan ponselnya.


Entah apa yang sedang Gane lakukan, hingga tidak sadarkan diri dengan sosok istrinya tengah berjalan mendekat pada lemari baju yang jaraknya tidak jauh darinya.


Pelan-pelan Nanney membuka lemari baju dengan sangat hati-hati, berharap sang suami tetap fokus dengan ponselnya dan lupa dengan kehadiran sang istri didekatnya.


Tetap saja, sepasang mata Gane tetap mengawasi di sekitarnya. Saat itu juga, Gane mendongak dan melihat istrinya yang baru saja menutup lemari baju.

__ADS_1


__ADS_2