
Disepanjang jalan, Ia menjadi pribadi yang berbeda. Banyak bercerita tentang hidupnya, dan diakhiri dengan kisah itu dengan versinya.
Aku berusaha menjadi pendengar yang baik, hanya agar Ia tak stres, dan melakukan yang tak kami ingin kan sa'at itu.
"Edra tahu? Mama sayang sama Edra?"
"Iya... Sangat tahu, Ma."
"Semua sudah Mama lakuin demi Edra. Demi masa depan anak kesayangan Mama."
"Iya... Terimakasih, atas semua kasih sayang Mama pada Edra."
"Hmmm... Edra mau tahu, semua ini Mama lakukan tanpa sengaja. Mama tidak pernah ada niat membunuh orang sayang. Awalnya, Mama hanya ingin membuat Diana celaka, setidaknya dengan itu Ia lemah, dan tidak akan bisa mengambil perusaha'an itu. Tapi na'as, Ia malah berganti mobil dengan Papa, dan akhirnya orang lain yang jadi korbanya. Lalu, Mama hanya memberi sedikit saus itu, untuk membuat Papa sesak, dan mengancam nya menandatangani pengalihan perusaha'an. Tapi sayang, efeknya terlalu parah, dan lagi, Diana harus ikut campur dan akhirnya jatuh. Mama hanya menggertak, agar Dia pun ikut menandatangani surat kuasa itu, dan Mama pun berjanji akan menyuntikan obat penawar alergi untuk Papa kalau Ia tanda tangan. Tapi, Papa mu terlalu perduli pada Perusha'an itu daripada nyawanya sendiri. Mau menolong dan menghalangi Diana tanda tangan. Tap, akhirnya Dia sendiri yang jatuh dan justru meninggal."
Aku menahan perasa'an ku untuk menjawabnya, hanya tersenyum pahit, lalu menggeretukan rahang dan gigiku menahan amarah. Ku kepalkan tangan ku di setir, agar tetap terkendali, dan fokus menatap kedepan.
Sepanjang jalan, Mama tetap mempertahankan senyumnya padaku, meski aku tahu, Ia takut dan cemas. Terlihat dari sorot matanya sa'at in.
Tiba dikantor polisi, petugas yang tadi memjemput dirumah, segera menyambut kami. Dan meminta Mama dari gandenganku.
"Ma'af... Agar kasus segera diproses, maka kami harus cepat membawa Ibu mirna ke sel, dan melakukan introgasi." ucapnya padaku.
Mama menyerahkan diri dengan senyuman, dan mengarahkan senyuman itu padaku.
"Diana mau Mama diam 'kan sayang? Mama akan diam, dan tak akan pernah mengganggu hidup kalian lagi. Katakan pada Rubby, jaga anaknya baik-baik. Mama sayang cucu Mama." ujarnya, sebelum masuk ke dalam sel.
Meskipun berat, ku langkahkan kaki meninggalkanya, dan berjalan menuju kantorku. Hingga setengah perjalanan, Hp ku berdering.
"Hallo, dengan siapa?"
"Dengan kantor polisi. Ma'af Pak edra, Ibu mirna dalam keada'an sekarat sekarang. Bisa Bapak ke kilinik didekat sini?"
"Apa? Mama? Baiklah... Saya akan segera kesana."
__ADS_1
Aku memutar balik mobilku, dan kemnbali kekantor polisi.
"Bagaimana Mama saya?" tanya ku pada dokter yang menangani.
"Ibu mirna, sepertinya meminum obat Anti Depresan sebelum kemari, dalam jumlah berlebihan. Sehingga berpengaruh pada jantungnya. Ma'af, kami tidak bisa menolongnya. Karna sudah mengenai saraf utamanya. Sepertinya, Ia menahan sakit sejak dari rumah, hingga sesampai nya disini. Beliau sudah ambruk. "
"Mama..... Ma! Kenapa begini Ma? Bangun Ma... Mama ngga boleh begini sama Edra dan Diana." tangisku pecah, disamping tubuh Mama yang terkulai lemas.
Pov Author.
Diana sedang berbahagia, menemani Rubby mengontrol kandunganya. Maganya berbinar-binar, tatkala melihat lembaran demi lembarab foto bayi kecil yang dikandung Rubby.
"Sudah Enam bulan, By. Tiga bulan lagi, Ia akan lahir. Menemani kita, menjadi sumber kabahagia'an tambahan untuk kita bersama." semoga aku masih bisa menyentuhnya.
Rubby hanya tersenyum bahagia, melihat kebahagia'an Diana yang terpancar begitu nyata dihadapanya.
"Kita pulang, Kak? By capek." ajak Rubby padanya.
Ditengah perjalanan mmenyusuri lorong Rumah Sakit. Diana meneriman telpon dari Edra. Sorot wajahnya kembali berubah, dari yang awalnya begitu bahagia, seolah marah dan kecewa.
"Kak? Kakak kenapa? Kenapa begitu syok? Bilang pada By." tanya Rubby dengan cemas.
Diana tak menjawab, hanya diam mematung tanpa ekspresi.
Rubby lalu meraih hp itu, dan kembali bertanya pada edra. Setelah mendapat jawaban, Rubby langsung memeluk Diana dengan erat.
"Kak...."
"Siapa? Siapa yang memberinya Hak untuk mati tanpa menerima semua hukuman itu, By. Dia jahat By, DIA JAHAAAAAAT!" teriak Diana, lalu pingsan.
Rubby lalu memanggil para perawat, dan membawa nya keruangan perawatan. Diana begitu syok, hingga pingsan begitu lama, hampir Dua jam. Hingga Ia sadar, dan meminta Rubby pulang.
"Kakak udah sadar..."
__ADS_1
"By... Pulanglah, urus pemakaman Mama, nanti Kakak menyusul. Kasihan Mas edra sendirian." pintanya.
Rubby menurutinya, dan menitipkan Diana pada perawat, yang memang biasa mengurusnya ketika sedang perawatan dan Kemoterapy.
Rubby pergi, dengan diantar Mas Bima. Menuju rumah Mama mirna, karna disana, jenazah disemayamkan.
"Mas... Kakak,"
"Ya... Mas mengerti." jawabnya singkat.
Tak butuh waktu lama, hingga jenazah dikuburkan. Rubby dan Edra pulang kerumah nya. Dan ternyata, Diana sudah pulang, dan duduk melamun dengan pakaian serba hitamnya.
"Dee..." tegur edra.
"Aku turut berduka cita. Biar bagaimanapun, itu Mama mu." ucap Diana, dengan memeluk Edra. Lalu pergi tanpa ekspresi apapun.
"Kak... Kakak mau kemana?" teriak Rubby yang ingin menyusul. Namun dicegah edra.
"Biarkan saja dulu, nanti Mas yang akan menyusulnya."
Dipemakaman, Diana bersimpuh dismping Pusara Mama mirna. Tanpa tangisan, tanpa senyuman.
"Aku mengharapkan mu diam, diam seperti masaku merasakan penderita'an saat tersiksa bersamamu. Siapa yang membiarkan mu mati? Aku belum memberimu hak untuk mati! Kamu harus merasakan pnderitaan seperti hidupku selama ini. Bangun, dan lawan aku seperti biasanya. Bukankah semangat hidupmu adalah untuk menentangku? Kenapa kamu mati sekarang, sa'at aku baru saja akan melawan? Jangan bersembunyi dalam tidurmu. BANGUN CEPAT! lawan aku sekarang. Karna aku sudah semakin kuat untuk melawanmu!" ujar Diana, tanpa ekspresi, dan tatapan kosong.
Hujan datang, Edra dari belakang menyusulnya, dan memberikan payung diatas Diana.
"Dee..."
"Kenapa kamu biarkan dia mati?"
"Tak ada yang tahu apa rencana nya, Dee. Jika aku tahu, bahwa Ia akan mengkonsumsi obat itu. Maka akan ku halangi."
"Berarti... Dia memang merencanakan itu dari rumah 'kan. Memang itu sudah Ia rencanakan dari awal sa'at menelpon ku kemarin. Baiklah... Selamat bertemu dengan mereka disana. Aku pergi, dan tak akan pernah kembali lagi kemari, sama seperti sa'at aku meninggalkan rumah itu karnamu. " ucap Diana, menatap makam itu.
__ADS_1
Diana dan edra bersama pulang, dengan mobil edra, dan Mas Bima yang menggiring dibelakangnya.