
"Ya, aku akan datang nanti sore." Jawab Gane setelah menerima telpon dari seseorang. Kemudian, Gane keluar dari kamar.
Dilihatnya sang istri tengah duduk santai sambil menonton televisi, Gane berjalan mendekati dan duduk disebelahnya.
Nanney langsung menoleh ke samping, dan alangkah terkejutnya saat suaminya sudah duduk didekatnya.
"Kakak, ngagetin saja deh." Ucapnya, sedangkan Gane bisa-biasa saja tanpa tersenyum sedikitpun.
"Nanti sore aku harus pergi, terpaksa kamu tinggal di rumah sendirian."
"Tinggal dirumah sendirian?" tanya Nanney seperti salah mendengar.
"Pekerjaan ku tidak lagi di Kantor. Jadi, kamu harus terbiasa jika aku tinggal sewaktu waktu."
"Memangnya Kak Gane kerja apa?" tanya Nanney penasaran.
"Kerja yang dapat menghasilkan uang, yang terpenting bisa untuk menghidupi mu." Jawab Gane sambil menoleh pada istrinya dengan posisi badan yang menyerong.
"Apa susahnya coba, lagian cuma pekerjaan doang. Tinggal nyebut pekerjaannya saja susah amat lah."
"Sudahlah, tidak perlu kamu membahasnya lagi. Yang terpenting itu, kamu bisa makan, bisa shoping, bisa jalan-jalan, dan bisa memenuhi kebutuhan apa yang kamu mau." Ucap Gane sambil mendekatkan jarak wajahnya pada sang istri.
"Ah ya, katanya Kak Gane mau bercerita? hem."
Bukan menjawab pertanyaan dari sang istri, justru Gane sendiri terus menerus menatap wajah ayunya sang istri begitu lekat dan menyunggingkan senyuman yang tipis.
"Gadis yang ada pada bingkai foto besar itu, dia adalah adiknya Ciko." Ucapnya dan berhenti sejenak, Gane masih menatap wajah istrinya dengan lekat.
Nanney tidak peduli dengan sikap suaminya yang terlihat aneh itu, yang terpenting baginya bisa mengetahui siapa gadis kecil yang bersama suaminya di foto itu, pikirnya.
"Terus, apa hubungannya dengan Kakak?" tanya Nanney yang seakan menjadi seorang penyelidik.
"Hubungannya? tentu saja ada, tapi gadis kecil itu sudah tiada di Dunia ini. Semua tinggal kenangan, tidak ada yang nyata. Mustahil bagiku, jika dia masih hidup." Jawab Gane sambil menatap istrinya tanpa bosan.
"Meninggal kenapa?" tanya Nanney tanpa nyerah untuk terus bertanya.
__ADS_1
"Kecelakaan pada kapal, seperti kamu dengan Regar. Hanya saja, usia kita masih sangat muda. Jarak usiaku dengannya hanya 9 tahun, mungkin sudah sebesar kamu." Jawab Gane menjelaskan.
"Usia berapa dia meninggal?" lagi-lagi Nanney kembali bertanya entah pertanyaan yang ke berapa.
"Sembilan tahun, waktu itu aku selesai dengan kelulusan ku. Kedua orang tuaku mengajakku liburan ke Pulau yang kemarin kita datangi, aku dan keluargaku beserta keluarga Ciko. Naas, sampai di tengah Laut kapal yang kita tumpangi rupanya telah terjadi kebakaran yang hebat. Hingga kita semua panik dan tidak tahu caranya untuk menyelamatkan diri. Tidak hanya itu saja, kapal nya pun ikut meledak di tengah-tengah Laut. Ah sudahlah, kamu tidak perlu memintaku untuk meneruskan cerita dimasa laluku. Jika kamu kurang puas, kamu bisa meminta Ciko untuk menceritakannya padamu langsung." Jawab Gane sambil mengarahkan pandangannya ke sembarang arah.
Nanney yang masih kurang puas dengan jawaban dari sang suami, ia mencobanya untuk bertanya dengan pertanyaan yang terakhir.
"Kakak mencintai gadis kecil itu, 'kan?" tanya Nanney dengan berani. Tidak peduli dengan amukan dari suaminya, setidaknya mendapatkan jawaban yang sebenarnya ingin ditanyakan lebih awal dapat diutarakannya didepan sang suami. Tapi, tidak mungkin juga tiba-tiba bertanya dengan kalimat yang seakan seperti orang cemburu, pikir Nanney.
Gane yang mendapatkan pertanyaan dari sang istri, ia langsung menoleh bak kilat yang siap menyambar.
"Pertanyaan macam apa itu? bertanya mengenai seseorang yang sudah tiada, hem." Tanya Gane dengan keningnya yang berkerut.
"Aku hanya penasaran saja, benarkah yang dikatakan Kak Ciko itu benar-benar adanya, cuma itu saja sih, tidak lebih." Jawab Nanney keceplosan. Saat itu juga, Gane langsung mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya dengan jarak yang hanya beberapa inci saja. Bahkan, napasnya yang hangat dapat dirasakan oleh Nanney.
"Rupanya kamu sudah bertanya sama Ciko, dan kamu bertanya padaku hanya untuk menyamakannya, bukan?"
Nanney tersenyum mengembang, bahkan rasa takutnya pun seketika hilang.
"Aw! sakit, tau." Pekik Nanney sambil mengusap keningnya yang terasa sakit akibat sentilan dari sang suami.
"Sejak kapan kamu menyelidiki ku, ha? sejak kapan kamu sudah dekat dengan Ciko? ayo jawab." Tuduh Gane sambil menahan kedua lengan milik istrinya agar tidak memberontak.
'Sialan, kau Ciko. Benar-benar mulut ember kau ini.' Batinnya dengan kesal.
Nanney yang bingung harus menjawab apa, akhirnya menjawabnya dengan asal.
"Lupa, tapi tapi tapi ..." jawab Nanney dengan bingung.
"Tapi kenapa? ha."
"Kak Gane jangan memarahi Kak Ciko, ya ... please. Karena akulah yang memulainya dengan rasa penasaran itu, yakni mengenai rasa cintanya Kakak dengan gadis kecil itu. Habisnya Kak Gane tidak kunjung nikah-nikah, tentu saja aku penasaran."
Seketika, Gane menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Terus ..."
"Kak Ciko mengatakannya padaku, jika foto yang ada di dinding itu adalah perempuan yang Kak Gane sukai, cintai, segalanya deh buat Kakak." Jawabnya dengan ekspresi yang setengah ketakutan.
"Aku sudah berkhianat dengan nya. Jadi, aku sudah tidak pantas lagi untuk bertahan." Ucap Gane masih dengan jarak yang sangat dekat.
"Maksudnya?" lagi-lagi Nanney semakin ketagihan untuk bertanya kembali karena rasa penasarannya yang semakin ingin tahu lebih jelas lagi.
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan denganmu, lebih baik sekarang kamu bersiap-siap." Jawab Gane dan melepaskan tangannya dan membenarkan posisi duduknya.
"Kak Gane mau mengajakku pergi kemana?" tanya Nanney penasaran.
"Ke Mall untuk berbelanja kebutuhan dapur, terus ke salon, ke butik, dan kemana saja yang kamu mau." Jawabnya dan segera bangkit dari tempat duduknya. Begitu juga dengan Nanney ikut berdiri.
"Kak Gane serius?" tanya Nanney dengan mata yang berbinar.
"Kalau menurut kamu tidak serius, lebih baik kamu tidur saja sana." Jawab Gane dan segera masuk ke kamar.
"Apa maksudnya? memintaku untuk bersiap-siap, sedangkan dirinya masuk ke kamar begitu saja. Apakah mau melihatku mengganti pakaian? oh! tidak akan." Gumamnya sambil berkacak pinggang, kemudian ia menyusul suaminya masuk ke kamar yang sama.
"Kak," panggil Nanney yang sudah berdiri di ambang pintu. Gane menoleh saat dirinya tengah membuka lemari baju.
"Ada apa?" tanya Gane.
"Kak Gane bisa keluar sebentar, 'kan?"
"Untuk apa?"
"Aku mau mengganti pakaianku, karena aku malu." Jawab Nanney, kemudian ia menggigit bibir bawahnya karena takut ucapannya salah besar.
Sambil Memperhatikan istrinya, Gane berjalan mendekati sang istri sambil mengenakan kaos oblong nya.
Jarak keduanya semakin dekat, tatapan Gane seakan kembali membuat detak jantung milik istrinya berdegup kencang.
"Apa yang ingin kamu sembunyikan dariku? aku sudah menikmati di setiap leku*kan tubu*hmu itu dengan sempurna. Bahkan, dari ujung rambut sampai ujung kakimu tidak ada yang tersisa. Jadi, untuk apa kamu menutupinya kembali. Begitu juga dengan kamu sendiri terhadap tub*uhku ini, yang tidak lain bahwa kamu sudah merasakannya juga, bukan? ayo jawab." Ucapnya cukup panjang dan membuat Nanney sejenak terdiam membisu.
__ADS_1
Kedua bibirnya terasa kelu saat suaminya mengatakannya dengan terang-terangan.