
Selesai menyiapkan pakaian untuk Gane, ia bergegas keluar.
Sampainya di bawah anak tangga, Nanney dapat bernapas lega. 'Akhirnya aku bisa keluar juga dari kamar terkutuk itu.' Batin Nanney setelah membuang napasnya dengan kasar. Tanpa ia sadari, ada Vandu yang selalu memperhatikan dirinya.
"Kak Nanney," panggil Vandu sambil berjalan mendekati.
Nanney segera menoleh ke sumber suara, ingatannya kembali pada sebuah perjanjian yang mana didalamnya ada aturan khusus untuk berinteraksi dengan orang orang yang ada didalam rumah.
"Ya, ada apa Van?" tanya Nanney langsung pada pokok intinya.
"Tidak apa apa, cuman ingin menyapa Kakak saja." Jawab Vandu.
"Oh, kirain ada apa." Ucap Nanney.
"Kak Gane tidak ikutan turun?"
"Tidak, orangnya sedang bersiap siap. Maaf sebelumnya, aku mau ke dapur." Jawab Nanney sekaligus ingin menghindari saudara kakak. iparnya.
"Mau ngapain, Kak? kan, sudah ada pelayan untuk menyelesaikan semua pekerjaan. Kakak tinggal duduk santai atau aktivitas yang lainnya." Kata Vandu, sedangkan Nanney pun tersenyum.
"Tidak apa-apa, anggap saja olahraga. Kalau begitu, permisi."
"Ya deh, terserah Kakak saja." Kata Vandu dan tersenyum. Nanney yang tidak ingin mendapatkan masalah dengan kakak iparnya, cepat-cepat pergi ke dapur.
"Hei! kamu naksir ya, sama istrinya kak Regar." Ucap David setelah mengagetkan Vandu dengan sekali tepukan pada bagian punggungnya.
Vandu langsung menoleh ke samping, rupanya David lah yang mengagetkan dirinya.
"Ye, kamu ini. Apa salahnya jika aku naksir dengan perempuan secantik istrinya kak Regar. Apalagi sekarang sudah menjanda, bebas untuk mendekatinya." Jawab Vandu yang mana pandangannya masih mengarah ke dapur.
"Ya juga sih, sekarang kak Nanney sudah menjadi janda. Tapi, ada tapinya loh." Kata David membuat Vandu penasaran.
"Tapi, tapi kenapa?"
"Masih original atau udah bekas, kan sayang kalau tinggal bekas."
"Perempuan secantik dia, tidak ada bedanya dengan yang bekas maupun original. Aku rasa sama aja rasanya, sama enaknya."
"Ehem!"
__ADS_1
Vandu dan David serasa dipergoki, segera keduanya menoleh ke belakang. Namun, sebelum menoleh ia meyakinkan diri agar tidak ada masalah, pikir keduanya
'Semoga saja bukan Kak Gane, bisa berabe ini.' Batin David, begitu juga dengan Vandu yang ikutan tegang.
Seketika, Vandu dan David langsung terkejut saat melihat siapa yang mengagetkan dirinya.
Ingin berteriak, itu tidak akan mungkin. Keduanya memilih untuk meringis.
"Sedang membicarakan siapa kalian berdua ini, ha?" tanya Gane. Vandu dan David saling menatap satu sama lain, seakan keduanya mencari jawaban yang pas untuk dilontarkan.
"Kita berdua hanya ngobrol biasa saja kok, Kak. Tidak ada yang serius, hanya senda gurauan." Jawab Vandu yang akhirnya angkat bicara karena tidak ingin masalah sepele menjadi rumit, pikir Vandu.
Gane tidak meresponnya, ia langsung pergi begitu saja dari hadapan kedua sepupunya.
"Lihatlah, punya seorang kakak seperti robot. Berhenti bicara setelah baterainya habis, menyebalkan." Ucap Vandu, sedangkan David hanya tertawa kecil mendengar Vandu tengah menggerutu.
"Ketawa, lagi. Lihat saja, aku pasti bisa mendapatkan si Janda kembang." Ucap Vandu dengan percaya diri.
"Asalkan bukan kembang layu saja, Kak." Kata David dibarengi senyum seakan mengejek saudara sepupunya.
"Aku pastikan belum layu, aku yakin itu." Ucap Vandu dengan rasa percaya dirinya, lagi lagi David terkekeh geli mendengarkannya.
"Aku ini sedang menikmati hari liburku, Vid. Sedangkan pekerjaan Kantorku sudah ada orang yang dipercaya. Lagi pula, hidup itu harus dibuat senang. Jangan seperti kakak kamu yang satunya, terlalu sibuk dengan dunia karirnya, sampai tidak sadar sudah hampir memasuki kepala empat." Ucap Vandu sambil mengikuti David dari belakang, saat itu juga David langsung menoleh ke belakang.
"Ya juga ya, tapi aku tidak akan sepertimu Kak, dan juga tidak akan seperti kak Gane. Tentu saja, aku akan menikmati hidupku dengan baik." Kata David di hadapan Vandu.
"Ya ya ya ya, aku percaya sama kamu," Ucap Vandu, setelah itu keduanya bergegas ke ruang makan.
Lagi lagi suasana tampak hening, tidak ada satupun yang bersuara diantara semuanya hingga sarapan pagi selesai.
Selesai sarapan pagi, satu persatu meninggalkan ruang makan. Kini tinggal Tuan Pras dan Tuan Hardika yang masih duduk di ruang makan.
"Kak Hardika," panggil Tuan Hardika.
"Ya, ada apa?" sahutnya dan bertanya.
"Aku mau berangkat ke Kantor dulu, dan aku usahakan untuk pulang lebih awal. Katakan sama pengacara keluarga Huttama, datangnya setelah aku pulang. Mungkin jam satu siang aku pulang, bisa lebih jika diperjalanan ada hambatan kemacetan." Jawab Tuan Pras, Tuan Hardika mengangguk dan bangkit dari posisi duduknya untuk kembali ke kamarnya.
Karena tidak ada kegiatan lain selain duduk bersantai, Tuan Hardika serasa hampa.
__ADS_1
"Pa," panggil Vandu sambil menuruni anak tangga.
"Ada apa? rapih banget kamu ini, mau kemana?"
"Aku mau keluar sebentar, Pa. Biasalah, cuci mata." Jawab Vandu dengan santai.
"Tidak ada waktu untuk cuci mata, sekarang juga kamu bereskan semua barang-barang bawaan kamu. Karena setelah semuanya beres, kita akan langsung pulang."
"Secepat itukah kita pulangnya, Pa?"
"Ya, kenapa?"
"Tidak ada apa-apa sih, cuman tanya aja." Jawab Vandu.
"Ya sudah, cepat kamu bereskan barang-barang bawaan kamu. Setidaknya sudah kamu bereskan, cuci matanya setelah kamu pulang." Ucap Tuan Hardika.
"Padahal aku tuh pinginnya tinggal disini untuk sementara waktu, Pa. Ngantor bareng David juga mau-mau saja sih, Pa."
"Alasan apa lagi? apakah kamu menyukai istri Regar?" tanya Tuan Hardika menyelidik.
"Papa seperti tidak tahu saja, sayang sekali jikalau harus diabaikan, Pa. Nanti bisa-bisa dimenangkan oleh David, sayang sekali dong, Pa."
"Jangan bermain bumerang sendiri bersama David, apalagi dengan Gane."
Bukannya mengoreksi atas ucapan dari ayahnya, justru Vandu tertawa mendengar penuturan dari orang tuanya sendiri.
"Papa ini ada-ada saja, kak Gane tidak doyan perempuan. Mana bisa bersaing denganku, kalau David bisa jadi. Secara David sangat normal, dan tentu saja bisa jatuh hati dengan jandanya kak Regar." Jawab Vandu dengan rada percaya dirinya.
"Vandu, yang harus kamu hadapi adalah kemenangan atas kejayaan untuk sukses. Bukan perempuan, ingat itu."
"Papa tidak perlu khawatir, semua akan baik baik saja." Ucap Vandu dengan seringainya.
"Terserah kamu, Papa hanya mengingatkanmu." Ucap Tuan Hardika.
"Papa tenang saja, serahkan semuanya sama Vandu." Jawab Vandu dengan seringainya, kemudian ia pergi dari hadapan orang tuanya begitu saja.
Berbeda di dalam ruang kerja milik Gane, kini dirinya tengah disibukkan dengan pekerjaan yang cukup banyak untuk segera diselesaikan.
Cukup lama Gane tengah disibukkan didepan layar kerjanya, waktu yang ditunggunya pun akhirnya telah menunjukkan waktunya untuk pulang.
__ADS_1
"Akhirnya selesai juga, benar benar sangat melelahkan." Gumam Gane sambil membereskan meja kerjanya.