Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kenyataan


__ADS_3

Gane yang mendapat panggilan dari rumah, segera ia bersiap siap untuk pulang. Sedangkan Nanney tengah memikirkan sebuah cara untuk melarikan diri dari kediaman keluarga Huttama.


"Aku harus pergi dari tempat terkutuk ini sebelum sesuatu yang buruk terjadi padaku. Kebetulan sebentar lagi kedatangan tamu, aku gunakan kesempatan emas ini." Gumam Nanney sambil bersiap siap.


Tidak lama kemudian, Gane sudah berada didalam rumah. Segera ia masuk ke kamarnya, tentu saja ingin beristirahat sejenak sebelum pengacara keluarga Huttama datang.


Sedangkan Tuan Pras dan Tuan Hardika kini tengah duduk bersantai di ruang keluarga.


"Bagaimana, Pras? apakah kamu sudah menghubungi pengacara Willi?" tanya Tuan Hardika pada sang adik bungsunya.


"Sudah, aku sudah menghubunginya. Katanya sedang dalam perjalanan, sebentar lagi juga sampai." Jawab Beliau, kemudian menyeduh kopinya.


"Gane sudah pulang kan, ya?" tanya Tuan Hardika yang belum merasa jika Gane sudah pulang ke rumah.


"Sudah, tadi aku melihat bayangannya ketika hendak menapaki anak tangga. Mungkin saja Gane sedang beristirahat." Jawab Tuan Pras.


"Ya, biarkan dia beristirahat. Nanti kalau pengacara Willy datang, kita panggil Gane." Kata Tuan Hardika, sedangkan Tuan Pras hanya tersenyum.


Cukup lama menunggu, tidak terasa waktu pun telah menunjukkan jam tiga sore. Saat itu juga, terdengar langkah kaki menuju ruang privasi. Tuan Pras dan Tuan Hardika segera bergegas untuk memastikan siapa orangnya yang datang.


Meski sudah memberi perintah kepada beberapa orang yang ditugaskan untuk menjaga keadaan rumah, Tuan Pras maupun Tuan Hardika tetap menyimpan rasa penasarannya.


"Hai, Pengacara Willi? apa kabarnya? sudah sekian lama kita tidak pernah bertemu." Sapa Tuan Hardika selaku anak kedua dari keluarga Huttama.


"Hai juga, Tuan Tuan. Kabar saya seperti yang Tuan Tuan lihat, saya baik baik saja. Tuan Tuan sendiri, bagaimana kabarnya? semoga selalu dalam keadaan baik baik saja." Jawab pengacara Willi.


"Kabar kita satu keluarga baik baik juga, ngomong-ngomong kemana pengacara Elyam? aku tidak melihatnya bersama kamu. Apakah tidak bisa ikut? atau ada sesuatu yang lainnya, semoga baik baik saja seperti kita ini." Ucap Tuan Hardika, tidak lupa juga untuk menanyakan kabar salah satu pengacara kepercayaan keluarga Huttama.

__ADS_1


"Pengacara Elyam sedang ada tugas di lain tempat, tepatnya di luar Negri." Jawabnya sambil memberitahu.


q


"Oh, kirain kemana perginya." Ucap Tuan Hardika. Ketika itu juga, sepasang mata milik Tuan Pras tertuju pada sebuah jam besar yang terlihat begitu jelas.


"Sudah jam tiga sore rupanya, kalau begitu aku mau memanggil Gane sebentar, Kak Hardika dan Pengacara Willi." Ucap Tuan Pras berpamitan untuk memanggil keponakannya.


Di lain sisi, Nanney sudah menyamarkan diri agar tidak diketahui jika dirinya adalah Nanney, istri mendiang putra dari keluarga Huttama.


Sedangkan Gane, dirinya tengah bersantai di atas tempat tidur. Suara ketukan pintu tengah mengagetkannya, Gane beranjak turun dari tempat tidurnya dan segera membuka pintu.


"Paman, ada apa?" tanya Gane beralasan, meski dirinya sudah mengetahui maksud dari pamannya sendiri.


"Pengacara Willi sudah datang, sekarang orangnya sedang menunggu kamu." Jawab Tuan Pras, Gane mengangguk.


"Tunggu aku sebentar saja, karena aku harus mandi dulu. Karena aku tidak ingin salah mendengarkan apa yang diucapkan oleh pengacara Willi." Kata Gane, Tuan Pras sendiri hanya bisa mengiyakan apa yang diminta oleh keponakannya.


"Kok sendirian? dimana Gane?" tanya Tuan Hardika.


"Gane sedang mau mandi, katanya suruh menunggu sebentar." Jawab Tuan Pras, kemudian Beliau duduk di sebelah sang kakak.


"Tidak apa-apa, mungkin saja sedang kecapekan. Tidak perlu buru-buru, karena dalam minggu-minggu ini aku sedang tidak ada tugas apapun." Ucap pengacara Willi, sedangkan Tuan Pras dan Tuan Hardika mengangguk.


Tidak lama kemudian, Gane tengah berjalan mendekati kedua pamannya yang terlihat sedang berbicara dengan pengacara Willi. Saat itu juga, pengacara Willi bangkit dari posisi duduknya untuk memberi salam hormat kepada Gane.


"Selamat sore, Tuan." Sapa pengacara Willi dengan ramah.

__ADS_1


"Silakan duduk," kata Gane tanpa merespon sapaan dari pengacara keluarga Huttama.


"Dimana pengacara Elyam?" tanya Gane saat dirinya sudah duduk dihadapan pengacara Willi.


"Maaf, Tuan. Pengacara Elyam sedang ada tugas di luar Negri. Dan saya yang dimintanya untuk datang ke sini, Tuan." Jawab pengacara Willi, Gane yang mengangguk.


"Silakan untuk memulai pembicaraan pada pokok intinya." Ucap Gane yang tidak menyukai sesuatu yang membuang buang waktu, pikirnya.


"Baik, Tuan. Saya akan memulainya, dan tentunya pada pokok intinya." Jawab pengacara Willi, kemudian segera membuka berkas yang ada didalam tas bawaannya.


Gane masih tetap memperhatikan pengacara Willi yang tengah disibukkan dengan beberapa berkas yang dibawa.


"Begini Tuan, apa yang akan saya bacakan, semua mutlak sudah menjadi keputusan. Jadi, tidak ada satupun yang bisa menghindarinya." Ucapnya di depan penerus keluarga Huttama.


"Ya, tentu saja." Jawab Gane tetap bersikap dengan santai, lagi lagi kedua pamannya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, akan saya bacakan dengan benar." Ucapnya, setelah mendapatkan persetujuan, pengacara Willi melanjutkannya lagi.


"Bagian untuk Tuan Hardika enam puluh persen, untuk Tuan Pras dan mendiang Tuan Riko yang tidak lain ayah dari Tuan Gane sama sama dua puluh persen. Tunggu dulu, saya belum selesai berbicara. Kenapa bisa berbeda? karena Tuan Hardika adalah pewaris utama, sedangkan Tuan Prasetyo dan mendiang Tuan Riko adalah anak asuh dari keluarga Huttama. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat dengan alasan apapun. Rumah ini juga menjadi milik Tuan Hardika, apapun alasannya. Pewaris utama adalah sang pemiliknya. Sebelumnya saya minta maaf, jika keputusan ini memang benar adanya dari sang pemilik keputusan yang bertanda tangan dibawah ini, Huttama." Ucap pengacara Willi dengan sangat jelas, dan menunjukkan buktinya di hadapan Tuan Pras dan Gane.


Saat itu juga, Gane dan Tuan Prasetyo saling menatap satu sama lain. Tanpa berucap sepatah katapun, Gane langsung pergi begitu saja.


"Gane! tunggu." Panggil Tuan Hardika dan Tuan Pras sambil mengejar keponakanya.


"Ada apa lagi, Paman? bukankah rumah ini sudah menjadi milik Paman? untuk apa aku masih berada disini. Aku pun tidak sudi untuk menikmati dua puluh persennya, tentu saja aku akan pergi tanpa membawa apapun." Ucap Gane terang terangan.


"Gane, kamu berhak untuk tinggal di rumah ini. Paman tidak mempermasalahkannya." Kata Tuan Hardika mencoba untuk membujuk keponakannya.

__ADS_1


"Tidak, sekali tidak tetaplah tidak. Aku serahkan semuanya kepada Paman Prasetyo, anggap saja balas budiku atas kebaikan Paman yang sudah merawat aku dan Regar hingga dewasa."


"Gane," panggil Tuan Pras. Sedangkan Gane sendiri tidak peduli apapun atas ucapan dari pamannya.


__ADS_2