MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Mas edra sok imut


__ADS_3

Para tamu mulai berdatangan ke acara Tujuh bulanan Rubby. Mulai dari Bapak-bapak, sesepuh kampung, dan Ibu-ibu pengajian. Rubby dan edra menyambut tamu diluar, sedang Diana duduk didapur bersama Fitri.


"Kakak ngga nyambut tamu juga" tanya Fitri pada Diana, yang sedang menikmati puding cincaunya.


"Engga... Ini kan acara buat Mas edra sama Rubby. Biarin mereka aja yang nyambut, Kakak disini aja, bantuin kamu. Kalau bisa bantu juga," senyumnya.


"Iya, nanti kalau kecape'an istirahat aja, ya. Fit banyak yang bantuin kok,"


Diana hanya mengangguk dan meng'iyakan, seraya menikmati cemilan malamnya.


Serangkaian acara demi acara selesai, mereka berpamitan pulang setelah makan bersama.


"By... Kakak kemana daritadi ngga kelihatan?"


"Ngga tahu, Mas. Tapi katanya takut kecape'an, jadi dibelakang aja."


"Ada apa Dra?" sahut Bu lilis ditengah mereka.


"Cari Diana, Bu."


"Yaudah, nanti Ibu panggilin. Kalian disini aja, ngga enak sama tamu yang mau pamitan." jawab Bu lilis dengan meninggalkan mereka.


"Dee... Dimana?" panggil Bu lilis dari dapur.


"Dee dikamar mandi, Bu. Bentar lagi kelur," jawab Diana.


*


"Kenapa, Bu?"


"Dicari Edra sama Rubby didepan. Gimana, BAB nya udah lancar kan, ngga berdarah lagi?"


"Alhamdulillah engga, Bu. Udah enakan, dan ngga terlalu mules lagi sekarang."


"Alhamdulillah, semoga lekas sembuh, ya." do'a Bu lilis.


Pov Diana.


"Sembuh? Apa itu sembuh? Masihkah ada harapan untuk itu, bahkan sekujur tubuh yang lain pun sudah ikut digerogitinya sekarang." Batinku.


Aku segera menggandeng Ibu, dan pergi kedepan untuk menemani Rubby dan Mas edra.


"Kemana aja sih, daritadi ngga kelihatan." omel Rubby.


"Ya dibelakanglah, ngapain disini? Nanti kecape'an, ngga boleh juga 'kan," balasku.


"Hhh.. Dasar alasan Kakak nih,"


Acara selesai, semua tamu pulang. Rubby dan aku menuju kamar, sedang Mas edra masib berbincang dengan Ramlan dan Halim tentang proyeknya.


"Besok pulang, Kak?" tanya Rubby.

__ADS_1


"Hmmm, cepet banget? Kakak masih betah disini. Beberapa hari lagi ya? Please," mohon ku.


"Yaudah, nanti bilang Mas. Paling kita disuruh sama Bang Halim aja. Mas banyak kerja'an kata nya," jelas Rubby.


"Hmm dasar, ngajak istrinya liburan. Tapi pikirannya tetep dikerja'an juga." gerutuku.


"Ya... Jadi Dia yang ngomel. Udah yok tidur,"


"Udah bisa mbales omongan Kakak sekarang ya. Udah bisa mbantah," ucapku dengan menyentil dahinya, lalu tidur dengan selimut tebal.


"Mas... Kakak pengen lebih lama disini katanya," ucap Rubby pada Mas edra ketika sarapan.


"Loh, Dee... Lusa kan ada pemetiksa'an lagi, jangan dilewatin."


"Tapi... Masih pengen disinilah," jawabku.


"Dee, pulanglah dulu, nanti biar Ibu kesana kalau lagi ada waktu. Kan sekarang udah gampang aksesnya. Nebeng halim pun bisa," bujuk Ibu.


"Yaudah... Nanti beres-beres pulang," jawabku pasrah.


*


"Udah siap?" tanya Mas edra, menghampiriku dan Rubby.


"Udah... Udah mau berangkat?" tanya ku lagi.


"Yok..."


Kami keluar perlahan dari kamar, terlihat Ibu sedang memasukan beberapa bungkusan dalam mobil. Aku menghampiri dan memeluknya erat, entah kenapa sampai menangis.


"Ngga papa, belakangan ini emang suka kangen aja. Makanya Dee seneng banget tahu Mas mau kesini."


"Oh... Kirain kenapa, Ibu janji sama Dee. Besok-besok bakalan sering kesana. Kalau misal ngga bisa kesana, Ibu kirin makanan kesuka'an Dee saka By aja, ya."


"Iya...." balasku dengan mengusap air mata.


Rubby tak kalah manja nya padaku, hingga Mas edra pun menggelengkan kepala dengan sikap kami berdua.


Perjalanan dimulai, rasa kantuk menyerengku begitu juga Rubby. Kamu tidur berdampingan dikursi belakang, membiarkan Mas bima dan Mas edra bergantian menyetir.


"Sayang... Bangun yuk, shalat dhuhur dulu kita," ajak Mas edra.


Kami pun bangun, dan mengikutinya dari belakang memasuki masjid tempat kami istirahat


Pov Rubby.


"Mas sama Mas bima ngebut ya? Kok tahu-tahu udah sampai sini?" tanya ku.


"Ngga juga, kalian kan tidur. Jadi ngga terasa. Udah yuk shalat dulu,"


Aku dan Kak Dee menuju tempat wudhu, dan membasuh berdampingan.

__ADS_1


"Kak... Kakak mimisan lagi," ucapku, yang terkejut sa'at melihat tetesan darah jatuh.


"By masih kaget aja lihat beginian. Padahal kan, udah sering banget." jawabnya santai.


"Kak... Bagainana bisa sesantai ini sih," ujarku dengan mengelap sisa darah dihidungnya.


"Gimana lagi, orang udah biasa. Lagian ngga ada rasanya dan tanda-tandanya 'kan kalau darahnya mau keluar. Jadi, yaudah." jawabnya lagi.


Darah selesai mengalir, ku gandeng tanganya menuju kedalam masjid untuk shalat berjama'ah.


"Lama banget shalatnya, Mas nunggu daritadi," tanya Mas edra, yang ternhata sudah didalam mobil.


"Iya... Ini nih, Kakak....."


"Shalat lebih lama dan lebih khusyu, bisa menambah pahala, Mas." jawabnya, memotong ucapanku.


Mas edra hanya mengangguk senyum, dan mengusap kepalanya. Lalu kembali mengendarai mobil untuk pulang.


*


*


*


"Aaah... Akhirnya sampai juga, rindu rebahan." ucapku, ketika memasuki rumah.


"Bukanya daritadi tidur?"


"Iya... Tapi kan ngga rebahan. Duduk selama itu pegel banget tahu, tengoklah kaki By, rasa-rasa bengkak." ucapku menunjukan kaki.


"Kok ngga bilang? Kalau gitu kan By rebahan aja, biar Kakak pangku."


"Yang ada, Kakak yang rebahan By yang pangku. Udah ah, males debat. By mau tidur dulu. Ngga tidur sih, paling guling-guling baca novel online," jawabku, kemudian meninggalkanya, dengan mengelus perut besarku ini sepanjang naik kekamar.


Pov Diana.


"Dia kenapa lagi?" tanya Mas edra, heran.


"Ngga tahu lah Mas, istri kecilmu itu. Makin lama makin banyak jawab kalau dibilangin."


"Tapi ngeyelnya ngeyel baik 'kan. Bukan ngeyel ngajak berantem."


"Hhh... Kayaknya kami memang ngga bisa berantem. Seberapa menyebalkan Rubby, Dia tetep imut menurutku," jawabku.


"Mas ngga imut kah?" tanya Mas edra, dengan menyilangkan kedua tanganya, dan menempelkan telunjuknya diujung bibir.


"Ih....apa'an sih, udah tua loh Mas. Sok imut banget" tawa ku padanya.


"Iya... Udah tua, tapi kan Makin menggoda."


"Iish... Apa'an?" aku semakin tertawa geli, lalu meninggalkanya kekamar

__ADS_1


Pov Edra.


"Bahagianya melihatmu tersenyum lepas seperti itu, Dee. Senyum manis yang sangat jarang kamu suguhkan padaku. Akhirnya sekarang aku bisa melihatnya lagi. Haruskah aku menjadi orang bodoh untuk melihatmu selalu tersenyum? Jika iya, aku akan melakukanya untukmu. Demi senyuman, dan tawa itu. "


__ADS_2