MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Masih saja, menjadi pembicara'an


__ADS_3

Malam mulai larut, namun mereka masih ramai begadang menyambut pesta. Aku yang sudah terlanjur lelah tak mampu lagi menahan kantuk ku.


"Om, Pak... Saya pamit tidur dulu ya,"


"Yaudah... Selamat istirahat ya," balas Om dodi.


Aku menghampiri Rubby, dan tidur lelap disebelahnya, memeluk tubuh mungilnya, dan tak lupa mengecup keningnya. Untunga saja, Ia tak terbangun dengan semua perlakuan ku itu.


"Mas... Udah telpon Kakak belum?"


"Udah sayang... Kakak juga lagi istirahat dirumah. Salam buat Ibu sama Bapak katanya."


Ia hanya berdehem, dan kembali dalam tidur pulasnya.


"Sebelum Mas menelpon nya, Kakak mu sudah mengirimi Wa lebih dulu By. Katanya Mas ngga usah kebanyakan nelpon dirumah." batinku.


Pov Diana.


Aku disini, duduk sambil membaca buku pavoritku. Terasa sepi, namun tenang. Aku tak sendirian, Rara dan Thomas menemani ku.


Sejak kejadian beberapa waktu lalu, mereka trauma dan seolah tak ingin menginggalkan ku sendiri walau sehari saja.


"Dee... Belum tidur?" tegur Rara.


"Belum ngantuk Ra... Thomas mana?"


"Dia lagi sibuk Dee, kerjaan lagi menumpuk. Jadi dibawa sampai kerumah,"


"Maaf ya, udah ngerepotin kalian."


"Eeh... Kok bilang gitu, ini kan tugas kami juga Dee. Kamu pokoknya duduk tenang saja dirumah, terima setiap laporan dari kami."


"Iya Ra..."


"Rubby dan Edra udah nelpon?"


"Ngga ada nelpon... Soalnya, aku Wa duluan tadi ngga usah nelpon. Fokus aja disana," jawab ku dengan tenang.


"Dee... Ma'af, kamu ngga cemburu?"


"Buat apa cemburu Ra? Aku justru bahagia, saat melihat mereka bersama. Aku begitu ikhlas Ra, bahkan aku semakin tenang saat melihat mereka berdua akan memiliki momongan. Perasaan ku semakin lega sekarang."


"Dee... Awalnya aku hanya takut, jika itu hanya keputusan mu dalam keadaan emosi, dan kecewa pada dirimu sendiri. Aku juga takut, jika kamu akan menyesal."


"Kenyata'anya... Aku tak pernah menyesali keputusan itu. Justru aku lebih tenang, dan lebih bahagia sekarang."


"Iya... Aku tahu Dee, semua terlihat dari sorot matamu. Wajahmu pun lebih berseri, cerah dan segar sekarang." ujar Rara.


"Benarkah? Tapi aku botak,"


"Botak cantik... Kamu punya koleksi wig sekarang?"

__ADS_1


"Iya... Itu kerja'an Rubby. Setiap belanja ke mall, lihat wig pasti dibeli'in. Bermacam-macam gaya pula tuh,"


"Kalian memang seperti punya Job desk tersendiri dalam kehidupan rumah tangga yang kalian jalani. Rubby dengan sepenuh hati merawatmu, dan kamu dengan sepenuh hati pasang badan, dan melindungi Rubby."


"Itu tugasku Ra... Aku yang membuatnya diposisi ini. Yaudah... Banyak ngobrol membuatku mengantuk. Tidur yuk," ajak ku pada Rara.


Kami tidur bersama, dan Thomas tidur dikamar tamu. Mereka sahabat ku sejak jaman kuliah dulu. Mereka tahu persis tentang kehidupan ku, kehidupan asmaraku, perusah'anku, dan semuanya.


Keesokan pagi nya.


"Ra... Bangun Ra... Sudah pagi,"


"Iya Dee... Kamu pagi banget bangun nya?"


"Iya... Abis shalat subuh, ngga bisa tidur lagi."


"Iya Dee... Aku langsung mandi juga lah, ngantuk banget rasanya. Kamu mau ikut kekantor ngga? Biasanya males dirumah sendiri,"


"Engga ah... Sekarang aku lebih betah dirumah. Orang tua By buatin aku kebun diteras belakang. By juga beli'in bonsay cantik banget, jadi makin seneng aku ngerawatnya."


"Subhanallah... Kamu dapet keluarga baru yang bener-bener luar biasa rupanya. Semoga ada keajaiban nanti, karna semakin banyak dukungan buat kamu Dee."


"Aamiin..."


Setelah beberapa lama, kami sarapan bersama, dan berangkat ke tugas masing-masing.


Aku menghampiri tanaman kesayangan ku, dan mulai menyirami mereka satu persatu.


Aku menoleh dengan malas, karna aku tehu persis suara siapa itu.


"Bukanya Mama tahu, kalau Rubby dan Mas edra sedang pergi? Ngga perlu basa basi sama Diana. Mama mau apa kemari?"


"Cuma lihat-lihat aja, apa kegiatan kamu selama ngga ada orang dirumah,"


"Jangan bohong.... Ada apa?"


"Dee... Seperti yang kita ketahui, jika Rubby sedang hamil anak edra."


"Terus... Lebih baik kamu mundur dari pernikahan ini,"


"Atas hak apa Mama bilang begitu?"


"Saya ini Mama nya edra..."


"Mama sambung... Ingat itu," balasku dengan tenang. Dan tetap fokus pada bonsai ku.


"Tidak ada Dua ratu dalam satu keraja'an Dee...."


"Tapi bisa begitu banyak selir, dalam satu istana Ma. Mama paham kan?"


"Diana... Kamu jangan membangkang,"

__ADS_1


"Diana ngga membangkang... Diana hanya berbicara apa adanya. Apa karna Mama fikir jika Rubby itu menuruti Mama, jadi Mama juga berfikir jika telah menguasai hati Rubby?"


"Dia nurut sama Mama, ngga kayak kamu. Pembangkang!"


"Lihat aja nanti... Oh iya, Mama ngajak mereka nginep disana biar apa? Biar bisa pengaruhi Rubby gitu?"


"Engga... Biar makin akrab aja. Kamu curiga'an sama Mama."


"Bukan hanya curiga, tapi emang udah ngga percaya."


"Sudah lah Dee... Mama ngga mau debat sama kamu. Mama pusing,"


"Mama ngga... Boleh sakit, ingat kan. Bahaya kalau mama sakit,"


Mama membalik badan dan pergi, tanpa menghiraukan ku lagi.


Perang dingin diantara kami sudah terjadi sejak Lima tahun ini. Saling adu argumen, saling melempar kesalahan masing-masing. Itu kegiatan kami sa'at bertemu.


"Mama tahu mama salah, tapi Mama tak pernah mau mengakui itu. Terlalu keras hati Mama, bahkan menyesal pun tak pernah." gumam ku, dengan memetik beberapa dedaunan yang sudah mulai membusuk di pohon kecilku.


Pov Rubby.


"Ibu, ada masak rendang ngga hari ini?" tanya ku, dengan menghampiri Ibu yang sedang berada dikerumunan para pemasak.


"Masak By... Kenapa? By mau?"


Aku mengangguk, dan meminta sedikit dari Ibu. Dan Ia pun segera pergi mengambilkan nya.


"By... Hamilnya udah berapa bulan?" tanya seorang tukang masak.


"Udah Lima bulan Bu, alhamdulillah."


"Nanti gimana itu, kalau udah lahiran gimana?"


"Gimana apanya?" tanya ku menegaskan.


"Itu... Kan kamu nkkab jadi istri kedua, karna istri pertama ngga bisa punya anak. Nah, kalau anakmu lahir kira-kira bisa naik kelas ngga nanti?" ucap mereka bersahutan.


"Naik kelas bagaimana?"


"Ya naik kelas lah... Jadinya kamu yang jadi nyonya rumah utama dirumah itu."


"Haaah... Bagaimana bisa bilang begitu? Ini anak kami, kami akan besarkan bersama. Ngga ada tahta dirumah itu. Tolong Ibu-ibu jaga bicaranya. Jangan buat acara yang meriah ini jadi ajang bergosip kalian."


"Kami ngga gosip By, itu kan kenyata'an."


"Oke... Bukan gosip... Karna memang saat kita membicarakan orang itu, yang terjadi hanya ada Dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, jika semua itu bohong maka jatuhnya gosip. Dan kemungkinan kedua, jika itu semua benar, maka itu adalah Gibah. Dan kalian sudah menggibah saya secara terang-terangan. "


Mereka hanya diam menatap kemarahanku, dan tak bisa lagi membalas perkata'anku.


Aku bukanya tak mau pulang kekampung selama ini. Tapi, ini salah satu hal yang paling ku takutkan saat berada disini. Ya... Mulut mereka yang tak tahu apa-apa, tapi terlalu banyak bicara. Aku benci mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2