MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Perjodohan


__ADS_3

"By..."


"Iya Pak, kenapa? Makanan nya ngga enak kah?"


"Aah engga, makanan nya enak kok. Kamu pinter masak rupanya."


"Hehe, Iya soalnya kalo dikampung itu, gadis ngga bisa masak dibilang gadis Bobrok."


"Aah... Seperti itu. Berarti adat istiadat dikampung mu masih kental ya."


"Iya Pak, seperti itu lah. Makanya saya pergi dari kampung untuk menghindari sebuah julukan yang tersemat dalam diri saya selama beberapa bulan ini. Julukan yang begitu menyakitkan."


"Iya. Saya tahu, Diana sudah menceritakan nya. Dan saya minta maaf karna telah menyinggung tentang pacarmu tadi."


"Oh ngga papa Pak, lagian kan Bapak.juga ngga tahu, saya aja yang masih belum bisa move on dari sekarang. Masih saja mengenang Bang Bagas." Ucapku.


"Iya, sekali lagi saya minta maaf By."


"Iya Pak, ngga papa santai aja." Jawabku berusaha mencairkan suasana.


Hampir Dua jam kami bercengkrama menceritakan tentang diri masingh-masing, terutama aku yang memiliki masa lalu menyakitkan.


Untuk saat ini, kami saling support satu sama lain. Dan Pak Edra pun sekali lagi menitip kan Istri nya tercinta padaku untuk ku rawat dengan sepenuh hati.


"Besok kamu bawa Ibu berobat lagi ya By. Saya takut penyakitnya tambah parah."


"Siap Pak, obat Ibu juga udah mau habis, jadi besok harus ambil obat rutin."


"Baiklah, saya percayakan Dia padamu sekarang. Karna aku sedang sibuk dengan proyek baru dikantor."


"Siap Pak... Saya akan rawat Ibu seperti saya merawat kakak saya sendiri. Meskipun sebenarnya saya ngga punya Kakak, tapi saya akan berusaha." Ucapku dengan semangat.


"Yasudah... Udah malam, tidur sana. Besok kesiangan lagi."


"Eh iya Pak... Saya pamit dulu ya." Ucapku dengan membereskan perlengkapan dimeja makan.


Setelah itu, aku kembali ke kamar dan tidur.


.


.


.


Pagi nya, seperti yang sudah direncanakan sebelum nya. Aku dan Bu Diana bersiap untuk kontrol kerumah sakit.


"Hari ini Mas ngga anter?" Tanya Bu diana.


"Maaf sayang. Hari ini ada pertemuan penting, kamu diantar Rubby sama Pak ujang ya." Jawab Pak Edra.


"Iya ngga papa, hati-hati ya Mas."


"Iya sayang, kamu juga hati-hati ya... By, jaga Ibu baik-baik."

__ADS_1


"Siap Pak..." Jawabku padanya.


"Mari Bu, sudah waktu nya berangkat." Ajak ku pada Nya.


"By, kamu bisa nyetir?"


"Ehm bisa sih Bu. Tapi, disini terlalu ramai, saya ngeri." Jawabku.


"Kamu bawa mobilnya, kita berangkat berdua. Pak Ujang, saya sama Ruby aja." Ujar Bu diana.


Ucapan nya membuatku sedikit tertegun dan memikirkan apa yang sebenarnya Bu Diana rencanakan. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang dan tak mempermasalahkan hal itu.


" By... "


" Iya Bu, kenapa? "


" Kamu mau saya jodohkan dengan seseorang?"


"Hah, dijodohkan sama siapa?" Tanya ku.


"Nanti saya akan beri tahu, kamu fikirkan saja dulu matang-matang."


"Kenapa Ibu ingin menjodohkan saya?"


"Tak apa... Hanya saja, belakangan ini saya memikirkan kamu. Kamu seperti belum bisa bangkit dari masa lalu kamu yang menyakitkan itu. Bahkan saya pun pedih jika membayangkan posisi kamu saat ini." Ucap nya lagi.


Aku sangat bersyukur, jika Majikan ku itu begitu perduli padaku. Namun, untuk masalah perjodohan sendiri, aku benar-benar belum siap. Bahkan, melupakan bayangan Bang Bagas pun masih terasa sangat sulit bagi ku.


Aku hanya diam sepanjang sisa perjalanan kami, hingga sampai dirumah sakit.


"Bu, sudah sampai. Ayo turun," Ajak ku padanya.


"Iya By..." Jawabnya dengab melangkah kan kaki menuruni mobil.


Seperti biasa, aku ingin menggandengnya masuk ke dalam. Tapi, tangan nya menepisku.


"Bu Diana kenapa? Tak seperti biasanya begini?" Gumam ku.


Memasuki ruangan dirumah sakit, aku segera mendaftarkan nya untuk bertemu Dokter spesialis. Untung saja, karna memang kami sudah ada jadwal tetap, jadi kami tinggal masuk dan melakukan pemeriksaan.


" Bu Diana... Maaf sebelum nya, apakah Ibu berkenan jika kita lakukan test darah lagi?" Tanya dokter.


"Bagaimana saya bisa menolak Dok... Bukan kah itu kegiatan rutin saya selama hampir sepuluh tahun ini?" Jawab Bu diana dingin.


"Baik lah, silahkan ke laboratorium sekarang, ini surat rujukan nya." Ucap dokter.


Aku tahu Bu diana dalam keadaan lemah. Tapi kenapa hari ini beliau begitu ingin menunjuk kan sisi kuat nya padaku. Karna sedari tadi, Dia melakukan semua nya sendiri dan aku hanya mengikuti nya dibelakang.


Setibanya di laboratorium, Bu diana pun masuk sendiri tanpa mau ku temani.


"Padahal biasanya ingin selalu memeluk ku, saat akan diambil darahnya. Dia kenapa sih." Gumam ku lagi.


Setelah beberapa lama. Ia pun keluar dengan wajah yang mulai pucat.

__ADS_1


"Bu, tidak apa-apa kan?" Tanya ku padanya.


"Tak apa By... Harusnya setelah sekian lama, saya sudah terbiasa dengan jarum itu. Tapi, kenapa masih sakit saja. Bahkan darahnya seperti tak mau berhenti mengalir." Balasnya.


"Ibu, silahkan kembali ruangan dokter. Sebentar lagi, hasilnya akan kami antar." Ucap petugas labor.


Mendengar perkataan nya, kami pun langsung kembali ke ruang dokter.


Sedikit lebih lama untuk menunggu hasil LAB hari ini. Karna sudah hampir satu jam lebih, tak juga. Kunnung diantar.


" Ibu cemas? " Tanya ku, saat melihatnya berkeringat dingin.


"Iya By... Tak seperti biasanya selama ini. Biaasanya hanya setengah jam." Balasnya.


Aku mengeluarkan tisu dan mengusap keringat dari wajahnya.


"Sabar Bu, mungkin banyak yang mereka periksa dari sample darahnya."


"Kamu tahu By? Darah yang diambil tadi banyak sekali, jarum nya pun lebih besar dari biasanya."


"Kenapa Ibu  ngga panggil saya?" Tanya ku.


Sebelum sempat menjawabnya, Dokter memanggil untuk membacakan hasil pemeriksaan.


Kami masuk dengan perlahan, khawatir dengan pembacaan hasil test nya.


"Bagaimana dok." Tanyaku.


"Sepertu yang sudah saya duga... Leukimia yang diderita Bu Diana, sudah naik menjadi stadium Tiga."


"Apa Dok? Bagaimana bisa? Selama ini Beliau memeinum obat rutin dan menjalani kemo sesuai jadwal dengan baik." Jawabku.


"Ya... Seperti itu lah kenyataan nya. Ini hasil LAB nya, bisa membaca nya kan. Sebelum nya, beliau mengatakan jika sering terjadi pendarahan yang abnormal dalam tubuhnya, itu dikarna kan jumlah sel darah putihnya meningkat pesat." Jawab dokter.


"Bagaimana berikutnya Dok? Apa lagi yang akan terjadi pada saya?" Lirih Bu diana.


"Kanker darah yang menyerang di stadium 3 akan menimbulkan  pembengkakan kelenjar getah bening, limpa dan hati diberbagai organ secara bersamaan. Pada tahap ini, penderita kanker darah mulai mengalami anemia. Sebab, produksi darah merah sudah terganggu oleh banyaknya jumlah sel darah putih yang abnormal."


" Berarti... Saya akan lebih sakit dari biasanya? Begitu kan? "


" Kita hanya bisa menunda agar sel kanker nya tidak begitu cepat menyebar ke bagian tubuh lain nya dengan kemoteraphy Bu. " Balas dokter.


" Saya sudah mengikuti semua arahan. Tapi kenapa masih seperti ini? Kenapa bukan nya membaik, justru semakin parah?" Ujar Bu diana yang mulai menangis.


" Bu, sabar Bu... Manusia hanya bisa berencana, semua nya Allah yang mengatur. "


" By! Saya udah sabar, semua proses saya ikuti. Tapi, tapi kenapa masih seperti ini. "


Bu diana berlari pergi meninggal kan ku sendirian diruang dokter.


Aku langsung pamit, dan mengejarnya sesuai arahnya pergi.


" Kemana sih... Cepet banget lari nya," ucap ku dengan kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2