
"Maaf, aku harus kembali ke kamar." Ucap Nanney berpamitan.
"Silakan, Nona." Jawabnya.
"Mbak, jangan panggil saya dengan sebutan Nona. Karena saya ini tidak mempunyai status apapun, saya hanya orang asing di rumah ini." Kata Nanney yang merasa risih dengan panggilan Nona, pikirnya.
"Maaf, Nona tetaplah Nona. Bukankah sebentar lagi Nona mau menikah dengan Tuan Gane? jadi, tidak ada masalah apapun dengan sebutan Nona." Ucap Alana.
"Terserah Mbak Alana saja, yang terpenting saya tidak meminta mbak Alana maupun orang lainnya untuk memanggil saya dengan sebutan Nona. Karena sejatinya saya tidak terbiasa untuk dipanggil dengan sebutan Nona, dan tentu saja saya merasa risih, Mbak." Kata Nanney dengan pasrah, Mbak Alana tersenyum mendengarkannya.
"Ya, Nona. Tenang saja, saya tidak akan menuntut apapun dari Nona. Kalau begitu saya pamit untuk pergi ke dapur, Nona." Jawab Mbak Alana.
"Ya Mbak, silakan." Kata Nanney dibarengi dengan senyumannya yang mengembang.
Setelah berpamitan, keduanya menuju ruang masing masing. Yakni, Mbak Alana yang pergi ke dapur, sedangkan Nanney menuju kamar milik Ciko.
Nanney yang sudah berada di dalam kamar, ia kembali teringat pada ponsel miliknya.
"Hampir saja aku lupa, bukankah tadi aku ada rencana mau menghubungi Hennyta? untung saha aku ingat." Gumamnya dan merogoh ponselnya yang ada dalam tas kecil miliknya.
Sambil duduk ditepi tempat tidur, Nanney mencari nama kontak milik saudara perempuannya.
Satu kali, dua kali, hingga sampai berkali-kali tidak ada jawaban apapun saat menghubungi saudaranya.
"Kenapa nomor Hennyta masih saja tidak aktif, ya? apa Henny mengganti nomor telponnya? bahkan media sosialnya saja tidak ada yang aktif. Sebenarnya ada apa sih dengan Henny? rasanya ingin cepat-cepat pulang." Gumam Nanney sambil bertanya tanya mengenai kabar keluarganya di Kampung.
Merasa prustasi karena tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya Nanney memilih untuk tiduran. Berharap dengan segala penat yang ia rasakan, dapat ia menahannya.
__ADS_1
Pusing, jenuh, merasa kesal dan lain sebagainya, Nanney hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Berharap, dirinya segera lepas dari jeratan kakak iparnya yang masih ingin membalaskan dendamnya karena telah kehilangan adik laki-laki yang disayanginya.
Sedangkan di rumah yang kini telah dijadikan tempat tinggalnya sementara, Gane tengah disibukkan dengan bendanya yang dijadikan alat untuk melakukan misinya. Tentu saja, misi yang sulit untuk dilacak.
"Bos, apakah nanti malam kita akan beraksi? atau ... kita akan istirahat untuk malam ini?" tanya Ciko yang juga sama halnya sama-sama sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Gane menoleh pada arah Ciko. "Ya, malam ini kita tidak beroperasi. Aku sudah menyuruh anak buah kita untuk melakukan pengintaian pada markas kita." Kata Gane, Ciko sendiri menganggukkan kepalanya. "Jangan khawatir." Ucapnya lagi.
"Bos, istirahatlah. Sepertinya Bos Gane sangat lelah, dan terlihat jelas jika sedang banyak pikiran. Sayang sekali jika mengabaikan kesehatan, sejatinya kesehatan itu sangatlah mahal." Kata Ciko, Gane menggelengkan kepalanya yang pertanda jika dirinya masih ingin menyibukkan diri didepan laptopnya.
"Bos, nanti malam masih ada waktu untuk menyelesaikannya lagi. Percayalah denganku, semua baik-baik saja." Ucap Ciko yang berusaha untuk mengingatkan Bosnya, serta untuk menyuruhnya untuk beristirahat.
Gane yang menyadari akan kesehatannya, segera ia bergegas bangkit dari posisi duduknya.
"Baiklah, aku serahkan semuanya padamu. Jika kamu membutuhkan aku, panggil saja aku. Maafkan aku yang sudah sering menyusahkan mu." Ucap Gane yang sadar akan sikapnya yang terkadang mudah menghakimi Ciko tanpa berpikir lebih dahulu.
Setelah Gane tidak lagi bersamanya, Ciko merentangkan tangannya dan tidak lupa menarik napasnya dalam dalam, kemudian dibuangnya dengan kasar. Rasa capek tidak hanya pada anggota badannya, tetapi juga ikut menjalar dalam benak pikirannya dan tentu saja membuatnya terasa penat dan juga lesu.
Sesekali Ciko membuka ponselnya, berharap ia mendapatkan kabar yang cukup menjernihkan pikirannya yang terasa penat itu. Rasa letih pun yang seakan membawanya untuk malas malasan, sebisa mungkin untuk menepisnya.
Saat membuka layar kunci pada ponselnya, tiba-tiba ia diingatkan oleh gambar foto yang dijadikan wallpaper nya. Foto siapa lagi kalau bukan foto sang adik perempuannya di masa lalu, masa-masa kecilnya.
"Clara Wicaksono, kau adikku yang paling berharga sampai kapanpun." Ucap Ciko dibarengi senyum tipis, senyum yang menyayat hatinya.
Sedangkan di kamar Ciko, Nanney masih berkutik dengan sebuah ponselnya. Rasa jenuh dan juga rasa penat di kepalanya seakan menambahkan beban dalam hidupnya.
Nanney yang merasa bosan dan seraya berada dalam tahanan, ingin rasanya cepat-cepat keluar dari rumah milik Gane yang dijadikan tempat untuk penyanderaan.
__ADS_1
"Ngapain juga aku masih berada di dalam kamar ini, udah kek mau dipingit saja." Gumamnya, kemudian ia segera keluar dari kamar.
Ketika berada di ruang tamu, Nanney tidak mendapati sosok mbak Alana yang tengah mendapatkan amanah untuk menjadi temannya.
"Mbak Lana," panggil Nanney sambil berjalan menuju ruang dapur.
"Mbak Lana." Panggil Nanney yang kedua kalinya, tetap saja tidak ia temukan keberadaan asisten rumah.
"Kok sepi, ya. Jangan-jangan Mbak Lana sudah pulang, lagi." Gumamnya sambil celingukan pada setiap sudut ruangan.
"Nona, ada apa?" jawab Mbak Alana dan bertanya.
"Mbak Lana sedang tidak sibuk, 'kan?" tanya Nanney dengan tatapan penuh harap untuk menerima permintaan darinya.
"Tidak, memangnya ada apa, Nona?"
"Temani saya keluar yuk, Mbak. Saya merasa bosan nih di dalam rumah terus." Jawab Nanney penuh harap, tentunya sambil mengeluarkan jurus andalannya yang tidak lain dengan cara mengatupkan kedua tangannya.
Mbak Lina yang sudah mengingat beberapa banyak sebuah pesan dari Bosnya, sebisa mungkin untuk tidak mengabaikan semua perintah yang sudah ditugaskan untuknya.
"Baik, Nona." Jawabnya, sedangkan Nanney seperti sedang bermimpi dengan apa yang sedang ia dapatkan. Rupanya apa yang dikhawatirkan nya tidak begitu menyiksanya, meski kenyataannya memang lah sosok Gane paling mudah untuk menyiksa siapa saat orangnya yang menjadi targetnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Mbak Alana, cepat-cepat Nanney segera bersiap-siap dan keluar dari rumah yang menurutnya tidaklah nyaman untuk dijadikan tempat tinggalnya.
Selesai bersiap-siap, Mbak Alana mengajak Nanney sesuai dengan permintaannya yang mana dirinya tengah menginginkan untuk keluar rumah untuk jalan jalan.
"Nona, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya mbak Alana.
__ADS_1
"Ya Mbak, silakan." Jawab Nanney sambil berjalan keluar dari kamar dan diikuti oleh Bakal Lana dari belakang.