Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Pulang


__ADS_3

"Tolong lepaskan aku, napas ku terasa sesak." Ucap Nanney sambil melepaskan pelukan dari suaminya.


Gane yang tersadar jika dirinya telah memeluk sang istri dengan erat, segera ia melepaskan pelukannya.


"Lebih baik sekarang kamu mandi. Setelah itu, kita bersiap-siap untuk pulang."


"Ya," jawabnya singkat dan kembali masuk ke kamar.


Gane yang mulai dilema atas perbuatannya sendiri, berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bodoh sekali kau Gane, tidak seharusnya kamu menyentuh istrimu. Bahkan, kamu sudah merenggut kesuciannya tanpa memberinya cinta." Gumamnya sambil menarik napasnya yang terasa sesak dan membuangnya dengan kasar.


Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Gane segera bersiap siap untuk kembali pulang. Sebelumnya, Gane menyuruh anak buahnya untuk melakukan penyelidikan atas makanan dan minimum yang ia pesan.


Setelah itu, Gane meraih jaketnya dan segera dikenakan. Ketika sudah beres semuanya drg tidak ada lagi yang tertinggal, Gane duduk santai di sofa sambil menunggu istrinya selesai mandi.


Alih-alih menyibukkan diri dengan ponselnya, Gane tetap melakukan pengawasan terhadap seseorang yang sudah diperintahkan untuk melakukan tugasnya dengan baik.


Berbeda dengan Ciko, dirinya tengah sibuk melakukan rencananya.


BRAK!


"Kalian ini benar-benar bodoh! seharusnya, kalian itu lawan mereka. Bukan pulang dengan membawa tangan kosong, bagaimana kerja kalian ini, ha! melakukan pekerjaan seperti saja tidak becus." Bentak Ciko dengan amarahnya, matanya terlihat menyala ketika emosi sudah menguasai dirinya.


"Maaf, Bos. Bukan kami tidak becus, tapi kami memilih untuk menghindar. Karena kami takut, jika kami melawan, maka senjata mereka adalah menjebloskan kita ke penjara." Jawabnya sambil menunduk, bahkan tidak berani untuk menatap Ciko yang terlihat begitu marah.


"Bos, siapa yang cepat, maka dia yang dapat. Dimana Bos Gane, kenapa dia tidak ikut beroperasi seperti Bos Ciko."


"Dia akan pulang hari ini. Lebih baik kalian pergi dari hadapanku, pergilah."


"Baik, Bos." Jawabnya dan segera pergi dari hadapan Bosnya.

__ADS_1


Kini tinggallah Ciko di dalam gedung yang cukup pengap dengan ventilasi yang tidak begitu banyak. Karena sendirian dan tidak ada yang harus dikerjakan, Ciko segera pergi dari tempat persembunyian barang-barang miliknya.


Sedangkan Gane yang sedari tadi menunggu istrinya bersiap-siap, tidak lama kemudian telah siap untuk pulang bersama sang suami.


"Kak," panggil Nanney sambil berjalan mendekati suaminya.


"Hem, ada apa?" sahutnya dan mendongak sebentar, lalu kembali menundukkan pandangannya dan tertuju pada layar ponselnya.


"Aku sudah siap. Terus, bagaimana dengan baju-bajunya?"


"Tidak perlu kamu membereskan bajumu, nanti akan ada yang membereskannya. Lebih baik sekarang juga kita keluar dari kamar ini, serta Villa ini. Aku sudah tidak ada waktu lagi, Ciko sudah menungguku." Jawabnya dan segera mengantongi ponselnya dan bergegas bangkit dari posisi duduknya, Nanney hanya mengangguk dan mengikuti langkah suaminya dari belakang.


Gane yang takut terjadi sesuatu pada istrinya, ia langsung meraih tangannya dan menggandengnya.


Nanney yang takut untuk melepaskan tangannya, mau tidak mau mengikuti apa yang dilakukan suaminya dan tidak terasa sudah berada di depan Villa. Sebuah mobil tengah menghampiri Gane maupun Nanney.


"Ayo, kita naik ke mobil. Untuk sarapan pagi, nanti saat kita sudah berada di dalam kapal. Waktu kita sangat mepet, aku tidak bisa mengulur waktu." Kata Gane sambil membukakan pintu mobilnya, Nanney mengangguk dan disusul Gane masuk naik ke mobil.


Saat dalam perjalanan menuju pelabuhan, Gane dan Nanney sama-sama diam. Keduanya melamun sambil bersandar pada jendela kaca mobil. Sekilas Gane menoleh pada istrinya dan memperhatikannya sejenak, kemudian balik lagi dengan menatap lurus kedepan dengan kedua tangan yang menyilang pada bagian dada bidangnya.


Gane yang berulang kali memperhatikan istrinya, seakan menaruh rasa dilema.


"Tuan, kita sudah di Pelabuhan." Ucap Pak Sopir mengagetkan Gane maupun Nanney.


"Terimakasih sudah mengantarkan kami berdua." Jawab Gane dan melepaskan sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Nanney yang tengah melepaskan sabuk pengamannya.


Setelah turun dari mobil, Gane kembali menggandeng tangan milik istrinya dan mengajaknya untuk naik ke dalam kapal.


"Kita beli makanan terlebih dahulu, setelah itu kita bawa ditempat yang kemarin itu. Diatas suasananya sangat cocok di pagi hari gini menikmati sarapan pagi."


"Terserah Kak Gane, aku nurut saja. Yang terpenting perutku ini tidak lagi keroncongan."

__ADS_1


"Baiklah, ayo ikut aku." Ajaknya sambil menggandeng tangan milik istrinya untuk membeli sarapan pagi.


Setelah membelinya, Gane mengajaknya ke suatu tempat yang pernah di tempati. Sampainya di atas, Gane meletakkan makanan yang baru saja dibeli.


"Ayo kita duduk, kita sarapan pagi terlebih dahulu. Setelah itu, kamu dapat menikmati udara segar ditengah laut."


"Ya, terimakasih." Jawab Nanney dan menikmati sarapan paginya.


Posisi keduanya tidak lagi berhadapan, melainkan duduk bersebelahan. Tentu saja membuat detak jantung Nanney kembali tidak normal.


Sambil menikmati sarapan paginya, Gane dan Nanney menghirup udara segar di pagi hari di tengah-tengah Laut. Hingga tidak terasa makanan pada keduanya tidak lagi tersisa lagi.


Selesai itu, Nanney bangkit dari posisi duduknya dan mencari tempat yang pas untuk melihat pemandangan yang begitu luas di tengah-tengah Laut sambil memandang pemandangan yang sangat indah.


Tidak hanya lautan luas yang menjadi pemandangan yang indah, tetapi terlihat pulau pulau kecil yang dapat ditangkap oleh sepasang matanya dengan jarak yang cukup jauh.


"Benar-benar sangat indah, aku sangat menyukai perjalanan ini." Gumamnya sambil merentangkan kedua tangannya dan tidak lupa untuk menghirup udara yang terasa sangat segar dan juga dengan cuaca yang benar-benar bersahabat.


"Bagaimana dengan liburan yang hanya sebentar ini? apakah kamu masih kurang puas? jika ya, lain waktu aku akan mengajakmu lagi." Ucap Gane yang sudah berdiri disebelahnya, Nanney langsung menoleh pada ke samping.


Dengan reflek, Nanney langsung memeluk suaminya dengan sangat erat dan sampai lupa dengan siapa yang sedang ia peluk.


"Maaf, aku salah memelukmu." Ucap Nanney dalam keadaan memelui susminys.


Malu, itu sudah pasti. Sampai-sampai ia lupa untuk melepaskan pelukannya sendiri.


Gane tidak menjawabnya, justru ia menekan tubuh istrinya hingga pelukan pada keduanya benar-benar sangat erat. Tangan sebelah kiri menekan tengkuk leher istrinya, tangan kanannya menahan tangan kiri milik istrinya. Kemudian, Gane tidak membiarkan kesempatan emasnya hilang begitu saja.


Saat itu juga, Gane semakin mendekatkan jarak wajah di antara dirinya dengan sang istri. Setelah itu, Gane langsung mencium bibir ranum milik istrinya dengan sangat lembut. Nanney membulatkan kedua bola matanya karena terkejut, otaknya ikut travelling kemana-mana.


Ingin memberontak, itu akan memalukan. Tentu saja akan membuat suaminya menjadi murka. Mau tidak mau, Nanney mengikuti permainan suaminya.

__ADS_1


"Karena kamu sudah memancing ku, maka aku berhak mengambil umpannya." Ucap Gane tanpa merasa bersalah apapun pada istrinya. Justru, dirinyalah yang menyalahkan istrinya hanya karena memeluk sang suami dengan reflek.


'Dih! mes*um, ya mes*um aja.' Batin Nanney sedikit geram.


__ADS_2