
Waktu makan malam pun telah tiba, Gane dan istrinya segera keluar dari kamar menuju ruang makan. Begitu juga dengan Regar dan Henny, keduanya tengah mengganti pakaiannya. Kemudian, mereka berdua segera turun dan ikut makan malam bersama.
Nenek Aruma yang merasa badannya lebih enakan setelah beristirahat beberapa menit. Kemudian, Beliau diajak oleh seorang asisten untuk ikut makan malam bersama keluarga Huttama.
Alangkah kagumnya saat melihat isi rumah milik dua lelaki yang kini telah menjadi suami Nanney dan Henny.
'Betapa beruntungnya mereka berdua, mendapatkan suami yang sama baiknya, tampannya, dan dari keluarga yang mapan. Semoga rumah tangga mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun yang menimpa rumah tangganya.' Batin Nenek Aruma dan tak lupa memberi doa untuk Henny dan Nanney.
"Nenek, mari ikut saya. Tuan Gane dan yang lainnya sudah menunggu Nenek." Ucap salah satu asisten rumah yang mengagetkan Nenek Aruma tengah melamun.
"Nenek malu, Nak. Apa tidak sebaiknya Nenek ikut makan malam bersama kamu saja, bagaimana? Nenek merasa tidak pantas dan terlalu berlebihan. Mendingan Nenek ikut kumpul bareng bersama teman-teman kamu saja ya?"
"Nenek jangan melucu deh, kedatangan Nenek di rumah ini adalah sebuah kehormatan. Tidak baik untuk menolaknya, Nek." Ucapnya, Nenek Aruma tersenyum malu.
"Tapi, Nenek malu."
"Nenek tidak perlu Malu, keluarga Huttama sudah menganggap Nenek adalah bagian keluarga kami." Ucap Gane yang sudah berdiri tidak jauh jaraknya dengan Nenek Aruma.
__ADS_1
"Nak Gane, Nenek jadi malu." Sahut Nenek Aruma tidak enak hati.
"Nenek, seperti sama siapa saja. Ayo Nek, kita makan malam bersama. Nenek tidak usah malu, sekarang kita sudah menjadi keluarga. Nenek masih ingat nama saya kan, Nek? David." Sambung David ikut bicara dan tidak lupa untuk murah senyum.
"Ya Nek, kami semua sudah menganggap Nenek Aruma bagian keluarga kami. Tidak ada yang dibedakan, siapapun itu." Timpal Regar yang juga ikut bicara.
Sungguh sangat bahagia yang tak terkira, Nenek Aruma yang tidak mempunyai anak, kini Beliau diberi anak yang sangat baik-baik hatinya, penuh kasih dan sayang yang berlipat ganda.
Saat itu juga, Nenek Aruma telah meneteskan air mata bahagianya. Perasaan bahagia yang begitu besar, bahkan sangat sulit untuk di jabarkan. Begitu besar apa yang didapatkannya, sesenggukan Nenek Aruma menangis.
'Nenek kenapa menangis? Nenek tidak perlu bersedih, ada Nanney dan Henny yang akan selalu menyayangi Nenek." Ucap Nanney dan langsung memeluk Beliau.
Karena tidak ingin larut dalam kesedihan, Gane akhirnya membuyarkan suasana yang berasa bersedih dengan mengajaknya untuk makan malam bersama.
Setelah suasana haru, kini menjadi suasana yang penuh tawa dan senda gurauan di ruang makan.
Saat menikmati makan malam bersama keluarga, lagi-lagi Nanney merasa mual saat makanan yang sudah ia kunyah berubah membuatnya tidak berselera makan.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? mual lagi?" tanya Gane dan siap siaga pada istrinya.
"Ya Kak, aku mau ke kamar saja, kepalaku juga terasa pusing." Jawab Nanney sebisa mungkin menahan perutnya yang terasa sangat mual.
"Ajak istri kamu ke kamar, dan tanyakan makanan apa yang disukainya." Ucap Tuan Hardika.
"Ya, Paman. Kalau begitu, duluan aja makan malamnya. Biar aku lanjutkan nanti saja." Jawab Gane disertai anggukan.
Dengan sigap, Gane langsung menggendong istrinya sampai ke kamar. Semua yang menyaksikannya pun, tersenyum. Tetapi tidak untuk Regar, tetap saja hatinya masih ada sosok Nanney yang pernah singgah di hatinya cukup lama.
'Aku tidak munafik, aku pun merasa cemburu ketika Kakak memperlakukan istrinya begitu mesra.' Batin Regar dan segera menghabiskan makan malamnya.
Gemuruhnya didalam dada, terasa sesak untuknya bernapas ketika mengingat kenangan-kenangan bersama mantan istrinya, Nanney.
"Regar," panggil Tuan Hardika membuyarkan lamunan keponakannya.
"Ya Paman, ada apa?" sahut Regar dan bertanya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, buruan menyusul Kakak kamu. Biar Paman bisa menerima keponakan sekaligus dua." Jawab Tuan Hardika sedikit mencoba mengajaknya bicara agar tidak memikirkan Nanney, mantan istrinya.