MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Perasa'an yang bertolak belakang


__ADS_3

"Maliq, sarapan dulu sayang. Nanti kita ngobrol berdua." tegurku padanya.


"Iya, Bu..."


Selesai sarapan, aku membereskan meja, bersama Bik inah. Sedang anak-anak bermain bersama pengasuh mereka. Kecuali Maliq, yang berdiri menatap foto itu kembali.


"Maliq... Ayo, kekamar." ajak ku padanya.


Ku ajak Ia duduk, diranjang, dan berpicara Empat mata. Menanyakan kembali yang Ia utarakan pada Ayahnya tadi.


Maliq menjawab hal yang sama, sesuai yan diceritakan Ayahnya, tak kurang, dan tak lebih.


"Apa perasa'an Maliq, ketika mendapat mimpi itu, Nak?"


"Maliq hanya bingung, Bu. Maliq bertanya-tanya kenapa harus Maliq. Tapi, kata Ayah, karna Maliq itu istimewa. Hanya Maliq yang menerima kasih sayang Bunda. Dan... Bunda pergi setelah beberapa bulan kelahiran Maliq." jawabnya.


"Ya, benar sayang. Makanya, tak lama setelah acara ulang tahun Maliq, Ibu dan Ayah menggelar Do'a bersama, itu untuk mengenang Bunda. Dan sekarang, Maliq mau mengirim Do'a lagi?"


"Iya... Maliq punya tabungan 'kan? Maliq mau sumbangin tabungan itu ke panti, buat Bunda. Ngga banyak, tapi Bunda pasti bahagia."


"Masya Allah... Baik sekali anak Ibu ini." kecupku padanya.


Selepas berbicara, ku hampir Mas edra yang sedang mengurusi tanaman diteras belakang.


"Mas... Mas anter Maliq, ya, Ke makam. Terus, ajak Dia ke panti, atau ke Yayasan juga ngga papa. Katanya... Mau kasih Uang tabungan Dia kesana, tapi atas nama Bundanya."


"Oh ya... Yaudah, Mas siap-siap dulu, ya." ucapnya.


Mas edra pergi, ku gantikan kegiatanya untuk mencari keringat di pagi hari. Karna beberapa bulan menahan emosi yang labil, membuat tubuh dan hatiku begitu lelah sa'at ini.


"Hhh... Setidaknya, rasa kesal sama Mas edra sudah sedikit berkurang. Meskipun, masih banyak kesalnya."


Pov Author.


Edra bersiap, dan menghampiri Maliq yang juga sudah rapi mengenakan baju koko kesayangan nya.


"Wah... Gagahnya anak ayah," puji edra pada putra sulungnya itu.


"Iya lah, yah. Maliq kan cowok, masa cantik." jawab Maliq.

__ADS_1


Edra merangkulnya, dan membawanya kemobil, lalu berangkat bersama kemakam.


"Bunda sakit apa?"


"Bunda, kena Leukimia. Sewaktu Ayah dan Ibu menikah, Leukimianya distadium Tiga."


"Ngga berobat? Ayah 'kan kaya."


"Ayah sudah membawanya berobat kemana saja, dari dalam dan luar negeri. Tapi, karna lelah, Bundamu hanya melanjutkan Kemonya saja, dengan perawatan dari Ibu. Dan, akhirnya Bunda meminta Ayah menikah dengan Ibu."


"Iya... Maliq ngerti." jawabnya, dengan meganggukan kepala.


Maliq belum dewasa, karna baru berusia Sembilan tahun. Yang membuatnya bertanya adalah, rasa penasaran terhadap sosok Bunda yang selalu hadir dalam mimpinya. Hanya itu, mungkin akan timbul pertanya'an lebih banyak ketika Ia beranjak dewasa nanti.


Tiba dipemakaman, edra mempersilahkan Maliq untuk berjalan terlebih dahulu, membersihkan Makam Bundanya, dan membaca Do'a, untuknya. Dan edra hanya memperhatikan untuk sa'at ini.


"Ayah... Maliq udah Do'anya."


"Do'a apa Maliq tadi?"


"Do'a aja, supaya Bunda tenang disana. Maliq janji, Maliq ngga akan nakal disini, akan jadi anak yang membanggakan, dan menjadi penjaga bagi adik-adik Maliq. Seperti yang dikatakan, ketika Bunda nggendong Maliq sambil nyiram taneman." jawabnya.


"Kemana lagi kita? Ke panti, atau ke Yayasan Bunda."


"Ke panti aja,"


"Oke... Kita jalan." ujar Edra, menyetir mobilnya.


Dijalan, Rubby menelpon edra, dan dengan cepat edra mengangkat telpon itu, untuk menghindari masalah.


"Iya sayang,"


"Mas... Kok lama,"


"Ya... Ini mau ke panti dulu. By kenapa? Ada mau nitip?" tanya edra.


"Engga... Kesel aja, Mas belum pulang. Padahal udah daritadi." balasnya.


"Deket kesel, jauh juga dikeselin. Maunya apalah istriku ini?" batin edra, sambil tertawa sendiri.

__ADS_1


"Iya, bentar lagi pulang. Mau titip apa? Rujak, atau yang lain?"


"Engga... Maunya Mas pulang, jangan kelama'an, ya." pesan Rubby.


"Iya..." edra langsung menutup telponya.


"Ibu kenapa?" tanya Maliq.


"Ngga papa. Nanyain aja, kenapa lama."


"Ibu... Sekarang nyebelin, ya?"


"Engga, Ibu ngga nyebelin. Itu bawa'an dedek Bayi. Biarin aja dulu, Maliq bantu hibur Ibu mewakili Ayah. Ibu dulu, dikehamilan Maliq, ngga ngerasain perhatian dari Ayah, karna sibuk ngurusin Bunda. Dikehamilan kedua, meskipun kasih sayang ngga kurang, tapi waktu lahiran Bram, ayah ngga bisa nemenin karna ayah diluar negri. Dan waktu melahir kan Kembarpun, Ibu masih saja tersiksa karna harus operasi. Dan sekarang, Ayah tahu, Ibu pun tersiksa, ketika harus kesel sama Ayah, meski sebenarnya rindu."


"Owh, iya, Yah. Maliq akan jadi penghibur buat Ibu."


Pov Rubby.


"Kenapa lagi, By?" tegur Bik inah.


"Ngga tahu lah, kesel terus hawanya. Sekarang, ditinggal kelama'an pun rasanya kesel banget. Kayak orang dicuekin berminggu-minggu. Padahal, By yang selalu nyuekin Mas Edra 'kan, kenapa jadinya By yang nyesek. Ah... Serba salah." jawabku.


Bik inah hanya tertawa renyah melihat tingkah lakuku yang aneh dikehamilan sekarang.


"By tersiksa lho Bik begini terus. Kasihan Mas, tapi gimana?"


"Bibik hanya bisa bilang sabar. Nanti kalau udah lahiran, kalian akan semakin saling sayang. Karna baru merasakan telah berpisah lama."


"Iya... Rasanya rindu, tapi kalau lagi deket, pengenya marahin. By durhaka ngga?"


"Engga, karna itu tidak By sengaja. Tapi, ketika shalat Do'akan suami mu, dan ketika sedang luluh, minta ma'af sama edra."


"Iya..." jawabku, dengan memeluk baju Mas edra yang bersih.


Ini kah rindu? Rindu yang tak bisa ku lampiaskan, meskipun Ia ada didepan mataku.


Begini rasanya, jika hati, fikiran, dan perasa'an saling bertolak belakamg dengan keinginan. Seperti ada orang lain yang sedang mengendalikan diriku sekarang.


Tersiksa itu pasti, tapi harus kuterima karna keada'an dan konsekuensi dari apa yang ku putuskan sebelum ini. Kehamilan yang berbeda dari yang lian, ketika aku terasa membenci suamiku sendiri.

__ADS_1


"Ma'af, Mas, karna sudah menyiksamu, meski sebenarnya aku juga tersiksa. Terimakasih, Mas. Sudah memahaminya, dan menerima dengan ikhlas keada'an ini. Semoga setelah ini, rasa sayang dan cinta kita akan semakin tumbuh, dan tak pernah lagi ada permasalahan dikemudian hari. "


__ADS_2