Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Menolak


__ADS_3

Sosok Danu semakin yakin dan percaya jika Nanney adalah istri sahnya. Tapi ingatannya kembali pada kehamilannya itu.


Kepalanya semakin terasa penat ketika harus berpikir lebih dalam lagi mengenai kehamilannya itu.


"Apa benar, perempuan itu tengah mengandung anakku?" gumamnya penuh tanda tanya didalam benaknya.


Nanney yang merasa gerah dan masih haus, ia keluar dari kamar untuk mengambil air minum.


Saat membuka pintunya, Nanney dikejutkan sosok Danu tengah duduk menghadap ke arah kamarnya. Tentu saja, Danu dapat melihatnya dengan jelas saat Nanney keluar dari kamar dengan perutnya yang belum terlihat begitu jelas.


Nanney yang tanpa sengaja melihat sosok Danu, justru ia merasa takut sendiri dan memilih masuk ke kamarnya lagi.


"Kenapa dengannya? apakah dia membenciku karena aku tidur satu kamar dengan adiknya? makanya, dia tidak mau berkata jujur denganku." Gumamnya yang masih terus mencoba untuk mengingatnya.


Karena masih saja penasaran, ia bangkit dari posisi duduknya dan menuju kamar Nanney.


Nanney yang tidak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana, dirinya hanya bisa menangis dibalik pintu sambil bersandar.


Sosok Danu yang merasa penat ingin ingatannya kembali, tetap saja sangat sulit untuk mengingatnya.


Ketika daun telinganya menempel pada pintu, terdengar jelas jika Nanney tengah menangis.


Saat itu juga, Nanney dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamarnya.


"Aku mohon buka pintunya, aku butuh penjelasan darimu. Jangan membohongiku dan menyiksa diri kamu sendiri serta membuatku tidak nyaman berada di rumah ini." Ucapnya yang terus memohon untuk dibukakan pintu.


Nanney yang mendengarnya, ia langsung bangkit dan membuka pintunya. Sebelum membuka pintu, tak lupa untuk mengusap air matanya agar tidak terlihat jika dirinya menangis.


"Jangan ganggu aku, karena aku bisa pergi dari rumah ini kapanpun yang aku mau. Jangan membuat masalah di rumah ini, karena rumah ini adalah rumah yang sangat berarti tentang hidupku. Kembalilah ke kamar mu, jangan sampai istri kamu salah paham denganku." Ucap Nanney dan kembali menutup pintunya.


Sosok Danu yang tidak mendapatkan jawabannya, ia semakin yakin dan percaya hinga seratus persen atas Kebenaran tentang dirinya itu siapa.


Saat itu juga, Henny keluar dari kamarnya dan didapati sang suami tengah berdiri didepan pintu kakaknya dengan perasaan curiga.


"Mas Danu, kenapa berdiri didepan pintu kamar Kak Nanney?" tanya Henny mengagetkan serts memergoki suaminya.

__ADS_1


"Ah ya, aku salah kamar ya. Aku lupa, habisnya sama persis cat pintunya. Kalau bisa diganti warnanya biar aku tidak keliru masuk." Jawabnya beralasan.


"Ah ya, aku lupa. Baiklah, besok aku beli catnya dan akan mengganti warnanya." Kata Henny menyetujui.


"Aku mau kembali tidur, jangan memberi pertanyaan lagi padaku." Ucapnya dan kembali masuk ke kamarnya.


Henny yang teringat dengan jawaban dari suaminya, seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh dirinya.


"Benarkah salah masuk kamar? aku rasa tidak, jangan-jangan Mas Danu menyukai Kak Nanney. Secara Kak Nanney sangat cantik, siapa juga yang tidak jatuh hati dengannya. Semoga saja, suami Kakak secepatnya datang kesini dan menjemput Kakak. Meski aku menikah karena sebuah paksaan, tetap saja aku merasa cemburu." Gumam Henny sambil berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.


Setelah itu, Henny kembali masuk ke kamarnya dengan membawa segelas air minum dan melanjutkan tidurnya.


Saat berada dalam kamar, Henny mendapati suaminya yang sudah tertidur pulas. Pelan-pelan, Henny naik ke atas tempat tidurnya dan berbaring. Karena malu terlihat ketika tidur, Henny mengubah posisinya dengan membelakangi suaminya.


Sudah begitu lamanya tidur dengan pisah ranjang, hal tersebut karena permintaan dari suaminya yang tidak mau menyentuh istrinya sebelum ingatannya kembali. Takut, jika dirinya akan melukai hati perempuannya.


Ditambah lagi dirinya tengah menemukan sedikit bukti tentang sosok yang mirip dengannya. Maka, membuat sosok Danu semakin penasaran dan ingin menguak kebenarannya. Dengan yakin jika dirinya sudah punya istri sebelumnya, ia mulai berpikir bagaimana caranya untuk menyembuhkan ingatannya itu.


Tak terasa dengan susah payah untuk memejamkan kedua matanya, semua terlelap dengan tidurnya masing-masing hingga ayam berkokok tengah membangunkan tidurnya mereka yang berada dalam mimpinya.


Tidak lama juga, Nenek Aruma ikut bangun dan bergegas ke dapur. Sedangkan sosok Danu memilih untuk membersihkan diri agar terasa segar.


Nenek Aruma yang melihat suami Henny ke kamar mandi dengan membawa handuk pun, Beliau tersenyum. Nanney yang memperhatikan senyum Nenek Aruma dan melihat sosok Danu ke kamar mandi, dirinya dapat menyimpulkan apa yang ada dibenak pikiran Nenek Aruma.


"Sekalian buatkan kopi sama teh buat Nenek sama Nak Danu ya, Nan." Pinta Nenek Aruma.


Kemudian, Beliau duduk di teras sebelah rumah. Setelah sosok Danu keluar dari kamar mandi, ia langsung mendekati Nanney yang sedang berdiri didepan kompor sambil menunggu air mendidih.


"Jangan berprasangka buruk padaku. Asal kamu tahu, aku tidak melakukan apapun dengan adikmu. Badanku hanya terasa gerah, tidak lebih. Ingat, aku akan terus memperjuangkan ingatanku kembali. Hari ini juga, aku akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi ku dan aku akan menyembuhkan ingatanku." Ucapnya dengan suara yang lirih tapi terdengar penekanan.


Nanney hanya bisa diam, ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh suami adiknya.


Setelah airnya mendidih, Nanney segera menuangkannya ke gelas satu persatu dan mengaduknya. Kemudian, Nanney membawanya ke ruang tengah dan ke ruang tamu untuk suami adiknya.


Sambil menundukkan pandangannya, Nanney meletakkan secangkir kopi di atas meja. Tepatnya di didepan suami adiknya.

__ADS_1


Saat itu juga, dengan beraninya sosok Danu memegang tangan milik Nanney dan menggenggamnya.


"Lepaskan tanganmu, aku ini bukan istri kamu." Ucap Nanney dengan lirih dah berusaha untuk menghindar, agar suaranya tidak kedengaran dari kamar adiknya maupun Nenek Aruma yang sedang menikmati teh hangatnya.


"Suatu saat setelah ingatanku kembali, aku akan membawamu dari rumah ini dan kita akan hidup bersama." Jawabnya dan melepaskan tangannya.


Detak jantung Nanney kembali berdegup sangat kencang, pikirannya kembali tidak karuan. Apa yang ditakutkannya, kini seolah mulai terjadi. Karena takut suatu hal yang tidak diinginkannya, Nanney langsung kembali ke kamar dan melupakan dengan teh panasnya.


Sedangkan di tempat lain, Ciko tengah bersiap-siap untuk berangkat sesuai yang direncanakan untuk menyelesaikan masalah serta membebaskan Bosnya dari tahanan. Namun sebelumnya, Ciko bersama Pak Elyam dan Doin sarapan pagi terlebih dahulu.


Begitu juga dengan Gane, dirinya mulai berpikiran positif, jika masalah akan segera terselesaikan.


Kembali ke Kampung, Nanney dan Henny tengah menyiapkan sarapan pagi dengan senda gurauan kakak-beradik. Selesai menyiapkan sarapan pagi, Nenek Aruma dan yang lainnya menikmatinya bersama di ruang makan.


Karena tidak ingin membuang-buang waktunya, sosok Danu berpamitan untuk berangkat ke rumah sakit sesuai yang direncanakan.


"Nek, Henny."


"Ya Mas, ada apa?" sahut Henny saat melet gelasnya dan bertanya.


Nanney hanya memperhatikan keduanya. Tetap saja, Nanney tidak begitu peduli dengan apa yang akan dikatakan oleh suami adiknya.


"Aku mau pergi ke rumah sakit, aku mau memeriksa keadaan aku. Mau bagaimanapun, aku ingin ingatanku kembali lagi dan tahu siapa aku sebenarnya." Jawabnya yang akhirnya berterus terang.


Nenek Aruma tersenyum mendengarkannya dan tak lupa mengangguk.


"Kamu tidak mengajak istrimu?"


"Ah ya, sekalian aja Kak Nanney periksa kandungan. Aku di rumah aja juga tidak apa-apa." Sahut Henny ikut menimpali.


"Kakak, kenapa batuk? ini minumnya." Ucap Henny yang langsung menyodorkan gelasnya.


'Henny kamu jangan cemburu, yang kamu lakukan itu benar, lagian pergi ke rumah sakit itu jauh.' Batin Henny yang berusaha untuk berpikiran yang positif.


"Tidak usah, lagian usia kandungan ku masih sangat muda. Nanti jika sudah berjalan usia 5 bulan saja aku periksa ke Dokter." Timpal Nanney beralasan.

__ADS_1


__ADS_2