Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Pulang


__ADS_3

Gane yang melihat wajah istrinya yang tidak lagi bersemangat, ada rasa berat hati untuk memaksakan diri untuk pulang ke Kota.


"Muka terlihat lesu, bagaimana kalau tunda dulu berangkatnya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, dan juga calon anak kita."


"Aku tidak apa-apa, ini sudah hal wajar untuk perempuan hamil. Kakak tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Jawabnya sambil mengatur napasnya yang baru saja memuntahkan makanan yang sudah ia makan.


"Kamu yakin tidak apa-apa? takutnya kamu berbohong. Ingat loh, ada calon bayi dalam kandungan mu." Ucap Gane mengingatkan istrinya agar tidak menganggap sepele dan juga ceroboh.


Nanney tersenyum mendengarnya, lelaki yang menjadi suaminya tidak pernah berubah dari dulu, pikirnya. Selalu memberi perhatian dan tentunya selalu menyimpan rasa ketakutan jika terjadi sesuatu padanya.


Tapi ... tiba-tiba ia kembali teringat saat sosok bengis dari suaminya itu telah muncul dalam. ingatannya. Tentunya tentang ajang balas dendam atas kabar meninggalnya adik laki-lakinya.


Perlakuan yang cukup kasar dan juga dengan segala penekanan untuk dirinya, kini semua telah dilewati bersama dengan perjalanan hidup yang berbeda.


"Kamu kenapa? apakah ada sesuatu yang ingin diminta?" tanya Gane yang siap memberi permintaan dari istrinya sebelum pulang ke Kota.


Nanney menggelengkan kepalanya pelan dan tak lupa untuk tersenyum pada suaminya.


"Dunia milik bersama. Jadi, minggir lah sebentar." Celetuk Doin yang tiba tiba sudah berada di dekat Tuannya.

__ADS_1


Gane maupun Nanney mendadak kaget saat kepergok oleh Doin.


"Ganggu aja orang lagi seneng, sudah sana temani Ciko." Sahut Gane dengan terang-terangan untuk mengusir Doin agar tidak menjadi pengganggu.


"Hem, ya ya. Kita jadi pulang ke Kota kan, Tuan?"


"Ya jadilah, kalian semua sudah siap?"


"Tidak hanya siap saja, Tuan. Tetapi sudah menunggu di depan rumah. Sedangkan Nenek Aruma sedang menyerahkan kunci rumah dan kebun buahnya kepada tetangga kepercayaan Beliau. Jadi, tinggal Tuan sendiri yang belum juga keluar dari rumah ini." Jawab Doin.


Sedangkan Gane dan Nanney baru menyadarinya jika sudah cukup lama berada di dapur.


Gane dan istri yang baru menyadari atas waktunya yang berlama-lama di dapur, membuatnya lupa untuk pulang ke Kota. Cepat-cepat keduanya mengambil tas bawaannya dan segera keluar dari rumah.


Ketika berada di depan rumah, Nanney diperlihatkan sosok Regar yang masih berdiri didekat mobilnya. Di samping itu, ada Henny yang tengah berdiri yang jaraknya tidak begitu dekat diantara keduanya.


Nanney yang melihatnya pun, merasa bersedih ketika adik perempuannya diabaikan begitu saja oleh adik suaminya.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Gane dan mengikuti arah pandangan istrinya yang tertuju pada Hemmy, adiknya.

__ADS_1


"Percayalah, mereka berdua akan sama-sama jatuh cinta." Ucap Gane didekat daun telinga istrinya.


Nanney menoleh pada suaminya. Kemudian, ia menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Semoga saja, kita hanya bisa berdoa untuk mereka berdua." Jawab Nanney dengan penuh harap.


Tidak lama kemudian, Nenek Aruma sudah kembali.


"Nenek darimana?" tanya Nanney untuk memastikan.


"Dari rumahnya Pak Borun untuk meminta bantuannya, yakni berupa menjaga rumah dan mengurus perkebunan buah selama Nenek berada di Kota." Jawab Nenek Aruma.


"Kirain Nenek pergi kemana. Kalau begitu, ayo kita naik mobil bersama kami." Ucap Nanney.


"Tidak usah, Nenek satu mobil sama Henny saja. Kalian berdua pasti ingin bernostalgia, Nenek tidak ingin mengganggu kalian berdua." Jawab Nenek Aruma yang tidak ingin mengganggu kemesraan mereka berdua, Nanney dan Gane.


"Justru itu Nek, biarkan Regar bersama istrinya tanpa ada yang mengganggu mereka berdua. Nenek bisa duduk bersama Doin atau Ciko, ketika diantara mereka berdua bergantian menyetir mobil. Jadi, Nenek ikut kami. Untuk bernostalgia, kita berdua bisa melepaskan rindu di rumah nanti." Timpal Gane ikut berkomentar.


Tentunya, ingin menyatukan adik laki-lakinya dengan adik istrinya agar dapat berduaan, pikir Nanney dan suami.

__ADS_1


Nenek Aruma yang mengerti dengan maksud dari Nanney dan Gane, Beliau tersenyum dan baru menyadarinya jika keduanya butuh pendekatan agar saling jatuh cinta dan dapat membina rumah tangga dengan baik seperti kakaknya masing-masing.


__ADS_2