
Masih di rumah Nenek Aruma, Nanney tengah beristirahat di kamarnya setelah pulang dari rumah sakit. Sedangkan Henny dan Nenek Aruma sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi.
Begitu juga sosok Danu, dirinya tengah sibuk dengan ponselnya karena tidak ada sesuatu yang ia kerjakan sejak pulang dari perkebunan buah milik Nenek Aruma.
Sambil mencari tentang siapa dirinya, sosok Danu terus mencobanya untuk mengetahui kebenaran yang ada.
"Regar Huttama, apakah ini benar namaku?" gumamnya sambil terus berpikir.
Karena masih penasaran, ia terus menggeser kebawah layar ponselnya. Berharap, dirinya akan menemukan sesuatu yang kiranya sangat kuat untuk dijadikan bukti.
Berbeda di ruang tengah, Henny yang merasa bosan dengan acara di televisi, akhirnya memilih meninggalkan Nenek Aruma yang sedang menonton televisi.
Saat itu juga, terdengar jelas ketukan pintu dibarengi dengan suara memanggil. Henny yang mendengarnya pun, ia segera memastikannya.
"Siapa yang datang di siang-siang begini ya Nek."
"Mungkin tetangga sebelah atau siapa, ya sudah kamu bukakan pintunya." Jawab Nenek Aruma.
Henny yang merasa penasaran, ia langsung melihat siapa orangnya yang datang ke rumah.
"Eh Pak RT, silakan masuk." Ucap Henny dengan senyum yang ramah.
"Terimakasih Nak Henny." Jawab Pak RT dan masuk ke rumah.
"Silakan duduk, Pak." Ucap Henny mempersilahkan duduk.
"Ngomong-ngomong ada apa ya Pak?" tanya Henny tanpa canggung, dirinya pun langsung menanyakan apa maksud dari kedatangan Pak RT, pikirnya.
"Ini ada selembaran kertas undangan untuk warga, bahwa besok ada lomba renang di tempatnya Pak Lurah. Siapa tahu saja, suami kamu mau ikut." Jawab Pak RT sambil menyodorkan lembaran kertas pada Henny.
"Kalau boleh tahu, acara apa ya Pak?" tanya Henny kembali karena rasa penasarannya.
"Pak Lurah membuka kolam renang untuk siapa saja yang ingin belajar renang, Nak Henny." Jawab Pak RT, sedangkan Henny mengangguk dan tersenyum.
"Ooh, kirain acara apa. Nanti akan saya sampaikan pada suami Henny, Pak. Kalau boleh tahu lagi, hadiahnya apa ya Pak?"
Lagi-lagi Henny kembali bertanya.
"Hadiahnya ada di lembaran kertas itu, Nak Henny. Semua tertulis sangat jelas, apa hadiah dan keuntungannya." Jawab Pak RT.
"Kalau begitu, terimakasih banyak ya Pak." Ucap Henny dan tersenyum.
"Ya, Nak Henny. Kalau begitu, Bapak pamit untuk melanjutkan pembagian lembaran kertas ini kepada warga yang lainnya." Jawab Pak RT sekaligus berpamitan.
Setelah RT pulang, Henny membaca isi lembaran kertas tersebut.
__ADS_1
"Wah ... hadiahnya besar banget, juara satu sepuluh juta. Tapi ... apa Mas Danu mau?" gumam Henny setengah meragukan jika suaminya akan ikut lomba renang di rumah Pak Lurah.
Karena penasaran juga, akhirnya Henny masuk ke kamarnya untuk menyampaikan pesan dari Pak RT.
"Mas Danu," panggil Henny yang sudah berdiri didekat suaminya.
"Ya, ada apa?" tanya suaminya tanpa menoleh pada sang istri.
"Ini, aku ada mendapatkan selembaran kertas dari Pak RT untuk Mas Danu." Jawab Henny dan menyodorkan selembaran kertas yang ada ditangannya.
"Apa ini?" tanyanya lagi.
"Dibaca saja, nanti Mas Danu akan tahu sendiri." Jawab Henny yang sengaja tak ingin memberitahu pada suaminya.
Dengan seksama, ia membacanya begitu detail dan tidak ada yang terlewatkan.
"Baiklah, besok aku akan ikut lombanya. Jika aku menang, uangnya kita bagi empat, bagaimana? kakak kamu, aku, Nenek, dan kamu."
"Terserah Mas Danu saja, aku hanya bisa doakan agar bisa menang." Ucap Henny.
'Tentu saja aku akan menang, karena kemenangan ku hanya untuk istriku yang sebenarnya, yakni Nanney.' Batinnya penuh yakin.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau istirahat. Jika kamu ingin istirahat juga, biar aku yang akan istirahat di ruang tamu."
"Tidak perlu, habis ini aku mau mengantarkan Nenek Aruma ke tempat orang yang akan menjual perkebunan. Nenek bilang ingin membelinya. Mas Danu istirahat saja di kamar ini."
"Tidak usah, soalnya Nenek Aruma mau sekalian pijat. Jadi, Mas Danu di rumah saja."
"Oh, ya sudah kalau gitu."
"Ya, Mas Danu istirahat saja."
Setelah itu, Henny segera keluar dari kamarnya dan bersiap-siap untuk mengantarkan Nenek Aruma.
"Nek, kita jadi berangkat atau tidak?" tanya Henny dan ikut menonton televisi.
"Ya, jadi. Suami kamu sedang apa? perasaan dari tadi belum keluar dari kamar."
"Mas Danu sedang istirahat, tadi sibuk dengan ponselnya. Aku lihat sih, sepertinya sedang berusaha untuk mengembalikan ingatannya." Jawab Henny yang tiba-tiba menjadi lesu.
"Kamu takut ya, jika kamu kehilangan suami kamu? Nenek yakin jika Danu belum beristri. Percayalah, suatu saat nanti suami kamu bakal jatuh hati dengan kamu." Ucap Nenek Aruma meyakinkan.
"Henny tidak begitu berharap pada Mas Danu, Nek. Niat Henny hanya menolong, tidak lebih." Jawab Henny yang berusaha untuk tersenyum.
"Nenek akan selalu berdoa untukmu, agar kamu bernasib baik seperti kakak kamu, Nanney." Ucap Nenek Aruma.
__ADS_1
"Terimakasih banyak atas doanya, Nek." Jawab Henny dan berusaha untuk tersenyum dan tidak menunjukkan kesedihannya.
"Oh ya, ngomong-ngomong, tadi siapa yang datang ke rumah?" tanya Nenek Aruma ingin tahu.
"Tadi Pak RT yang datang, Nek."
"Mau ngapain Pak RT datang kemari?"
"Memberi selembaran kertas untuk Mas Danu, Nek. Isinya lomba renang." Jawab Henny berterus terang.
"Terus, suami kamu ikut, 'kan?"
Lagi-lagi Nenek Aruma kembali bertanya.
"Ya, Nek. Tadi aku sudah menyampaikan nya pada Mas Danu, katanya sih mau ikut. Terus, tadi juga bilang. Kalau Mas Danu menang, hadiahnya dibagi empat. Kak Nanney, Mas Danu, Nenek, dan Henny." Jawab Henny.
"Kamu punya kesempatan untuk memberi penyemangat untuk suami kamu. Jadi, kamu jangan sia-siakan kesempatan emas ini." Ucap Nenek Aruma menyemangati, Henny pun tersenyum saat mendapatkan saran dari Nenek Aruma.
"Ya Nek, terimakasih atas sarannya." Jawab Henny serasa mendapatkan penyemangat.
Karena waktu yang hampir sore, Nenek Aruma bergegas untuk bersiap-siap.
"Ya sudah, ayo kita siap-siap untuk berangkat. Takutnya nanti yang punya kebon tidak ada di rumah." Ajak Nenek Aruma, Henny mengangguk dan segera berangkat.
Sebelum berangkat, Henny berpamitan terlebih dahulu sama sang kakak.
"Kak Nanney," panggil Henny sambil mengetuk pintunya berulang kali.
Nanney yang dikagetkan dengan suara ketukan pintu serta suara memanggil namanya, Nanney segera membuka pintu kamarnya.
"Henny, ada apa? kelihatan mau pergi." tanya Nanney sambil memperhatikan penampilan adik perempuannya.
"Ya Kak, aku mau pergi mengantarkan Nenek ke rumah orang yang menjual kebonnya. Tidak lama kok, cuman sebentar saja." Jawabanya.
"Kenapa mesti Kamu yang ngantar Nenek? kan, ada suami kamu."
"Nenek mau sekalian pijat, jadi tidak enak jika Mas Danu yang harus menunggu lama."
"Ooh gitu. Ya sudah kalau gitu, hati-hati mengendarai motornya dan jangan ngebut."
"Ya Kak, terimakasih sudah mengingatkan. Henny berangkat sekarang ya, Kak." Jawab Henny dan bergegas pergi untuk mengantarkan Nenek Aruma.
Setelah Henny dan Nenek Aruma pergi, kini tinggallah Nanney dan suami adiknya. Lagi-lagi Nanney kembali ketakutan jika suami adiknya kembali mendekatinya dan melakukan sesuatu yang ditakutkan.
"Aku harus keluar dari rumah ini sampainya Nenek dan Henny pulang. Aku takut, jika dia akan berbuat nekad. Jadi, lebih baik aku pergi ke warung saja akan lebih aman. Setidaknya aku bisa menghindarinya." Gumam Nanney yang merasa ketakutan.
__ADS_1
Karena takut, Nanney langsung keluar dari kamarnya. Naas, saat baru saja keluar, sosok Danu sudah berdiri dihadapannya.