Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Meyakinkan diri


__ADS_3

Waktu telah berlalu, kenangan indah yang sudah dirangkai sejak awal, kini harus meninggalkan jejak kenangan yang sangat pahit bagai pil obat yang harus dikunyah. Pahit, itu sudah sangat jelas.


Nanney yang sedari tadi hanya diam, sepatah katapun tidak mampu untuk ia ucapkan. Pandangannya lurus pada sebuah cermin, dan tidak menghiraukan beberapa orang yang ada disekelilingnya. Air mata yang tidak ingin membasahi kedua pipinya, akhirnya tumpah dengan sendirinya. Sesenggukan ia menangis, tapi bukan menangis karena akan dinikahi oleh lelaki yang hanya mementingkan napsu nya untuk mencapai tujuannya. Tetapi ia menangis karena sebuah pernikahan yang tidak seberuntung perempuan yang lainnya, yang mana dirinya tidak dihadiri oleh anggota keluarganya yang kedua kalinya. Jangankan untuk kehadirannya, dirinya sendiri saja tidak mengtahui kabar tentang keluarganya.


Kepasrahan seorang Nanney begitu berat untuk ia terima. Kebahagiaan yang sejatinya sudah ia dapatkan, kini lenyap bak ditelan bumi.


Sakit, memanglah sakit. Mau bagaimana lagi, perjalanan hidupnya bukanlah roda yang mana mungkin untuk diputar kembali. Tetapi, perjalanan hidupnya terus berjalan seiringnya waktu dan tidak akan pernah berhenti selama hembusan napasnya itu masih ada.


Atas keputusannya yang sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, Nanney bisa apa?


Tidak ada yang bisa Nanney lakukan selain harus sabar dan menjadikan dirinya sebagai wanita yang kuat, yakni tanpa menunjukkan kesedihannya didepan orang lain.


'Aku harus bisa menerima kenyataan ini, apapun yang akan aku terima nantinya.' Batinnya sambil menguatkan hatinya sendiri tanpa ada penyemangat hidupnya selain sosok Mbak Alana yang kini sudah dianggapnya bak saudaranya sendiri.


"Nona, berhentilah untuk menangis. Lihatlah, wajah cantik Nona tidak lagi terlihat. Percayalah sama saya, Nona. Saya yakin jika Nona bisa melewati semua ini selepas pernikahan telah diikrarkan di khalayak orang orang yang akan menjadi saksinya." Ucap Mbak Alana mencoba memberi penyemangat untuknya, Nanney hanya bisa mengangguk dan mengusap air matanya sebelum dirinya di rias dengan riasan yang sederhana.


Saat itu juga, kedua tangannya bergetar hebat. Mbak Alana yang melihatnya pun, ia langsung menggenggamnya cukup kuat.


"Nona, tenangkan hatimu. Percayakan pada Sang pemilik hidup, bahwa Nona mampu menerima dan menjalani apa yang sudah menjadi ketentuan Nya. Percaya pada saya, Nona. Semua akan berakhir dengan kebahagian." Ucap Mbak Alana yang terus menyemangati Nanney, berharap tidak ada sesuatu hal yang buruk akan menimpa sosok perempuan yang ia temani selama perintah dari Tuannya terus berlanjut.


Nanney yang selalu ingat atas nasehat dari Mbak Alana, ia terus berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri dan menjadikan dirinya sebagai perempuan yang kuat dan sabar.


Waktu terus berlanjut, Nanney masih duduk di depan cermin untuk di rias wajahnya. Polesan demi polesan, wajah ayunya terlihat begitu jelas. Senyum tipis yang terukir pada kedua sudut bibirnya, tidak sedikitpun mengurangi kecantikannya.


"Sempurna, benar-benar sempurna." Ucapnya selesai merias wajah ayunya Nanney.

__ADS_1


Saat itu juga, Nanney kembali seperti bermimpi. Pernikahan yang kedua kalinya kini benar-benar telah menghampiri dirinya.


Pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, kini seakan menjadi kutukan untuk dirinya. Bagaimana tidak, dia harus menikah dengan kakak iparnya sendiri. Terasa risih, memang. Tapi mau bagaimana lagi, selain mengikuti alur kehidupannya, Nanney berusaha untuk mengimbangi sejauh mana ajang balas dendam yang akan ia terima dari kakak iparnya sendiri.


"Nona, semangat ya. Semoga pernikahan yang kedua ini tidak seperti mimpi burukmu, Nona. Saya percaya, Tuhan mampu membolak-balikkan hati seseorang yang awalnya baik menjadi buruk. Begitu juga sebaliknya, bisa mengubah yang buruk menjadi baik." Ucap Mbak Alana menyemangati, tentunya dengan kalimat bijak lainnya.


Nanney yang mendengar ucapan dari Mbak Alana pun, ia mengangguk pelan dan tersenyum padanya. Mbak Alana membalas senyumannya itu dan membantu Nanney untuk berdiri.


"Hati-hati, Nona." Ucap Mbak Alana.


Pernikahan yang hanya dihadiri oleh beberapa tetangga disekitarnya, cukup dijadikan saksi atas pernikahannya. Tenda yang tidak begitu megah, namun mampu membuatnya sangatlah malu. Rasa malu bukan pada orang-orang disekitarnya, tetapi malu pada diri sendiri yang tidak mampu untuk memberontak.


Di rumah kediaman Huttama, kini dikagetkan atas kedatangan orang suruhan Gane.


"Ya, Tuan. Hari ini Tuan Gane melangsungkan pernikahannya dengan Nona Nanney, istri mendiang Tuan Regar." Jawabnya dengan jujur, tentu saja sesuai yang diperintahkan oleh Bosnya.


Tuan Pras kembali terkejut mendengarkan bahwa keponakannya akan menikah dengan istri mendiang keponakannya sendiri, sungguh diluar dugaan Beliau.


Bunda Sere yang mendengar keterkejutan dari suaminya, segera menghampiri sang suami.


"Ada apa ini?" tanya Bunda Sere penasaran.


"Gane, hari ini Gane menikah." Jawab Tuan Pras.


"Gane menikah? syukurlah, akhirnya Gane menikah juga." Ucap Bunda Sere dengan ekspresi bahagia, Tuan Pras mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Kok ekspresi Papa jadi begitu? seharusnya kita ikutan senang dong, Pa."


"Senang bagaimana? Gane itu menikahnya dengan Nanney, istri mendiang Regar."


"Apa! menikah dengan Nanney?" tanya Bunda Sere tidak percaya, Tuan Pras mengangguk pelan.


"Jadi," ucap Bunda Sere yang kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.


"Kita tidak mempunyai waktu lagi, ayo kita bersiap siap." Perintah Tuan Pras pada istrinya untuk segera bersiap siap.


"Ada apaan sih, Ma? perasaan heboh banget." Tanya David saat menuruni anak tangga.


"Kakak kamu hari ini menikah, cepatlah bersiap siap. Kita tidak mempunyai waktu lagi, acaranya pun akan segera dimulai. Dan kamu, sampaikan pada Gane untuk menunggu kedatanganku." Ucap Tuan Pras dan tertuju pada anak buah Gane yang diminta untuk memberi kabar pada Tuan Pras.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit, permisi." Jawabnya dan langsung pergi dari hadapan Tuan Pras setelah berpamitan.


David yang mendengar jawaban dari sang ayah, ia seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan. Pasalnya, sang Kakak tidak pernah dekat dengan seorang perempuan mana pun. Dan kini, tiba-tiba memberi sebuah kabar tentang pernikahannya, sungguh diluar dugaannya.


"Papa serius? terus, Kak Gane menikah dengan siapa? perasaan Kak Gane tidak pernah dekat dengan seorang perempuan deh. Kak Gane sedang tidak melucu kan, Pa? semoga saja sih memang benar menikah." Tanya David untuk memastikan, karena dirinya masih merasa tidak percaya atas kabar yang ia terima.


"Serius, Nak. Kakak kamu menikahnya dengan Nanney, istri dari mendiang Regar. Ah sudahlah, ayo kita bersiap siap." Jawab sang ibu ikut menimpali.


Lagi-lagi Gane kembali terkejut saat mendengar nama yang tidak asing baginya. Berulang kali David menepuk kedua pipinya, berharap apa yang ia dengar hanya sebuah lelucon, pikirnya.


"Jadi, Kak Gane menikahnya dengan Kak Nanney? yang benar saja, Pa." Tanya David masih belum juga percaya apa yang ia dengarkan.

__ADS_1


__ADS_2