MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kematian Papa.


__ADS_3

Seminggu kemudian, Papa dinyatakan boleh pulang meskipun masih dengan perawatan intensif dirumah.


"Saya adalah seorang perawat. Jadi, biar saya yang merawatnya. Kami akan membawanya kontrol sesuai jadwal yang ditentukan." ujar Mama mirna, pada dokter Papa.


"Baiklah... Silahkan salah satu dari kalian mengurus untuk kepulanganya, saya akan tulis jadwal kontrolnya." balas Sang dokter.


Kami mulai sibuk dengan urusan satu persatu, dan memulangkan Papa kerumah. Papa sebenarnya sudah sadar. Tapi masih lemah, hingga tak bisa banyak bicara dan bergerak.


Mama merawatnya dengan baik, itu pengelihatan kami. Hingga suatu hari Papa membicarakan tentang Pengalihan perusaha'an itu kembali. Dan Mama mirna diam-diam mendengarkanya.


"Dee... Besok, Mereka mengadakan rapat kembali, untuk meresmikan semua yang tertunda. Dee saja yang datang, Papa ngga bisa."


"Iya... Dee ngerti. Papa istirahat saja dirumah." jawabku. Papa mengangguk, dan mulai tidur dengan nyenyak.


Sa'at itu, Mas edra sedang keluar kota untuk proyeknya dengan perusaha'an barunya. Sehingga aku tidur sendiri dengan begitu nyenyak.


Paginya, seperti biasa ku antar sarapan untuk Papa dan menyuapinya sebentar. Sa'at makan, tak terjadi apa-apa. Tapi, beberapa menit kemudian, Papa seperti sesak. Nafas, dan wajahnya pucat.


"Pa... Papa kenapa?" tanya ku dengan begitu khawatir.


"Sesak... Sesak sekali," ucapnya drngan nafas tersengal.


Aku segera berlari, dan memanggil Mama, namun tak ada jawaban. Segera kedapur, menemui Pak hadi untuk meminta bantuan. Tapi justru. Ku lihat Ia dan Bik Inah sedang bertengkar hebat.


"Mas... Mas ngga boleh seperti ini, kasihan Tuan. Cukup anak kita yang jadi korban." ujar Bik Inah.


"Iya Nah... Cukup anak kita, dan jangan kamu. Dia mengancamku dengan nyawamu, aku tak ingin itu."


Bik Inah menangis tersedu, dengan tanganya memegang sebuah botol saus, yang aku tahu jika Papa alergi dengan itu.


"Pak Hadi, Bik Inah... Kalian kenapa?" tegurku.


Mereka terkajur dengan kedatanganku, dan Pak hadi dengan sigap mengambil botol saus itu dari Istrinya, dan membawanya pergi entah kemana.

__ADS_1


"Apa itu Bik?" tanya ku.


"Tidak Non... Ma'afkan saya," jawabnya terbata-bata.


Aku yang penasaran ingin mengejarnya, dan memohon padanya untuk menolong Papa yang sekarat. Namun tak terkejar lagi, justru aku terjatuh, dan dan sakit dibagian perutku.


Aku tak memperdulikanya, hanya ingin menolong Papa, dan membawanya kerumah sakit. Meskipun harus aku sendiri yang menyetir. Setelah itu baru aku memeriksakan diriku sendiri.


Aku menuju kembali kekamar Papa, dan ternyata ada Mama disana. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu. Aku berusaha menolong Papa, namun dihalangi Mama.


"Kamu tanda tangani perjanjian ini dulu, baru kamu bisa bawa Papa my kerumah sakit, Dee." ujar Mama dengan wajah datar.


"Ma... Dee janji akan tanda tangan, tapi izinkan agar Dee membawa Papa kerumah sakit untuk pertolongan, kasihan Papa sesak sekali." pinta ku.


"Papa mu ngga akan kenapa-kenapa, setelah kamu tanda tangan. Mama akan memberinya obat penawar ini." jawab Mama dengan menunjukan sebuah jarum suntik yang berisi obat.


"Dee... Jangan, jangan tanda tangan itu." Papa memperingatkan ku.


"Engga, Pa... Papa harus selamat. Dee ngga mempermasalahkan itu semua." jawabku.


Aku yang khawatir langsung menghampirinya, begitu juga Mama mirna. Mama mirna terlihat mulai takut jika terjadi sesuatu dengan Papa, hingga Ia membantuku memgangkat nya bersama dengan Bik inah, dan membawanya kemobil.


Aku dengan rasa sakit itu, menyetir hingga kerumah sakit. Tapi, Papa tak terselamatkan. Dan aku yang pingsan, segara dibawa keruang tindakan karna memgeluarkan darah dari bagian bawah. Janinku gugur, dan tak hanya itu. Ternyata aku pun divonis menderita leukimia sa'at melakukan cek darah lengkap dilaboratorium. Hancur, marah, dan begitu kecewa pada takdir yang menghampiriku.


Tak beberapa lama kemudian, Mas edra datang. Ia menangis disampingku yang terkulai lemah seusai dikuret.


"Dee, kenapa begini?" tangisnya.


"Mas... Dee ngga papa, urus aja pemakaman Papa" ujarku.


Mas edra menurutinya, dan meninggalkan ku di Rumah Sakit itu.


"Ma'af, Pa... Dre ngga bisa nganter Papa, keperistirahatan terakhir," gumamku.

__ADS_1


Setelah pemakaman selasai. Dua hari berikutnya aku diizinkan pulang. Aku mencari-cari Pak hadi, namun tak ditemukan, meskipun aku menyewa orang untuk mencarinya. Namun tak juga ditemukan, hingga rasanya ingin menyerah sa'at itu.


Aku seperti terobsesi padanya, karna misteri tentang saus itu. Aku bertanya pada Bik inah, namun jawabanya mengambang. Lalu membuatku kesal, hingga akhirnya aku tahu, jika Bik inah berada dalam tekanan Mama.


Aku sempat bertengkar hebat dengan Mama mengenai masalah itu, tapi Mama begitu pandai memutar balikan fakta. Ia menuduhku stres karna keguguran dan divonis leukimia. Dan yang lebih menyakitkan adalah, Mas edra hampir mempercayai itu semua.


Hatiku sakit, trauma rasanya, terutama sa'at melihat wajah Mama. Aku tak tahan, hingga akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan rumah itu, dan tak ku sangka, jika Bik inah memutuskan untuk ikut dengan ku.


Semua begitu perih, dan sakit. Semua yang berurusan dengan Mama mirna, perusaha'an, bahkan rumah besar itu, semua ku hilangkan dalam memoriku, meskipun itu sulit. Semua begitu menyakitkan, meskipun hanya sekelebat ingatan yang muncul. Untung saja, aku masih kuat, meskipun sempat ingin mengakhiri hidupku sendiri ketika itu.


Dan kini, demi ketenangan semuanya, aku ingin membukanya kembali, bukan hanya untuk ku, tapi untuk dia yang sudah dikorbankan dalam masalah ini.


***


Kembali.


"Dee... Nelpon kok lama banget?" ucap Mas edra membuyarkan lamunku.


"Oh... Iya, Mas. Ma'af, Udah pada nungguin ya?"


"Iya... Apalagi By tuh, udah kelaperan banget Dia..."


"Iya... Iya.. Yuk makan," aku menggandeng tanganya, dan menuju meja makan.


"Kakak kemana, kok lama banget?" omel Rubby.


"Kakak nelpon tadi. Kamu kalo ngga sabaran ya makan duluan aja, ngga usah nungguin Kakak," jawabku.


"Ngga enak kalo makan rame-rame tapi orangnya ngga lengkap. Apalagi... Yang ngga ada Tuan Rumahnya,"


"Ah... Ada-ada aja kamu ini, By. Kamu 'kan juga Tuan rumah disini. Kamu bebas aja, ngga usah terlalu nungguin Kakak. Mulai sekarang harus bisa mandiri, harus bisa tegas, harus bisa menjaga dan membela diri sendiri. Jangan sampai nanti, kalau Kaka udah ngga ada, kamu ngerepotin orang banyak. Kan nyusahin orang,"


Omelku.

__ADS_1


"Kakaaaaak... Kakak ngapain bilang begitu? Ngga boleh, pamali kalo kata Ibu. Udahlah, ngga usah ngomong lagi. Makan aja," ujar Rubby dengan kesal. Tapi membuatku semakin gemas denganya.


__ADS_2