
Selesai menikmati makan malamnya bersama, semua beranjak dari ruang makan tersebut. Regar dan Gane maupun Ciko dan Doin, kini mereka berempat tengah berada di ruang tamu untuk berbagi cerita satu sama lain antara adik dan kakak.
Sedangkan Nanney dan Henny yang ditemani Nenek Aruma, kini tengah duduk santai sambil menonton acara di televisi.
Meski pandangannya tertuju pada layar televisi, pikiran Nanney entah kemana. Terasa penat untuk memikirkan kelanjutannya tentang hubungan dirinya bersama sang suami.
Begitu juga dengan Henny, dirinya ikut merasa takut jika kakaknya akan mendapatkan masalah besar atas pernikahan yang tidak diketahui oleh suaminya.
"Nanney, kamu kenapa? jangan terlalu rumit untuk dipikirkan. Percayalah sama Nenek, semua akan baik-baik saja. Lebih baik kamu istirahat saja, kasihan dengan kehamilan kamu jika banyak pikiran."
"Ya Nek, terimakasih sudah mengingatkan Nanney. Kalau begitu, Nanney masuk ke kamar duluan ya Nek. Dan kamu Henny, Kakak mau istirahat. Jika ada apa-apa, kamu bisa bangunkan Kakak." Jawab Nanney dan tak lupa memberikan pesan untuk adiknya.
Henny mengangguk.
"Ya Kak, tidak apa-apa. Kesehatan Kak Nanney jauh lebih penting dari apapun." Jawab Henny.
"Ya sudah kalau gitu, Kakak masuk ke kamar duluan." Ucap Nanney berpamitan.
"Ya Nak, istirahat lah." Timpal Nenek Aruma ikut bicara.
Nanney yang merasakan benar-benar terasa penat, ia langsung masuk ke kamarnya.
Naas, saat hendak membuka pintunya, Regar sudah berada di dekatnya dan terlihat seperti akan ikut masuk ke kamar Nanney.
Gane yang melihatnya pun, detak jantungnya berdegup sangat kencang. Pikirannya ikut melanglang buana entah kemana.
Tidak hanya Gane yang merasa kaget ketika Regar sudah berada di dekat istrinya, tetapi juga Nanney sendiri ikut merasakan hal yang serupa.
"Kamu mau ngapain?" tanya Nanney sambil mengontrol pernapasannya yang tengah memburu karena perasaan takut.
"Tidur bareng kamu, sayang. Memangnya kenapa? kamu kan, istriku. Kita ini suami istri, tidak ada halangan apapun untuk tidur bareng dalam satu kamar dan tempat tidur." Jawab Regar dengan santai.
__ADS_1
"Aku tidak bisa." Kata Nanney dengan tatapan sedikit ada rasa takut jika Regar akan murka ketika mendengarkan ucapan darinya.
"Tidak bisa, kenapa? kamu ini kenapa lagi sih sayang? kita ini suami istri. Kenapa kamu mendadak jadi dingin seperti ini. Benar-benar sangat berbeda dengan Nanney yang aku kenal dan Nanney yang sekarang ini."
"Ada Henny adikku, yang mempunyai perasaan cemburu." Jawab Nanney dengan terpaksa menyebut nama adiknya untuk dijadikan alasan yang tepat, pikirnya.
"Aku dan Henny itu hanya menikah sebatas pengakuan saja, tidak lebih."
"Tetap saja, aku tidak bisa. Aku tidur sendiri saja, tidak untuk ditemani."
"Sayang, kita ini suami istri."
"Bukan, istri kamu itu Henny."
Nenek Aruma yang mendengar perdebatan antara Nanney dan Regar, segera keluar dari ruang tengah dan melihat apa yang terjadi di ruang lainnya.
"Ada apa ini? kedengarannya sangat heboh. Apakah ada masalah dengan kalian berdua? ayo jelaskan pada Nenek."
"Jika Nanney mengizinkan tidak apa-apa. Jika Nanney menolak, berarti memang sedang tidak ingin diganggu. Keadaan kamu sedang dalam tidak baik, ada Henny yang berstatus istri sah kamu. Jadi, beri pengertian untuk Nak Nanney maupun Nak Henny. Mau bagaimanapun, mereka berdua ini perempuan dan lebih mengandalkan hati dan perasaan." Ucap Nenek Aruma mencoba mencari alasan agar Nanney dan Regar tidak satu kamar.
Mau bagaimanapun, Nanney sudah bukan istrinya Regar lagi, melainkan istri Gane.
Gane yang tidak bisa berkata apa-apa, dirinya hanya bisa diam sambil memperhatikan situasi yang dilihatnya.
Malam semakin larut, dan juga sudah waktunya untuk istirahat. Regar yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau dirinya hanya bisa mengalah dan tidur di kamar biasanya bersama sang istri.
"Sudah hampir larut malam ini loh, apa kalian ini tidak ingin istirahat?"
"Ya Nek, kita bertiga sudah mengantuk. Rasanya ingin segera tidur, agar bisa mimpi indah, Nek." Jawab Ciko sambil menginjak kakinya Doin.
"Biasalah Nek, kita ini jomblo permanen. Tentu saja butuh istirahat yang cukup, biar tidak banyak ngelantur Nek." Timpal Doin.
__ADS_1
Sedangkan Gane hanya diam tanpa ikut menjawab. Tidak dapat dipungkiri, jika dirinya sangat merindukan istrinya. Tapi, mau bagaimana lagi. Dirinya hanya bisa bermain drama dalam Kepura-puraannya demi adiknya tidak mengetahui kebenaran yang ada.
"Ya sudah kalau begitu, kalian semua silakan istirahat di ruangan masing-masing." Ucap Nenek Aruma.
Meski terasa dongkol, Regar hanya bisa pasrah dengan nasibnya itu. Mau tidak mau, Regar masuk ke kamar dan disusul oleh istrinya yang bernama Henny.
Saat didalam kamar hanya berdua saja dengan sang istri, Regar langsung naik ke atas tempat tidur dan berbaring. Begitu juga dengan Henny, sama halnya yang dilakukan oleh suaminya.
Meski tidurnya terpisah, posisi Henny dan Regar sama-sama membelakangi satu sama lain hingga terlelap dari tidur pulas nya.
Sedangkan Nanney sendiri yang sedari tadi mencoba untuk memejamkan kedua matanya agar bisa tidur, tetap saja tidak bisa. Nanney masih saja kepikiran suaminya yang tidur bertiga bersama Doin dan Ciko di ruang tamu beralaskan tikar saja.
"Bos, geser sedikit kenapa. Engap nih, sempit." Ucap Ciko yang kesulitan untuk bernapas.
"Ya nih, lebih baik Tuan Gane tidur aja sama Nona. Ketuk pintunya kek, pelan-pelan gitu. Kasihan loh Nona Nanney tidur sendirian. Bayangkan selama ini Nona Nanney tidur sendirian, sedangkan Tuan Regar tidur bareng istrinya." Timpal Doin bagai kompor yang siap untuk diledakkan.
"Aw! sakit tau, Cik. Ah kamu ini, kek gak tau aja jadi kompor." Ucap Doin terus memberi api panas agar dirinya bisa tidur dengan leluasa.
"Bos, jangan turuti omongannya Doin. Anak ini lagi ngaco, jangan dipercaya." Kata Ciko ikut menimpali.
"Apaan sih kamu, ini jalan satu-satunya agar kita bisa tidur dengan nyenyak."
"Berisik, kalian berdua ini." Ucap Gane dan mendorong satu persatu diantara keduanya hingga terguling.
"Aw!" pekik keduanya saat kening Ciko dan Doin mencium kursi kayu yang ada di dekat mereka berdua.
"Nyari ide itu yang waras dikit kenapa, Doin." Ucap Ciko dan mendorong tubuh Doin dengan salah satu kakinya hingga masuk ke kolong meja.
Gane yang teringat dengan ucapan Doin atas idenya itu, sejenak untuk memikirkan dan menimbangnya lagi.
'Benar juga ya, yang dikatakan Doin.' Batinnya sedikit ragu, dan tentunya merasa tidak pantas jika dirinya berbahagia di atas kesedihan adiknya.
__ADS_1