Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Menyelamatkan diri


__ADS_3

Ciko yang juga sudah merasa panik, ia memberikan pistolnya pada Gane. Ditambah lagi dengan jumlah mobil yang bertambah untuk mengejarnya.


Tidak ada cara lain selain menambahkan kecepatannya, sebisa mungkin untuk bisa mengelabui beberapa anggota polisi yang jaraknya tidak jauh darinya.


Sambil mengoperasikan setir mobilnya, Gane juga sudah siap siaga dengan pistol yang ada ditangan kanannya.


Ciko yang tidak bisa duduk dengan tenang karena laju kendaraan yang disetir oleh Gane sangat kencang bak kilat yang siap menyambar, mau tidak mau Ciko hanya bisa nurut dengan apa yang diperintahkan oleh Bosnya sendiri.


"Bos, bagaimana ini? depan kita jurang." Ucap Ciko dengan kekhawatiran yang penuh kepanikan. Saat itu juga, Gane langsung mengerem mendadak saat menemukan jalan buntu karena kepanikan nya. Tidak ingin membuang kesempatan emasnya, Gane memperlambat lajunya kendaraan. Kemudian, ia sambil mencari celah untuk dapat melarikan diri dalam mobilnya.


"Tenang, Cik. Percayalah denganku, kita akan selamat dan baik-baik saja. Kita tidak mempunyai cara lain selain menerjunkan mobil ini ke jurang."


"Apa! jangan gila kamu, Bos."


"Aku memang sudah gila, Cik. Ayo, pasangkan badan mu untuk turun dari mobil ini." Kata Gane sambil memberi perintah pada Ciko.


Tidak ada pilihan lain selain terpaksa turun dari mobil dengan kondisi mobil yang terus melaju demi keselamatan dari kejaran polisi, Gane dan Ciko terpaksa melakukannya.


Sedangkan mobil yang mengejarnya, kini jaraknya mulai dekat. Tentu saja sangat mudah untuk melayangkan sebuah peluru padanya.


Saat itu juga, Gane dan Ciko siap-siap untuk turun dari mobil dengan memasang badannya untuk tiarap. Kemudian, keduanya segera berlari ke semak-semak belukar diantara jurang dan lahan yang sangat luas. Mobil pun jatuh ke jurang dengan sendirinya.


Beberapa anggota polisi tengah turun dan memasang pistolnya masing-masing sambil berlari mengejar kedua tersangka yang kini menjadi buronan polisi. Saat itu juga, beberapa anggota polisi langsung menembakan nya ke arah Gane dan Ciko yang tengah berlari ke semak semak.


DOR! DOR! DOR!


Suara tembakan begitu menggelegar mengarah pada Ciko dan Gane. Keduanya sebisa mungkin untuk bisa menghindari tembakan yang siap menembus dada bidangnya maupun anggota tubuh yang lainnya, dan sebisa mungkin untuk melarikan diri dari kejaran polisi.


"Sial! cepat kalian cari mereka berdua di dalam semak-semak ini. Aku yakin, mereka berdua masih bersembunyi di dalam semak-semak ini." Perintahnya untuk terus mencari keberadaan Gane dan Ciko.

__ADS_1


"Bos, bagaimana ini? sekali kita bergerak, maka habislah nyawa kita."


"Diam, kamu Cik. Kita pasti selamat, kamu jangan takut. Bukankah kita sering kejar-kejaran dengan polisi? ini hal biasa bagi kita." Bisiknya dengan lirih.


"Tentu saja, Bos. Karena kita bukan orang bodoh, jejak kita tidak akan pernah ditemukan oleh mereka." Kata Ciko dengan seringai nya.


DOR! DOR!


Suara tembakan kini kembali terdengar oleh Ciko dan Gane sangat jelas, tetap saja tidak membuat keduanya merasa takut. Khawatir itu sudah pasti, tapi tidak membuatnya untuk menyerah.


"Bagaimana kalau kita tunggu mereka berdua sampai pagi? saya rasa mereka orang bisa kita tangkap jika kita beroperasi sampai pagi."


"Ide yang sangat bagus, tapi luasnya lahan ini tidak bisa kita kuasai." Jawabnya.


"Baiklah, kita akan melakukan penyelidikan lagi di waktu yang tepat. Sekarang ayo kita balik lagi, sepertinya mereka berdua sudah pergi jauh." Ucapnya dan mengajak anggota lainnya untuk kembali pulang.


Sedangkan Ciko dan Gane kini dapat bernapas dengan lega. Pasalnya, keduanya tidak perlu repot-repot untuk menghadapi anggota polisi yang tengah mengepung mereka berdua.


"Bos, hati-hati. Kita mundur beberapa langkah dan pasangkan pistolnya ke arah ular kobra itu, kemudian kita lepas pelatuknya dan layangkan pelurunya tepat pada kepala si kobra." Kata Ciko yang juga merasa takut jika dirinya menjadi sasaran empuk oleh si ular kobra.


"Tidak, Cik. Jangan kita bunuh hewan hidup itu, ular kobra itu juga butuh hidup seperti kita yang terkepung oleh banyaknya anggota polisi. Ingat, kita hampir mati." Jawab Gane yang tidak mau menanggung resiko lebih berat lagi.


"Tapi Bos, pilihannya itu, kita yang mati atau ular kobra itu yang akan mati." Kata Ciko pelan-pelan mundur beberapa langkah untuk menghindari ular kobra yang ada di hadapan nya itu.


"Kita hidup, ular kobra itu juga hidup. Ingat, ular kobra itu tidak sendirian. Aku yakin jika ular kobra itu membawa pasukannya tanpa kita ketahui. Lebih baik kita balik badan dan lari sekencang mungkin, ayo."


"Bos, untuk apa kita punya senjata kalau bukan untuk melawan?"


"Tidak ada yang perlu kita lawan, ayo kita balik badan dan lari sejauh mungkin dan sekencang mungkin." Jawab Gane yang tetap bersikukuh dengan apa yang sudah menjadi tekad bulatnya.

__ADS_1


"Bos Gane benar-benar sudah gila." Gumamnya dan hanya bisa pasrah.


"Awas, Cik ...!" teriak Gane sangat nyaring sambil berlari dengan kencang.


"Aw ...!" teriak Gane menjerit kesakitan saat kakinya tersandung batu. Saat itu juga, lengannya mengenai bambu runcing yang bercabang dan juga tajam hingga mengeluarkan darah segar.


"Bos!"


Tanpa pikir panjang, Gane langsung mencabut bambu yang menancap pada lengannya itu.


"Aw! sakit, Cik." Pekik Gane sambil manahan rasa sakitnya pada lengan sebelah kiri.


Saat itu juga, Gane langsung melepaskan jaket serta kaosnya untuk mengikat lengannya yang sedari tadi mengeluarkan darah segar.


Sedangkan di rumah, Nanney sedari tadi tidak dapat untuk memejamkan kedua matanya. Tetap saja, Nanney merasa cemas memikirkan keadaan suaminya yang entah dalam keadaan baik ataupun buruk, pikirnya yang sedari tadi mondar mandir di dalam kamar.


Karena tidak bisa tidur, Nanney memilih pergi ke dapur dan membuat kopi panas untuk menjadi teman malamnya. Dilihatnya jam dinding yang tengah menunjukkan waktu tengah malam, yakni jam setengah satu malam.


"Kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak begini, ya. Semoga Kak Gane baik-baik saja, dan tidak ada bahaya apapun dengannya." Gumam Nanney setelah menyesap minumannya.


Sedangkan di jalan yang sangat sepi, Gane meminta Ciko agar menghubungi orang kepercayaan untuk menjemputnya.


"Bagaimana, Cik?" tanya Gane yang sudah tidak sabar menunggu anak buahnya datang.


"Mereka sedang dalam perjalanan kesini, Bos." Jawab Ciko sambil mengantongi ponselnya.


Tidak lama kemudian, datanglah satu mobil menuju ke arah Gane dan Ciko dan berhenti di depannya.


"Bos, ayo cepetan masuk."

__ADS_1


"Ayo Bos, waktu kita tidak banyak." Kata Ciko ikut menimpali dan mengajaknya untuk segera naik ke mobil.


Gane yang sudah tidak tahan saat menahan rasa sakit pada lengannya bagian atas, segera ia masuk ke dalam mobil.


__ADS_2